Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
152


__ADS_3

Aku hanya senyum saja mendengar pertanyaan konyol dari kakak Dea yang menurut aku lucu.


Mungkin kakak Dea berpikir aku akan melakukan kejahatan kepada mereka berdua sehingga kakak Dea takut padahal aku bukan orang jahat. Tapi tidak masalah namanya juga manusia harus waspada biarpun itu keluarga sendiri bisa juga melakukan apapun yang mereka mau termasuk melakukan kejahatan jadi tidak heran jika ada kekuatiran dan ketakutan ada dalam benak mereka.


Selama perjalan kami menuju ke tempat ayah mertua sudah tidak ada obralan diantara kami....kami hanya berdiam diri.


Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan aku langsung membelokan mobil kedalam gedung tinggi itu dan memarkirkan mobilnya membuat kakak Dea dan istriku binggung.


"Mas ngapain kita kesini...ini gedung apa sih baru pertama kali aku kesini loh, mas tidak berniat jahatkan sama aku dan kakak Dea."


Pengen tertawa sekuat mungkin melihat reaksi istriku dan pertanyaannya ya Tuhan kenapa imuts banget kalau mukanya di buat begitu. Pengen tak cubit tuh pipi.


"Iya Dav, kamu tidak berpikir untuk melakukan kejahatankan sama aku dan Dinda...Dav aku dan Dinda tidak punya siapa-siapa lagi selain suami kami berdua tolong jangan menjual kami ya ke om-om"


"Haahhah....Ya Tuhan kakak dengan Dinda kenapa berpikir kalau aku ini orang jahat...kakak cantik dan istriku yang paling imuts dan cantik lebih baik kalian berdua diam dan ikut saja aku tidak sejahat itu, apalagi melakukan hal jahat terhadap orang yang sangat aku sayangi. Yuk turus atau mau terus didalam mobil. biarkan pengawal menunggu saja disini."


"Ha....pengawal maksud kamu apa Dav kalian punya pengawal"?


Astaga aku lupa kalau selama ini kakak Dea belum tahu identitas aku kenapa mulut ini tidak bisa di rem sih keceplosan jadinya. Jawab apalagi ya makin ruyem deh...


"Hehehe...maaf kakak maksud aku biarkan mobil disini saja karena ada satpam disini mana ada pengawal. Aku salah bicara tadi kakak."


Untung juga pengawal agak sedikit jauh dari kami jadi kakak Dea tidak curiga dengan alasan ku tapi bisa jadi hari ini adalah hari terakhir aku menyembunyikan identitasku karena ayah pasti jujur sama kakak Dea. Aku melirik istriku yang masih duduk disampingku hanya senyum saja bukannya bantuin suaminya menjawab justru senyum.

__ADS_1


"Gak mau turun lagi dari mobil jadi kita disini saja begitu kalian berdua tidak penasaran begitu aku bawah kalian kemana, cepat turun biar kita masuk"


Akhirnya kakak Dea dan Dinda turun dari mobil dan aku juga menyusul mereka turun, aku langsung gandeng tangan Dinda sedangkan Dinda gandeng tangan kakak Dea, kami bertiga masuk kedalam lift pasti ayah sudah tahu kedatangan kami semoga kejutan ini tidak membuat mereka syok dan histeris saat tahu ayah mertua masih hidup.


Kakak Dea dan Dinda hanya diam saja selama kami ada didalam Lift.


Tidak selang lama pintu lift terbukan dan kami bertiga keluar, seketika mereka berdua saling pandang dan langkah kaki mereka berdua juga terhenti aku memperhatikan wajah mereka berdua mulai tengang.


"Selamat datang Tuan muda...silakan masuk Tuan besar sudah menunggu."


Hmmm aku bilang juga apa belum ayah mertua yang bicara pengawal yang satu ini sudah buka kedokku lagi manggil Tuan muda makin membuat kakak Dea binggung di tambah wajahnya makin tengang mendengar kata Tuan muda Dan Tuan besar.


"Baik" jawabku singkat dan ingin melanjutkan langkahku namun tanganku langsung dicekal oleh kakak Dea dengan tatapan tajam begitu juga dengan Dinda.


"Maksud apa ini Dav...Tuan muda dan Tuan besar kalian mau ngapain? Dan siapa kamu sebenarnya?"


Kakak Dea melepaskan cekalan tangannya dan aku melangkah duluan baru saja kami sampai didepan pintu muncul pak Reno dari dalam menyambut kami bertiga.


"Selamat datang nona dan Tuan muda silahkan masuk, Tuan sudah menunggu dari tadi"


Aku hanya melempar senyum kepada pak Reno dan kami masuk kedalam kami langsung di persilahkan duduk sedangkan seperti biasa ayah mertua memakai topeng dan duduk di kursi kebesarannya tapi membelakangi kami untuk memberikan kejutan kepada kedua putrynya.


" Tuan...mereka sudah datang" ujar pak Reno melaporkan kepada ayah padahal ayah sudah tahu.

__ADS_1


"Apakah pemuda itu sudah bawah kedua gadis itu untuk aku jadikan budak"ujar ayah mertua seketika Dinda dan kakak Dea bangkit bersamaan dan menatap tajam ke arahku, aku yang tatap nyalang begitu justru pengen tertawa kuat.


"Ya ampun ayah bisa-bisanya bicara begitu ngerjain kedua putrynya aku bisa ditelan hidup-hidup oleh putry bungsumu ayah." Gumam ku dalan hati sambil menahan tawa..aku lihat pak Reno juga pengen tertawa dia tapi sama juga kayak aku ditahan.


"Maksud apa mas kamu bawah kami kesini dan kamu ingin menjual kami begitu. Jawab mas kenapa hanya diam, jadi kamu bilang cinta sama aku hanya omong kosong. Kok tega sekali mempermainkan perasaanku dan kamu menipu aku dan kakak Dea." Pekik Dinda


Nah kan ayah mertua sih jadi aku yang kena deh.


"Tuan siapa anda tunjukan wajahmu biar saya lihat jangan bersembunyi disitu salah saya dan adik saya apa sehingga kalian berencana untuk mempermainkan kami, dan kamu Dav aku tidak menyangka kamu sepicik ini aku pikir setelah ayah pergi meninggalkan aku sama Dinda kamu dengan mas Tahir adalah sandaran kami ternyata aku salah, aku menyesal sudah percaya sama kamu...hikss...hikss....ayah..kenapa ayah pergi meninggalkan kedua putrymu hidup menderita begini kenapa kamu pergi tidak membawah kami saja ayaj biar penderitaan ini berhenti sampai disini saja".


Nah kan kena deh ini gara-gara jahilan ayah sih. Kasihan aku melihat kakak Dea dan Dinda menangis


"Sayang, kakak Dea duduk dulu nanti baru aku jelaskan semua tidak seperti yang kakak Dan kamu lihat sayang tunggu sebentar"


"Mau jelaskan apalagi, jelas-jelas tadi dibilang jadikan budak"


Bisa juga begitu ya diselah-selah tangis mereka berdua masih bisa jawab aku kompak lagi.


Aku bangkit dari dudukku dan menghampiri kakak Dea dan Dinda yang lagi berpelukan, aku tahu Dinda tidak takut hanya saja Dinda tahu kakak Dea adalah perempuan yang memiliki fisik dan mental yang lemah makanya Dinda memeluk kakak Dea dengan erat takutnya kakak Dea justru pingsan.


Aku tahu ayah juga sudah tidak tahan ingin memeluk kedua putrynya apalagi didepan matanya sendiri kakak Dea dengan suara nyaring memanggil ayah...kelihatan sekali kakak Dea terpukul dengan kepergian ayah. Aku melihat dengan secara perlahan kursi ada berputar dan menghadap kepada kami


Tapi kakak Dea dan Dinda belum menyadari sampai ayah bersuara baru mereka terkejut.

__ADS_1


"Siapa yang berani membuat kedua putry kesayangan ayah menangis."


"A..ayah....."pekik mereka berdua bersamaan.


__ADS_2