Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
190


__ADS_3

Pak cepat masukan kedalam mobil jangan sampai terlambat bisa kehabisan darah nanti" pekik perempuan itu nampak sekali panik dan ketakutan. Kalau Ogen kenapa-kenapa.


Sedangkan Ogen sudah tidak bergerak lagi sama sekali hanya nafasnya saja yang masih kelihatan.


Setelah Ogen di masukan kedalam mobil ambulance mobil langsung bergerak cepat dibawah langsung pergi pergi kerumah sakit, sedangkan perempuan itu juga turut ikut dengan mobil ambulance.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit perempuan itu tidak berhenti menangis, sedangkan keempat pengawalnya dua tinggal dirumah dan dua ikut kerumah sakit pengawal dan bibi satu mobil mereka ikuti dari belakang.


"Ya, Allah Tuan kenapa ya kok bisa berdarah begitu, sepertinya ada orang yang ingin mencelakainya"gumam bibi dalam hati.


Tak selang lama akhirnya mereka sampai dirumah sakit, dan langsung mendapatkan penanganan.


"Mbak tolong selesaikan Administrasi dan melengkapi semua surat-surat pasien agar pasien bisa dapat di tindak lanjuti" akhirnya perempuan itu melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter.


Perempuan itu sampai gemetaran karena takut terjadi apa-apa dengan Ogen, perempuan itu mengurus semua kekurangan yang di minta oleh pihak rumah sakit. Walaupun agak sedikit kesulitan tapi perempuan itu berusaha untuk melakukannya berharap Ogen segerah di tangani.


Dan memang benar saat ini didalam ruangan dokter sudah berusahaan untuk menyelamatkan Ogen.

__ADS_1


"Dok bagaimana ini ternyata ini luka tembakan jadi jika kita tidak keluarkan peluruhnya sekarang juga, bisa membahayakan nyawah pasien karena luka sangat dalam. Ini yang kedua kalinya dalam bulan ini dokter menangani pasien kena tembakan. Kalau minggu yang lalu di lengan sekarang ini pas di pingang"


"Sus tolong siapkan Alat dan panggilkan dokter Budi karena tidak ada waktu untuk menungguh nyawah pasien dalam bahaya. Dan tolong bawah pasien keruang operasi sekarang juga" tegas seorang dokter yang perna menangani kasus bu Anjani jadi Ogen ternyata dia di bawah ke rumah sakit keluarga Adinata juga.


Suster melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, langsung pergi memanggil dokter Budy untuk segerah masuk kedalam ruang opersai. Beruntung sekarang masih jam tujuh jadi masih bisa di lakukan operasi sebenaran sangat bahaya untuk melakukan operasi malam, tapi tidak ada pilihan lain jika dibiarkan sampai besok bisa jadi Ogen tidak bisa di selamatkan jadi terpaksa harus di lakukan sekarang itu juga.


Ogen langsung di bawah masuk kedalam ruang operasi untuk melakukan operasi sedangkan pacarnya Ogen sudah selesai mengurus semua berkas untuk di lakukan tindakan operasi, dokter yang menangani Ogen datang menghampiri perempuan itu. Dengan sopan sembari berkata" Maaf mbak apakah anda keluarga pasien? atau kalau ada keluar pasien dimana tolong hubungi mereka untuk minta persetujuan tindak lanjuti pasien, karena harus melakukan operasi sekarang juga kalau tunggu nanti takutnya ada sesuatu terjadi kepada pasien mohon kerja sama"


Milla yang mendengar penjelasan dari dokter panik takut terjadi sesuatu dengan Ogen sehingga, Milla langsung menyetujui kalau Ogen langsung di operasi saja jangan menunggu keluarganya datang karena selama ini Milla juga tidak tahu apakah Ogen maaih punya keluarga atau tidak.


"Silakan dok lakukan yang terbaik aku calon istrinya jadi aku yang bertanggung jawab, Milla langsung tanda tangan surat perjanjian walaupun dalam hati Milla takut jika terjadi sesuatu dengan Ogen.


Saat bu Anjani melihat siapa yang menelpon menjadi takut karena kalau dia berani mengangkat nya di depan Dea, Lexza dan yang lain bisa saja mereka mendengar dan curiga, akhirnya bu Anjani memutuskan untuk masuk ke kamarnya alasan simpan tas, jelas alasan itu tidak masuk akan hal itu membuat orang yang ada di ruang tengah hanya menatap bu Anjani sudah melengang pergi.


Setelah sampai didalam kamar barulah bu Anjani angkat telponya.


"Hallo....ada apa kamu menelpon ku, aku saja baru sampai dirumah hampir sedikit ketahuan karena kamu, ada apa katakan tidak pakek lama" bentak bu Anjani.

__ADS_1


"Maaf nyonya tapi ini gawat nyonya....gawat....Tuan nyonya...Tuan" ujar pengawal itu terbata-bata sampai membuat bu amAnjani makin emosi.


"Tuan..kenapa ha...kamu bicara itu yang jelas jangan bikin panik saja ada apa dengan Tuan" tanya bu Anjani.


"Maaf nyonya Tuan sepertinya kena tembakan oleh seseorang yang tidak di kenal jadi, Tuan jatuh didalam kamar bersihmbah darah sekarangTuan lagi dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, kalau nyonya berkenan boleh nyonya datang ke rumah sakit."


Brakkkkk!


"Deg....hp yang ada di tangan bu Anjani jatuh begitu saja dari tangan bu Anjani dan berserahkan di lantai, badan bu Anjani gemetaran sampai bu Anjani mundur dua langkah kebelakang dan memengan pinggiran tempat tidur, nafasnya seperti sesak air matanya mengalir begitu saja.


Bu Anjani melorot kebawah dan terduduk bersandar di tempat tidur, bu Anjani kembali teringat kejadian yang juga menimpahnya, bisa jadi orang yang sama melakukan itu.


"Tidak... Jangan sampai mas Ogen kenapa-kenapa sepertinya memang ada yang sudah tahu hubunganku dengan mas Ogen dan juga kematian mas Evan...atau jangan-jangan mas Evan belum meninggal jadi dia sengaja melakukan ini semua, meneror aku dan ingin menghabisi aku dan mas Ogen tidak...tidak mungki. Mas Evan masih hidup, kalau mas Evan masih hidup seharusnya waktu resepsi Dinda dia pasti datang karena acara besar putry kesayangannya tapi dia sama sekali tidak kelihatan.


Sepertinya aku harus waspada mulai sekarang, karena aku curiga ada seseorang yang kuat dibalik penembakan terjadi kepada aku dan mas Ogen....aku harus pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi mas Ogen, tapi bagaiman caranya aku datang pasti di kenali banyak orang dan mempertanyakan ada hubungan apa aku dengannya.


Aku harus cari cara lebih baik aku siapkan masker saja pasti mereka tidak mengenal aku mengaku saudara dari mas Ogen, aku tidak mungkin berdiam diri disini sedangkan calon suamiku sakit dirumah sakit, nanti saja baru bicara dengan Dea dan yang lain ini lebih penting aku tidak mau kehilangan calon suamiku."

__ADS_1


Bu Anjani menghapus air matanya dan bangkit dari duduknya kembali menebalkan make upnya biar gak kelihatan baru selesai menangis.


__ADS_2