Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
306


__ADS_3

Ayah mertua keluar dari gedung pengadilan, kami ikuti dari belakang bu Anjani masih setia berteriak memanggil Dinda dan ayah mertua tapi tidak ada yang mengubrisnya sama sekali.


Padahal kedua tangannya di borgol tapi herannya bu Anjani masih berusaha mengapai kaki ayah mertua, setelah kami sampai di luar gedung kami tidak langsung pulang , kami masih berdiri diluar menunggu bu Anjani dan Ogen pergi baru kami pulang.


Saat kami asyik berdiri di luar petugas membawah Ogen keluar dan masuk kedalam salah satu mobil tidak lama kemudian keluar lagi bu Anjani, Dinda berdiri disampingku baru di ikuti mas Tahir dan kakak Dea.


Bu Anjani menatap kami satu persatu dengan tatapan sinis. Perempuan ini merasa paling benar.


"Kalian yang membuat aku seperti ini, sampai Lexza dan Kenedy tidak tahu ada dimana, lihat saja nanti kalau bukan aku yang membalas perbuatan kalian, Lexza yang akan aku suruh menghabisi kalian, dan kamu anak kurang ajar tidak tahu di untung ternyata selama ini kamu tahu kalau ayah kamu masih hidup tapi kamu justru menyembunyikan dari ibu kandung kamu sendiri, dan diam-diam kalian berdua justru mendukung perselingkuhan ayah kalian, kalian berdua benar-benar tidak punya hati sama sekali. Aku sebagai ibu kandung kalian aku sangat menyesal melahirkan kalian berdua.


Dan ternyata kamu juga dengan tidak punya hati kamu yang membunuh ayah kandungnya Lexza, lihat aja nanti Lexza akan membunuh kamu. Dan untuk kamu perempuan tidak tahu diri kamu jangan senang dulu karena belum tentu kamu menikah dengan dia, kamu tidak tahu dia sangat mencintaku"bentak bu Anjani.


"Sudah berapa kali ya aku harus jelaskan sama anda nyonya kalau ayah itu tidak perna selingkuh, justru anda yang penghianat, makanya jadi perempuan itu jangan kega**an sekarang semua sudah terjadi baru anda menyalahkan orang lain atas perbuatan anda sunggu terlalu.


Lebih baik sekarang anda kembali ke hotel bintang lima untuk istirahat dan menunggu satu minggu lagi sidang, mau anda guling-guling sampai semua kulit anda terkelupas pun tidak ada yang sudih dengan anda, karena semua orang tahu anda adalah perempuan yang paling munafik. Anda pikir aku dan kakak Dea senang lahir dari rahimmu, tidak! Jika aku di suruh memilih lebih baik aku tidak di lahirkan dari rahim ibu jahat seperti anda!"


Dari tadi waktu datang sampai mau pulang istriku yang gercap melawan bu Anjani. Setiap kali istriku mengeluarkan perkataan pasti sangat menyakitkan bagi orang yang mendengar.

__ADS_1


Bu Anjani langsung dibawah masuk kedalam mobil dan berlalu pergi, setelah bu Anjani pergi aku tanya sama kakak Dea mau langaung pulang atau kemana dulu.


"Kakak Dea langsung mau pulang atau mau kemana dulu? Oh ya, kakak. Bibi Lya dan paman Gibran tinggal dimana sekarang setelah rumah itu di segel oleh pihak bank gadungan hehehe"


"Paman Gibran dan bibi Lya mereka tinggal di rumah peninggalan kakek Dav, sebenarnya dari dulu paman Gibran mau tinggal di rumah besar itu karena memang rumah itu kakek berikan untuk paman, tapi karena ayah meminta untuk paman tinggal di rumah saja makanya rumah besar itu di tinggal oleh pelayan ada dua orang dirumah itu, sekarang paman Gibran ada disana tapi sampai sekarang paman Gibran sama sekali belum tahu soal ayah dan bu Anjani, kalau paman tahu pasti sangat terkejut dan marah karena tidak ada yang memberitahunya."


"Nanti saja baru ayah datang ke rumah kakek dan nenek kalian agar bisa bertemu dengan Gibran, dari kemarin ayah rencana mau kerumah untuk membuka semua segel itu tapi belum sempat, jadi rencana setelah dari sini ayah rencana pergi ketemu dengan Gibran dulu baru sekalian ke rumah. Hari ini biarkan Alea dam asisten yang kerjakan semua berkas yang ada di kantor.


Kalian mau ikut tidak rumah peninggalan kakek dan nenek kalian, untuk ketemu dengan paman Gibran? Nanti setelah dari situ baru kita sama-sama ke rumah, sebenarnya ayah rencana mau buat syukuran di rumah, kalau kalian ada waktu boleh ikut ayah tapi kalau tidak bsa juga tidak masalah" ujar ayah mertua


Aku sebenarnya penasaran dengan rumah peninggalan orang tuanya ayah mertua, tapi kira-kira Dinda mau tidak kalau Dinda tidak mau juga tidak masalah mungkin belum jodoh lain kali aja.


"Iya ayah Dinda juga pengen kesana jadi sekalian saja kalau mas Dava ingin ke kantor biar Dinda nebeng aja sama ayah nanti pulang baru dengan pengawal" ujar Dinda


Orang aku juga mau ikut kok, ngapain aku biarkan Dinda pergi sama ayah mertua apalagi pulang bareng pengawal enak aja aku juga ikut kok hehehe.


"Mas juga ikut sayang ngapain nebeng dengan ayah, selama ini mas belum perna kerumah nenek sama kakek jadi sekalian aja lagian ada pak Erik di kantor jadi mas tidak takut kalau mas tidak ke kantor." ujarku.

__ADS_1


"Berarti semua ikut ya nak, yoklah kalau begitu kita langsung aja ke rumah."


Aku dan Dinda masuk kedalam mobil sedangkan ayah dan kakak Dea masuk ke mobil masing-masing, tujuan kami saat ini adalah rumah peninggalan Kakek Winata bagaimana reaksi paman Gibran dan bibi Kya ya saat melihat kedatangan ayah mertua, pasti syok benaran mengetahui fakta tentang ayah mertua.


Sepanjang perjalanan kami menuju ke kediaman paman Gibran, Dinda sesekali melirik aku dan tersenyum entah apa yang membuatnya melirik ke arahku.


"Sayang kenapa dari tadi sayang melerik mas baru senyum-senyum sendiri begitu" tanyaku.


"Dasar Tuan muda tukan cemburu, Dinda itu tahu mas cemburu tadi makanya mas tidak maukan Dinda itu pulang bareng sama ayah dan pengawal, hanya modus aja mas mau ikut padahal karena cemburu" ujarnya Dinda ternyata Dinda bisa membaca gerak-gerik aku, ketahuan deh.


"Memang salah ya sayang mas cemburu karena istri mas dihantar oleh pengewal, ya jelas mas tidak mau dong enak aja sayang mau di antar sama pengawal."


Tidak lama kemudian mobil yang membawah kami berhenti tepat di gerbang sebuah rumah mewah tidak kalah mewah dari rumah aku, satpam dengan sigap membuka pintu saat tahu rombongan siapa yang datang kedua satpam itu benar-benar terkejut bukan kepalang saat mengetahui siapa yang datang, mereka juga sudah berpikir kalau ayah mertua benar-benar sudah meninggal.


"Selamat Siang Tuan apakah benaran ini dengan Tuan Winata, kami tidak salah lihat Tuan? Bukankah kata nyonya Anjani kalau Tuan sudah meninggal karena kecelakaan yang menimpah Tuan"? Tanya salah satu satoam sepertinya ayah mertua akrab dengan kedua satpam itu.


"Hahah ceritanya panjang nanti kita cerita-cerita ya sambil ngopi, oh ya, ada Tuan Gibran didalam?"

__ADS_1


"Ada Tuan" jawab kedua satpam itu dengan eskpresi syok.


Ternyata bu Anjani yang memberitahu mereka kalau ayah mertua sudah meninggal.


__ADS_2