Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
44:44


__ADS_3

Bu Anjani gelagapan saat ditanya oleh pak Erik, takut juga nenek lampir ini. Bukannya tadi sangat arongan.


"Tuan Erik, apakah ini karyawan anda, dia melakukan kesalahan terhadap saya, tadi saat saya baru turun dari mobil, laki-laki miskin ini datang menghampiriku dan merendahkanku dengan kata-kata hinaan. Apakah perusahaan nomor satu dinegara ini sudah tidak berkualitas dan tegas seperti sebelumnya, sehingga mempekerjakan seorang karyawan yang tidak memiliki attitude yang baik. Masa saya tamu terhormat disini direndahlan oleh karyawan rendahan seperti dia, saya minta anda pecat dia, kalau tidak saya tidak mau kerja sama dengan perusahaan ini."


"Ck....dasar perempuan ruba betina, dia yang memulai duluan sekarang dia membalikan fakta, kalau aku yang merendahkannya."


Pak Erik menoleh ke arahku dan sengaja bertanya.


"Pak Dava benarkah begitu yang dikatakan oleh nyonya Anjani"


"Maaf Tuan Erik, aku tidak bisa menjawabnya, tapi apa ia aku seorang karyawan rendahan dan miskin seperti yang nyonya ini katakan bisa memiliki keberanian untuk melakukan hal buruk terhadap tamu terhormat anda? aku memang miskin dan tidak sekaya nyonya bahkan sampai matipun aku mungkin tidak bisa menikmati hidup yang mewah tapi asal anda tahu Tuan Erik aku dari keluarga yang memiliki Attitude yang baik," ujarku


"Nyonya Anjani kenal dengan pak Dava, pak Dava ini karyawan baru di tempat ini, baru dua hari ia kerja disini, lagian apakah anda punya bukti nyonya bahwa karyawan saya ini memang merendahkan anda, kalau ada coba tunjukan. Dan satu lagi kalau nyonya Anjani tidak mau kerja sama dengan perusahaan ini juga tidak jadi masalah. Bukankah nyonya sendiri yang memaksa untuk mimta kerjasama, kenapa sekarang nyonya seoalah-olah mengatakan jika kami yng memaksa anda untuk kerja sama dengan perusahaan Winata grup"


Perkataan pak Erik berhasil membuat bu Anjani emosi, namun aku tahu dia menahan emosi itu sampai mukanya merah merona karena malu juga.


"Tuan Erik, aku rasa anda tidak perlu bertanya kepada nyonya Anjani soal bukti karena pasti nyonya Anjani tidak akan memiliki bukti, gimana kalau Tuan Erik periksa saja cctv disekitaran sini biar pak Erik tahu seperti apa sifat asli dari nyonya Anjani Winata."


Setelah aku berkata demikian aku langsung gegas pergi sedangkan aku melirik bu Anjani makin tengang dan membulatkan matanya sempurna. Mampus kamu


Banyak bukti yang akan aku sebarluaskan agar kalian merasakannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan Erik tidak perlu membuka cctv itu anggap saja tidak terjadi apa-apa, mari kita lanjut membahas kontrak kerja sama kita"


"Loh bukanlah tadi nyonya Anjani sendiri yang mengatakan jika saya tidak memecat karyawan saya yaitu pak Dava, berarti nyonya tidak mau kerja sama dengan perusahaan ini, kenapa sekarang nyonya jadi setuju."


"Tidak apa-apa Tuan Erik, tidak perlu pecat karyawan itu karena saya sudah memaafkannya, saya tidak ingin merendah hanya karena sorang karyawwan miski sperti dia tadi."


"Wah....saya baru tahu, ternyata nyonya Anjani punya pandangan yang luar biasa ya, kasih julukan untuk karyawan diperusahaan ini, nyonya kami di perusahaan ini, baik itu jabatannya tinggi ataupun Rendah, kami tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lain, tidak ada karyawan rendahan dan orang miskin dinegara ini jika kita sebagai orang yang memiliki uang tidak serahkan dan makan sendiri"


Good job pak Erik. Mampus kamu mak lampir, kata-kata pak Erik menusuk di jantung ngenah di hati.


Bu Anjani yang mendengar perkataan pak Erik tercengang, bu Anjani merasa tersindir, namum secepatnya ia sadar dan tersenyum.


Aku melihat pak Erik dan bu Anjani masuk kedalam lift dan aku yakin mereka akan masuk ke ruangan pak Erik untuk membicarakan kontrak kerjasama. aku diam-diam menyelinap masuk kedalam ruangan Ayah melalui pintu rahasia.


Karena aku dengan pak Erik sudah sepakat pada saat bu Anjani datang kamera tersembunyi antara ruangan ayah dengan ruangan pak Erik akan di aktifkan, jadi apapun yang mereka lakukan aku mengetahuinya semua, saat aku aktifkan kamera ternyata aku melihat mereka baru memasuki ruangan pak Erik, belum di persilahkan duduk, dengan tidak tahu malu dan etikanya, bu Anjani langsung membuang bokongnya diatas sofa yang tersedia di ruangan pak Erik.


Sebenarnya kalau ditanyain soal marah jelas aku marah karena bukan hanya di tampar ini justru menfitnah aku lagi, tapi aku harus sabar dulu.


Aku melihat belum ada persetujuan untuk tanda tangan kontrak dari mereka, namun bu Anjani mengajutkan syarat sebelum tanda tangan kontrak dilakukan"


"Tuan Erik, jelas Tuan tahu kalau perusahaan Winata grup adalah perusahaan besar tidak kalah dari perusahaan Adinata. Hanya saja masih beruntung Perusahaan Adinata masih unggul nomor satu, kita tidak tahu kedepannya seperti apa bisa saja perusahaan Winata grup unggul nanti, jadi sebelum kita tanda tanggan kontrak aku minta satu permintaan"

__ADS_1


Aku melihat pak Erik senyum kikuk sambil mengelengkan kepala, melihat kesombongan seorang bu Anjani.


"Nyonya Winata....saya tahu kinerja Tuan Winata sebelum dinyatakan meninggal. Oh ya turut belah sungkawa karena tidak sempat hadir waktu itu karena Tuan besar ada di luar negeri waktu itu."


"Tidak masalah, itu bisa di atur, lagian kalau orang yang sudah meninggal mau kita apakan lagi."


Pak Erik menatap bu Anjani dengan tatapan tidak suka dengan ucapan bu Anjani masa suaminya meninggal dengan entengnya berkata begitu.


"Jadi maksud saya disini Tuan Winata saja kinerjanya bigetu bagus dan tidak perlu diragukan lagi semasa hidupnya saja tidak bisa menyaingi perusahaan ini, apalagi sekarang perusahaan Winata tidak memiliki pemimpin, eh maksud saya tidak memiliki pemimpin yang bisa dipercaya!."


"Deg......."


Haha mantap pak Erik jadi tersentilkan perempuan ruba, lagian sombongnya kebangetan sih.


Awalnya bu Anjani senyum sambil menyombongkan diri, tiba-tiba senyum itu hilang seketika, mampus.


"Jadi maksud Tuan Erik saya tidak bisa bekerja begitu kah, Tuan Erik yang terhormat ingat anda disini hanya bawahan bukan bosnya masih untung saya menghormati anda, tapi bisa-bisanya ada sama sekali tidak bisa menghormati saya justru anda merendahkan saya, sekarang saya minta anda menelpon Tuan Adinata saya mau bicara langsung denganTuan Adinata saya tidak sudih tanda tangan kontrak dengan Anda"


"Maaf nyonya Winata Saat ini Tuan saya tidak bisa di ganggu karena beliau lagi diluar negeri ada melakukan perjalanan bisnis disana, lagian dari dulu juga saya yang mengurus semuanya, jadi maaf nyonya saat ini tidak bisa"


"Anda telpon aja biar saya bicara masa tidak bisa sih."

__ADS_1


__ADS_2