
Untung tadi sebelun perempuan tua itu datang aku dengan Dinda sempat makan walaupun belum selesai tapi setidaknya kami sudah isi perut, kalau tidak kami berdua bisa kelaparan karena hilang mood kami.
Karena aku penasaran akhirnya aku tanya sama Ririn kenapa tiba-tiba masuk ke ruangan ini.
"Rin, tadi kamu dari mana kok bisa masuk kesini"? Tanyaku.
"Kakak tadi itu Ririn lapar jadi rencana mau turun ke bawah untuk makan, sebenarnya rencana Ririn mau minta tolong sama ob untuk antar tapi biar saja pikirku makanya Ririn hendak masuk Lift, pas dengar suara kakak Dinda makanya Ririn lari datang kesini ternyata Ririn terkejut melihat ruangan kakak sudah berantakan.
Lagian kakak juga sudah tahu perempuan egois itu akan membuat kakak ipar marah tapi kenapa kakak biarkan dia masuk sembarangan kesini sih. Seharusnya kakak usir saja dari awal dia masuk seret dia keluar apa gunanya ada pengawal disini sedangkan kakak ipar merasakan sakit seperti ini.
Awas saja kalau sekali Ririn ketemu dengannya Ririn yang seret dia kalau kakak Dava dan kakak ipar tidak mau seret dia keluar dari sini biar Ririn yang lakukan."
"Ha...kok jadi kamu ceranahin aku Rin, aku itu nanya bukan menyuruh kamu ceramahin aku" ujar ku heran lihat anak ini ceramahin aku.
"Bukan Ririn ceramahin kakak Dava tapi Ririn kesal sama kakak Dava membiarkan perempuan itu asal masuk kesini kalau terjadi sesuatu dengan kakak ipar bagaimana, kakak Dava pak Erik dan Amasisten Arfan menjadi pelaku utama. Karena membiarkan perempuan itu masuk kesini Ririn akan melaporkan masalah ini ke bibi dan paman, kalau tadi kakak ipar hampir di celakai oleh perempuan tua itu biar kakak tahu rasa di marahin bibi dan paman."
Aku hanya melongo mendengar penuturan Ririn, memangnya siapa yang mau celakahi Dinda perasaan tidak ada hanya saja perempuan gila itu gertak tapi dia tidak berani melakukan, aku, asisten Arfan dan pak Erik ada mana berani dia, hanya saja memang aku sengaja membiarkan Dinda menghajar perempuan sinting itu dulu biar dua kapok. Justru anak ini bilang aku biarkan Dinda disakiti astaga Ririn....Ririn suka ngaduh domba ini bahaya kalau ibu mendengar pikirnya memang aku tidak bisa menjaga Dinda padahal aku sengaja biar Dinda bisa meluapkan emosinya kepada bu Anjani.
"Rin kamu bicara apa sih mana ada kakak biarkan kakak ipar kamu disakiti kamu itu tidak mengerti, jangan asal melapor saja sama ibu nanti ibu pikir betul kakak Tidak peduli sama kakak ipar kamu"
"Aduh kakak tidak perlu bicara lagi Ririn lapar banget masih ada makanan tidak, Ririn mau makan." Ujar Ririn.
__ADS_1
"Ya sudah makan sana masih banyak tuh makanan tadi kakak iparmu bawah dari rumah, baru aja berapa suap perempuan sinting itu datang jadi makanan masih belum dimakan sana makan saja tuh"
Ririn mungkin sudah sangat lapar, dia langsung gegas pergi makan. Sedangkan aku yang lagi santai duduk sama Dinda hanya tersenyum melihat Ririn makan dengan lahap.
" Enak tidak Rin makanannya." Tanya Dinda.
"Aduh kakak enak banget makanannya loh siapa yang masak ini kakak, sepertinya buka chef yang masak deh, soalnya rasanya bedah jauh" ujar Ririn.
"Iya Rin tadi kakak sengaja yang masak itu untuk mas Dava, selama ini kakak tidak perna masak di rumah karena di larang sama ibu, jadi tadi kakak sengaja masak tapi tidak bilang sama ibu."
"Wah....masakan kakak enak sekali kok kakak bisa masak seenak ini sih kakak, Ririn tidak menyangkah loh ternyata selain kakak jago bertarung kakak juga jago masak. Beruntung kakak Dava mempuyai istri seperti kakak ipar yang sangat sempurna"
Setelah Ririn selesai makan dia kembali ke ruanganya karena jam istirahat sudah selesai dan Ririn kembali bekerja, tinggalah aku dan Dinda didalam ruanganku dan pak Erik menyuruh ob merapikan ruangan yang sudah berantakan dari pecahan vas.
"Sayang kamu istirahat saja dulu ya biar mas lanjutkan kerjaan mas, nanti jam lima baru kita pergi ketemu dengan Lexza tapi harus ingat sayang tahan emosi ya jangan sampai kayak tadi lagi" aku menuntun Dinda kekamar untuk istirahat karena tadi sudah banyak tenaga yang di keluarkan jadi Dinda tidak menolak saat aku menyuruhnya istirahat dia hanya diam saja sebenarnya aku tahu dia lagi pikiran masalah tadi.
Setelah Dinda tidur aku kembali ke ruangan dan kembali mengerjakan pekerjaan tiba-tiba ada video masuk di kirim oleh pak Erik itu adalah video dimana bu Anjani menahan sakit saat pecahan Vas itu di cabut dari tangannya dan darah segar mengalir terus tanpa henti.
Aku hanya tersenyum saja, dari tadi kamu disuruh pergi kamu justru ngotot tidak mau, dan sok-sok,an bilang tidak takut sekarang rasakan itu menahan sakit di tangan itu belum seberapa yang kamu rasakan sekarang ini. Tunggu penderitaan masih banyak yang menanti kamu di luar sana kalau bu Anjani tidak berubah.
Waktu begitu cepat berjalan sangking sibuknya dengan pekerjaan aku tidak menyadari sudah setegah lima berarti jam pulang sudah tiba dan ternyata Dinda juga sudah bangun.
__ADS_1
"Mas sekarang sudah jam berapa?" tanya Dinda.
" Eh...sayang kamu sudah bangun bagaimana enak tidak tidurnya sayang" tanyaku.
"Enak banget mas tadi badan Dinda terasa pengal tapi setelah tidur badan Dinda terasa enak saat bagun, sudah jam berapa mas"
"Syukurlah sayang kalau badan kamu enak, sekarang sudah jam setegah lima sayang, bersiaplah sebentar Ririn datang kita langsung pulang ketemu dengan Lexza sekalian dengan Ririn saja tidak masalah kan sayang?"
"Tidak dong mas" ujar Dinda.
Aku cepat mrnyelesaikan pekerjaan dan langsung menutup leptop, aku dan Dinda sementara duduk tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar ternyata itu Ririn sudah menunggu.
Aku ajak Dinda keluar dan kami bertiga turun ke bawah saat kami keluar dari dalam Lift pas berpapasan dengan Andy.
"Hay Ndy....sudah mau pulang"? Tanyaku.
"Siap Tuan muda, ini sudah jam pulang tidak mungkin saya jaga kantor" kocak sih Andy.
"Kamu ya Ndy sudah berulang kali aku bilang jangan panggil Tuan muda, panggil nama saja kita teman"
" Kita memang teman kalau di luar Tuan muda kalau di kantor harus profesional, saya tetap karyawan Tuan muda disini jadi tidak sopan saya memanggil seperti itu" ujar Andy terserah dia lah susa dia dibilang.
__ADS_1