
Setelah ibu pergi aku dan mas tahir naik ke atas gazebo dan duduk manis disana sambil menikmati kopi dan angin malam yang sejuk menusuk disetiap pori-pori tubuh ini, sedangkan Lexza dan yang lain sudah masuk kekamar masing-masing untuk istirahat. Biarlah itu urusan mereka mau ngapain bisa jadi mereka langsung tidur gak makan minum lagi karena aku yakin mereka sudah makan di luar begitu juga paman dan bibik.
Dan disini aku mau jelaskan kalau sebenarnya paman dan bibik Lya bukannya gak punya pekerjaan ibu kadang bicara berlebihan, masa keluarga besar seperti ayah sudah kaya dari dulu paman gak punya warisan apa-apa dari kakek kan gak mungkin.
Bibik juga memang bukan orang kaya raya tapi bibik bukan orang miskin seperti ibu dulu, bibik Lya juga punya bisnis tersendiri dan sebenarnya ada rumah mewah peninggalan kakek dan nenek. Tapi karena ayah meminta paman tinggal bersama kami makanya bibik dan paman mau kalau gak paman dan bibik tidak kekurangan, aku yakin sebentar lagi paman dan bibik akan keluar dari rumah ini apalagi apa yang paman inginkan sudah tercapai.
Paman memiliki bisnis Caffe dan rumah makan ada juga beberapa properti.
Hampir jam sepuluh malam barulah aku masuk kedalam kamar bersama mas Tahir kami bercerita banyak hal, mas Tahir bertanya kapan kami pindah tapi aku masih alasan nanti saja, padahal aku masih mau disini karena aku rencana mau buat sih nenek tua ini ketakutan.
"Sayang kapan kita pindah mas sudah tidak betah disini melihat kekacauan setiap hari, mas lelah dengan menghadapi ibu yang tidak perna beruba, oh ya. Sayang kapan kamu bawah mas untuk minta maaf dengan Dinda mas sudah sangat merasa bersalah dengannya."
"Nanti saja ya mas soalnya aku masih mau disini nanti aku akan kasih tahu kapan kita pindah, dan soal ketemu dengan Dava dan Dinda nanti aku atur waktu untuk mas ketemu dengan mereka mas tenang saja mereka tidak marah kok sama mas."
"Baiklah sayang kalau begitu mas ikut kamu saja tapi mas harap secepatnya kita pindah dari sini saja karena mas yakin tidak lama lagi rumah ini akan disita oleh bank karena perusahaan tidak bisa diselamatkan dan banyak sekali hutang dibank."
Apa yang di katakan oleh mas Tahir benar apalagi sampai sekarang aku tidak tahu sertifikat rumah itu ada dimana apakah ibu sudah mengadaikannya ke bank kalau itu benar ibu memang keterlaluan.
__ADS_1
"Yuk mas kita istirahat besok kita kerja apalagi mas pasti sibuk banget di kantor besok, aku juga ada kesibukan selain pergi ke restoran aku juga rencana mau kunjungi bisnis lainnya nanti kalau mas sudah pulang kerja jangan lupa kabarin aku ya mas. Kalau nanti mas tidak selera makan di rumah datang saja ke restoran karena aku juga sudah malas makan di rumah mas lebih baik kita makan saja di luar."
"Iya sayang nanti mas hubungi kamu ya, yuk kita istirahat dulu biar nanti besok pas bangun bandan enak jangan suka tidur tengah malam tidak baik."
Aku dan mas Tahir bangkit dari tempat duduk kami dan gegas masuk kedalam kamar untuk istirahat karena rasanya lelah juga baru pulang kerja harus bertengkar dengan ibu tidak ada habisnya.
Membuat kepala ini mau pecah tapi untung setelah duduk dengan mas Tahir sambil berbagi cerita akhirnya semua plong, biarpun aku banyak cerita dengan mas Tahir tapi tidak sedikit pun aku menyinggung soal kecelakaan ayah aku tidak mau gegabah dalam mengambil tindakan. Aku juga tidak beritahu mas Tahir soal semua harta yang di brangkas yang ibu simpan sudah aku ambil semua, aku takut nanti mas Tahir bisa memengaruhi aku dan aku tidak jadi berikan barang itu ke Dava dan Dinda bagaimana pun Dinda adikku satu-satunya.
Setelah kami sampai di dalam kamar kami berdua langsung istirahat karena mengigat besok pasti sangat melelahkan jadi biar istirahat dulu.
Aku merasa seperti dibawah oleh seseorang masuk kedalam sebuah hutan yang sangat gelap gulita tidak ada seorangpun yang ada disana...aku sangat ketakutan karena aku mendengar ada bunyi-bunyi seperti ada suara bina**ng buas. Dan bukan hanya itu seperti banyak suara yang berteriak minta tolong sangat mencekam hutan itu membuat aku sampai merinding, tapi anenya aku tidak bisa pergi dari hutan itu justru aku makin terus masuk ketengah hutan.
Sreekkk....srekkkkk....
Bukan hanya suara ane tapi juga seperti suara langkah kaki membuat aku meringkuk di balik pohon rindang dengan tubuh yang bergetar hebat, aku memanggil-manggil nama mas Tahir tapi tidak ada sahutan sama sekali justru di hutan itu sangat mencekam membuat aku ketakutan bandanku gemetaran.
Ya Tuhan aku dimana ini tolong aku selamatkan aku dari bahaya ini keluarkan aku dari hutan ini ayah.....tolong Dea ayah..tolong Dea....Dinda....tolong kakak dik..."
__ADS_1
Aku berteriak sambil minta tolong tapi tidak ada sahutan justru langkah kaki itu makin mendekat membuat aku tambah ketakutan. Jangan sampai bina**ng buas aku pasti dicabik-cabik sampai babak belur.
Namun tiba-tiba aku mendengar suara tawa yang mengelengar tepat di depan aku dan suara itu aku sangat mengenalnya yaitu suara ibu. Ha...ngapain ibu malam-malam ada dihutan gelap ini, tapi tidak apa-apa deh siapa tahu ibu datang mencariku karena aku tidak ada dirumah.
"Bu...tolong Dea...Dea ada disini bu tolong dea takut ada bina**ng buas bu disini" ujarku saat melihat ibu dan beberapa pengawal dengan pakian hitam berdiri didepanku tapi membuat aku terkejut ibu menatap aku dengan tajam, dan emosi yang meluap-luap bahkan di tangannya ada sebuah belati tajam sekali membuat aku awalnya ingin meminta bantuan jadi takut.
Aku beringsut mundur kebelakang saat melihat ibu makin mendekat seolah ingin menikam tubuh ini dengan pisau yang ada di tangannya.
"Haha....hahaha.....apa kamu bilang ibu....siapa ibumu jangan harap saya akan menolongmu justru kamu disini karena saya yang membawah kamu kesini, karena kamu sudah berani ikut campur urusanku."
"Saya tahu kamu sudah mengetahui kalau saya yang menbunuh ayah brengset kamu itukan? makanya kamu juga mau mencelakai saya tapi sebelum itu terjadi saya yang akan melenyapkan kamu dari dunia ini anak sialan."
Plak....plak....
"Ampun bu jangan lakukan ini dosa bu, aku ini darah daging ibu kalau ibu membunuhku apakah ibu tidak takut dosa bu cukup ibu membunuh ayah bertobatlah bu sebelum terlabat."
"Hahaha dosa apa itu, saya tidak mengenal dosa dan kamu anak sialan sebenarnya saya masih ingin membiarkan kamu hidup agar kamu menjadi alat saya tapi karena kamu sudah mengetahui semua kejahatan saya jadi biar saya musnakan kamu saja menyusul ayah kamu dineraka sebelum semua rencana saya kamu hancurkan saya terlebih dahulu menghancurkan kamu"
__ADS_1