
Pak Erik menyuruh pak Zaka pulang ke rumahnya dan satu minggu lagi baru kembali bekerja tapi bukan sebagai kepala ob melainkan diturunkan menjadi kembali seperti semula.
"Sekarang pak Zaka pulanglah nanti minggu depan baru datang lagi kesini tapi ingat jangan lakukan apa-apa sebelum pak Zaka mendapatkan perintah dari saya. Satu lagi ini masih saya maafkan karena pak Dava tidak mau saya memecat anda, pak Dava masih memiliki etikab baik kalau tidak sudah saya pecat, kalau pak Zaka mengulangi lagi kesalahan ini saya tidak sengan-sengan memecat anda."
"Makasih Tuan, makasih pak Dava maafkan saya sudah lancang, saya janji saya tidak akan mengulangi hal yang sama"
Akhirnya pak Zaka pulang tinggallah aku sama pak Erik tapi aku harus jalan kaki beberapa meter lagi baru bisa naik mobil, besok bu Anjani akan datang kekantor jadi aku sengaja membiarkan dirinya melihatku nanti pas aku lagi kerja sebagai ob, aku mau melihat reaksinya seperti apa, karena selama perusahaan Winata belum jatuh ketangan istriku aku belum menunjukan siapa aku. Besok biarlah pak Erik saja yang ketemu dengan perempuan itu.
Aku berjalan kedepan setelah itu tidak lama pak Erik datang, aku langsung masuk kedalam mobil takutnya ada yang melihat hehehe....aku kayak pencuri aja naik mobil sendiri aja harus ngumpet-ngumpet. Tapi tidak masalah asal hak istriku kembali aku lakukan ini demi istriku. Sebenarnya tidak perlu aku ambil perusahaan itu juga istriku tidak pernah kekuarangan tapi ini menyangkut hak seseorang jadi itu hak istriku untuk mendapatkannya.
Akhirnya aku pulang ke rumah karena tadi Dinda sudah telpon bertanya aku sudah sampai dimana, tapi aku bilang masih di jalan, hummm baru tinggalkan setengah hari aja sudah kangen apalagi berhari-hari.
"Tuan...maaf sekali lagi saya tanya apakah Tuan serius menanamkan saham di perusahaan Winata grup, Tuan harus tahu kalau nyonya Anjani adalah perempuan yang sangat licik, Tuan dia bisa menghalalkan segalah cara untuk menaklukan lawannya."
"Terus menurut pak Erik gimana, apakah kita tidak perlu menanam saham di perusahaan Winata grup?" tanyaku meminta pendapat pak Erik karena aku tahu pak Erik memiliki seribu cara untuk bisa mendapatkan perusahaan itu.
"Kalau menurut saya memang itu jalan terbaik Tuan dengan menanamkan saham lebih besar di perusahaan itu dengan begitu kita memiliki peluang besar untuk bisa mengirimkan orang dalam kita kesana."
"Bagus kalau begitu aku setuju pak Erik."
__ADS_1
Aku sudah tidak sabar pengen cepat pulang kerumah kira-kira seharian istriku ngapain ya dirumah, tadi lagi mau aku antar ke mall justru tidak mau katanya nanti aja masih pengen istirahat karena gengnya Ririn selalu lengket dengan istriku. Tidak lama mobil berbelok masuk kedalam halaman rumah setelah gerbang utama di buka oleh satpam.
Saat aku keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah ternyata istriku sudah mandi bersih berpenampilan cantik dengan senyuman manis sudah menyambutku didepan pintu, ya ampun bahagianya pas pulang kerja cape dari luar tapi pada saat sampai dirumah sudah disambut hangat oleh istriku. Cape ku langsung hilang seketika
Dinda langsung mencium tanganku dan mengandeng aku masuk kekamar untuk mandi namun semua sepupu dan ponakanku menatap kami berdua sambil senyum-semyum.
"Kak Dava bisa tidak menghargai sedikit perasaan kami para jomblo ini jangan mengotori mata kami yang masih suci ini hahaha...."
"Iya nih kak Dava tidak bisa menjaga perasaan kami."
Astaga memang benar-benar nih kedua bocah tengil ini suka sekali cari sensasi akan aku buat mereka makin panas. Kurangkul Dinda dari belakang dan kucekup keningnya, sekarang bukan hanya mereka yang teriak tapi pipi Dinda justru merah merona hahaha.
"Mas jangan malu tahu" ujar Dinda.
"Gama...Ririn adik-adiku bukankah umur kalian juga sudah pas untuk menikah, umur dua puluh dan sembilan belas tahu itu sudah sangat matang loh. Cari dong istri dan suami kalian biar tidak melihat kami seperti ini" aku justru mengodah mereka.
Tunggu dulu dari tadi aku hanya melihat bocah-bocah ini sedangkan yang lain pada kemana kok tidak kelihatan ini sudah jam lima, sedangkan semua mobil masih di garasi, kemana ayah dan yamwg lain tidak kelihatan.
Aku mengalihkan pandanganku ke Gama dan Ririn minta jawaban, ternyata Istriku yang lebih paham dengan tatapanku akhirnya dia yang menjawab.
__ADS_1
"Mas cari ayah dan yang lain ya, mereka ada di kolam belakang katanya sebentar kita akan adakan acara bakar-bakar disana jadi sebagian pelayan lagi mempersiapkan semuanya, tadi Dinda disana juga tapi kata ayah dan ibu Dinda harus banyak istirahat dan mandi saja tidak perlu ngapa-ngapain"
"Oh pantas aja mas tidak melihat mereka disini sayang, memang mau bakar-bakar apa sayang, terus ada acara apa rupanya. Ayah dan ibu tidak bilang sama mas"
"Iya mas ibu sengaja tidak bilang karena ibu tahu mas sibuk, lagian yang siapkan semua pelayan dan chef jadi tidak ada yang perlu di kerjakan. Terus kata ibu ini hanya acaran kecil merayakan kepulangan mas dan aku"
"Baiklah kalau begitu kita kekamar dulu sayang temani mas mandi, nanti setelah selesai baru kita temui ibu dan yang lain"
Aku dan Dinda gegas pergi meninggalkan bocil-bocil yang ada di ruang tengah mereka lagi sibuk dengan hp masing-masing memang anak zaman sekarang. Baru brojol aja sudah tahu menggang hp, eits....aku juga hehehe.
Setelah sampai didalam kamar aku langsung mandi karena memang badan ini sangat gerah sekali, jadi aku juga sudah tidak betah tenyata istriku sudah siapakan air hangat untukku, memang istri terbaik.
"Mas air hangatnya sudah aku siapkan mas langsung mandi gih, biar segar lihat tuh muka mas kusut banget hehehe"
Astaga istriku suka kali mengodah suaminya untung aja aku mau kebawah kalau tidak habis dia ku makan.
"Awas aja kamu ya sayang, mas akan menghukuman kamu nanti ."
"Memangnya mau kasih hukuman apa coba, kalau berani Dinda lapor ibu sama ayah kalau mas hukum Dinda"
__ADS_1
Astaga istriku sekarang sudah mulai nakal ya, sudah mendapatkan pembelaan sempurna dari ibu, jadi nanti akulah yang akan disalahkan.
Dinda sudah dapat kebahagiaan di rumah ini, biarlah dia senang apapun yang dia lakukan asal itu yang membuat hatinya bahagia. Aku tidak masalah aku tidak mau dia merasakan penderitaan sama seperti waktu masih tinggal bersama di rumah keluarga Winata.