Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
397


__ADS_3

Pov Author.


Setelah mendengar penjelasan dari Dava dan Gama tiba-tiba air mata nyonya Ziya tak terbendung, bahkan Dava mengijinkan nyonya Ziya masuk kedalam ruangan Tuan Adinata. Sebagai istro yang sudah menemani suaminya bertahu-tahun nyonya Ziya jelas siap untuk masuk kedalam ruangam suaminya yang saat ini masih koma.


Dava memeluk nyonya Ziya dan meminta maaf karena gara-gara Dava Tuan Adinata mengalami kecelakaan itu, namun jawaban nyonya Ziya di luar dugaan sehingga Dava dan Gama terkejut di tambah terharu membuat kedua anak laki-lakinya meneteskan air mata.


"Ibu tidak perna menyalakan kamu, jika ayah kamu menolong kamu itu suatu kewajiban seorang ayah untuk melindungi putra nya dari bahaya, walaupun nyawah taruhannya, kalau seandainya saat itu ibu yang ada di posisi ayah kamu pastinya ibu juga akan melakukan hal yang sama, perjuangan seorang ayah dan seorang ibu bukan masalah sepeleh nak ayah kamu sudah menunjukkan cintanya kepada kamu. Betapa sayangnya ayahmu sama kamu jadi saat ayah kamu menolong kamu dia tidak memikirkan nyawahnya dia hanya memikirkan keselamatan putra nya.


Berbahagialah kalian berdua jika ayah dan ibu kalian tidak memandang status kalian berdua nak, baik sudah menikah bahkan sudah punya anak atau belumnya tidak ada bedahnya, yang membedahkan adalah setelah kamu menikah ibu dan ayah lepas tanggung jawab dan tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga kamu. Tapi kalau soal urusan lain ayah dan ibu mu masih memantau mu, kamu dengan Gama adalah putra-putra ibu dan ayah selama ini ayah selalu memperhatikan kalian berdua khususnya Gama yang masih sendiri kehidupan kamu masih sepenuhnya tanggung jawab bibi dan paman, ayah dan ibu kamu. Jadi jangan merasa bersalah kita doakan ayah kamu biar cepat sembuh."


Dava dan Gama tidak bisa menahan air mata mereka berdua sehingga Dava dan Gama memeluk nyonya Ziya dengan erat , karena sibul dengan menangis mereka tidak menyadari Tuan Kasman sudah keluar dari ruangan begitu pula Andy dan sekretaris Criss yang sudah dari tadi menonton mereka. Ternyata Dava dan Gama cengeng juga buktinya mereka menangis.


"Makasih ya bi, sudah menyayangi Gama seperti papi dan mami menyayangi Gama selama ini. Gama bersyukur bisa punya dua ibu dan dua ayah yang selalu melindungi kakak Dava, Gama dan adik-adik tapi yang membuat Gama makin sedih kenapa Gama selalu kalah dari kakak Dava bi, kakak Dava sudah sukses punya kekayaan banyak, tambah punya istri cantik seperti kakak ipar sekarang punya sih kembar kalau Gama dengan kakak Dava bersaing Gama kalah dari semua segi, hanya satu aja yang Gama melebihi kakak Dava segi ketanpanan kakak Dava kalah hehehe." ujar Gama


Pukkkkk!


Astaga Gama....Gama bisa membolak balikan suasana dari suasana sedih haru kembali menjadi suaranya sukacita , tidak bisa Dava tahan lagi sampai Dava memukul bahu Gama bisa-bisanya dia bilang dia lebih tanpan dari Dava, tapi ya bagus juga sih karena gara-gara ocehanya membuat nyonya Ziya tertawah.

__ADS_1


"Enak aja bilang lebih tanpan dari kakak kamu, kalau memang kamu lebih tanpan kenapa sampai sekarang belum ada yang datang ke rumah cobak, kamu itu juga Tuan muda kaya raya punya segalahnya perusahaan aja besar dan bukan cuman satu, jadi jangan bilang kalau kakak orang kaya dan sukses, karena yang kakak miliki sekarang itu bukan punya kakak bukan hasil keringat kakak melainkan itu hasil keringat ayah dan ibu."


"Oh jelas Gama yang lebih tanpan dong, kakak mengalah aja napa? Biarpun itu hasil usaha paman dan bibi tapi untuk siapa lagi kalau bukan untuk kakak seorang, lagian nih ya kakak, kakak juga jangan lupa kalau yang Gama miliki saat ini adalah warisan dari kakek dan hasil keringat ayah dan ibu juga jadi kita impas bukan" ujar Gama tidak mau kalah.


Gama dan Dava terkejut saat melihat orang-orang yang berdiri di sekeliling mereka. Sebenarnya ada rasa malu campur dengan rasa geli karena seorang Tuan muda menangis di tonton oleh karyawan. Tapi Gama dan Dava tidak peduli mereka santai.


"Loh ayah, pak Andy, sekretaris Criss sejak kapan disini, Gama pikir ayah masih di dalam ruangan, kok tidak tahu kalau semua sudah berdiri disini?" ujar Gama terkejut.


"Sudah dari tadi Tuan muda Gama, selamat malam nyonya, Tuan muda Dava, Tuan Kasman. Maaf kami baru sampai " Ujar Andy dan sekretaris Criss hampir bersamaan.


"Makasih sekretaris Criss dan Andy sudah datang kesini, tidak masalah" ujar nyonya Ziya.


"Mbak, kenapa tidak istirahat saja besok aja baru ketemu mas Edy, mbak masih sakit "


"Tidak apa-apa Man, mbak-mu ini sehat jadi biar mbak-mu menjenguk mas mu, dari tadi pagi mbak belum ketemu dengan mas mu." Ujar nyonya Ziya.


"Ya sudah kalau begitu mbak masuk lah siapa tahu dengan adanya mbak mas cepat sadar, soalnya dari tadi belum ada tanda-tanda untuk sadar mbak." Ujar Tuan Kasman.

__ADS_1


Nyonya Ziya bangkit dari duduknya dan gegas masuk kedalam ruangan Tuan Adinata, sebelum itu harus ganti baju steril dulu biar bisa mendekati pasien, dari tadi Gama mau masuk tidak jadi karena nyonya Ziya keburu datang tidak masalah nanti setelah nyonya Ziya baru Gama masuk.


"Tuan muda! Bagaimana dengan perkembangan Tuan besar, apakah masih membutuhkan donor darah? Soalnya ada teman saya ternyata punya darah AB juga" ujar sekretaris Criss.


"Makasih sekretaris Criss tapi sementara waktu sudah cukup, tapi kalau memang teman sekretaris Criss mau boleh sumbangkan darah ke rumah sakit siapa tahu bisa membantu pasien lain. Makasih ya Ndy sudah datang menjenguk ayah seharusnya besok aja baru datang karena besok ada perwakilan dari karyawan perusahaan datang kesini katanya".


"Tidak masalah brow, besok itu bedah lagi harinya jadi besok aku datang lagi juga tak masalah."


Di dalam ruangan nyonya Ziya berjalan mendekati, Tuan Adinata dengan berlinang air mata nyonya Ziya duduk di samping ranjang dan memengang tangan Tuan Adinata sambil mengelusnya tangannya.


"Pah...kapan papa sadar ternyata tadi padi perasaan ibu tidak enak itu karena papa, ibu pikir hanya perasaan ibu saja namun ternyata papa yang sudah melakukan sesuatu yang sangat istimewah. papa tidak takut kehilangan nyawah demi menolong dan melundungi putra kita pah, makasih ibu semakin bangga punya suami seorang pahlawan yang siap siaga melindungi putra kita, cepat bungun pah soalnya putra kita merasa bersalah saat melihat papa seperti ini, apakah papa tega membiarkan ibu sendirian begini ibu tidak bisa pah cepat lah sadar. Ingat kedua cucu kita lagi menunggu papa pulang" ujar nyonya Ziya.


Nyonya Ziya masih setia di samping Tuan Adinata, sambil mengelus lembut tangan Tuan Adinata sebenarnya nyonya Ziya hancur hatinya tapi tetap berusaha tegar agar Dava tidak merasa bersalah.


"Pah...ingat papa selalu bilang kalau papa tidak akan meninggalkan ibu sendirian dan papa juga tidak akan membuat ibu menangis tapi kenapa sekarang papa melangar semua itu, buktinya sampak sekarang papa tidak mau membuka mata apakah papa tidak menyayangi ibu lagi dan anak-anak pah, sampai papa tidak mau buka mata, papa jahat....papa sangat jahat cepat lah bangu kalau tidak ibu tidak akan keluar dari ruangan ini"


Dava yang sementara di luar mendengar semua omongan nyonya Ziya, membuat hati Dava kembali remuk rentan rasanya tidak berdaya melihat ibunya terpukul dengan kejadian yang menimpah ayahnya Dava sedih.

__ADS_1


"Ibu...tadi ibu berusaha memberikan kekuatan kepada Dava seoalah-olah ibu baik-baik saja tapi ternyata ibu menyembunyika semua luka itu didalam hati ibu, maafkan Dava bu maafkan Dava." Gumam Dava dalam hati.


Kali ini nyonya Ziya paling lama di ruangan biasa orang kaya mah bebas, hampir satu jam nyonya Ziya di ruangan Tuan Adinata akhirnya keluar juga dari situ, nyonya Ziya langsung meminta dokter Untuk memindahkan Tuan Adinata ke ruangan nyonya Ziya kalau sudah siuman kalau sekarang jangan dulu takutnya terjadi sesuatu dengan Tuan Adinata.


__ADS_2