Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
312


__ADS_3

Aku jadi emosi dengan perempuan gila itu saat mendengar cerita dari pak Erik, maksudnya apa cobak dia datang ke perusahaanku dan mencari aku, punya nyali juga rupanya perempuan itu.


"Mas apa kata pak Erik tadi katanya siapa yang tadi datang ke perusahaan?" tanya Dinda


Tuhkan istriku sudah bertanya, lagian pak Erik juga kenapa tidak tunggu aja sampai aku pulang dulu baru beritahu musti harus telpon, tapi tidak masalah istriku harus tahu juga aku tidak mau menyembunyikan apapun darinya takutnya kalau Dinda tahu dari pak Erik langsung bisa habis aku.


"Itu sayang tadi pak Erik telpon beritahu mas kalau perenpuan gila itu datang mencari mas di perusahaan, mas heran entah apa yang ada di pikiran perempuan itu sehingga dia nekat datang ke perusahaan mas coba, padahal jangankan kerja sama dalam bisnis kenal dekat aja tidak, tapi dia sok kenal banget bahkan dia mengaku mas calonnya gila banget."


"Mungkin dia mau mencari tempat tinggal yang baru itu mas, nanti kalau dia datang lagi biarkan dia ketemu dengan Dinda mas agar Dinda tunjukan tempat terbaik untuknya, karena mungkin dia sudah bosan dengan hidupnya yang sekarang, belum kapok juga ternyata perempuan itu."


"Memangnya sayang mau antar dia kemana kalau dia ketemu dengan kamu sayang, ingat jangan macam-macam kamu lagi hamil sayang "


"Siapa yang mau macam-macam mas, bukankah dia yang mau cari masalah dengan Dinda biar Dinda kirim aja dia ke neraka biar tidak ada menganggu mas lagi.


Hmmm seram kali lihat senyum istriku seperti ini.


Kami yang keasyikan tidak sadar kalau sudah sampai, untung asisten Arfan mengingatkan kalau tidak kami berdua masih asyik ngobrol membahas soal perempuan sinting itu.


"Maaf Tuan muda kita sudah sampai" ujar asistem Arfan.


Kami langsung turun dari mobil dan menuju ke gerobak pempek yang di katakan Dinda sedangkan asistem Arfan cari tempat duduk karena sangat rame.


Dinda langsung pesan satu porsi, aku baru tahu seperti apa pempek itu ternyata seperti ini bentuknya bedah-bedah.

__ADS_1


"Pak Pempek satu porsi ya makan disini aja, antar kesana ya mas" ujar Dinda.


"Baik nona"


"Sayang kita tunggu aja disana, nanti tempatnya diduduki orang lain." Ujarku


Aku dan Dinda hendak menghampiri asisten Arfan lagi menjaga meja.


Bukkkkkkkk!.


"Hey....jalan itu pakek mata dong, sudah diberikan dua mata bukannya di pakek" ujar seorang wanita yang menunduk untuk memungut tas yang jatuh di lantai.


"Maaf mbak, tapi bukannya anda yang menabrak aku ya anda yang tidak punya mata kali," ujar Dinda.


"Dava.....! Ya ampun aku kangen banget sama kamu tahu, dunia ini sangat sempit ya akhirnya yang aku cari ada juga di hadapan aku, tadi aku datang ke perusahaan tapi kata Tuan Erik kamu tidak ada di kantor kamu kemana sih" ujar Emelia tapi matanya menatap sinis ke arah Dinda sedangkan Dinda masih dengan cara sampai menangapinya.


Emelia hendak memeluk aku tapi aku langsung menghindar jadi hampir sedikit dia memeluk asisten Arfan yang berdiri tidak jauh dari kami.


"Kamu siapa ya main peluk aja, teman buka saudara bukan, jaga tangan kamu itu ya jangan sembarangan menyentuh tubuh suami ku kalau kamu tidak mau kaki tangan kamu itu aku patahkan, dan kamu siapa sehingga ngatur-ngatur suami aku mau suami aku masuk kantor atau tidaknya anda tidak punya hak disitu, atau kamu mau tahu suami ku lagi ngapain seharian biar aku beritahu kamu, kalau seharian suamiku menemani aku di tempat tidur kenapa?" Tanya Dinda.


"Hahahaha....hey perempuan jelek perut buncit, ngaca lihat dirimu, udah jelek gendut kayak badut lagi, kamu pikir bicara begitu biar aku emosi maaf aku tidak seperti kamu ya, sebentar juga Dava meninggalkan kamu dan menikah denganku."


Plakkkkkkkk!

__ADS_1


Aku dan asistem Arfan terkejut dengan aksi Dinda, satu tamparan keras melayang tepat di pipi Emelia dan sampai terhuyung ke belakang untung masih bisa menyimbangi tubuhnya kalau tidak bisa jatuh tersungkur di lantai.


"Arghh.....kurang ajar kamu ja***ng berani sekali kamu menampar aku siapa kamu ha." Ujar Amelia.


Bukkkkkkk!


"Kamu yang seharusnya ngaca siapa kamu, kalau lihat dari cantik aku lebih cantik dari pada kamu, begitu juga dengan harga diri aku jauh lebih nahal dari pada kamu, aku begini karena hamil anak suami aku, terus kamu siapa? Tidak punya harga diri banget mengejar suami aku. Kamu tidak punya urat malu ya, oh ya aku sudah perna ingatkan kamu jugakan kalau kamu ketemu lagi sama aku berarti apa yang akan aku lakukan sama kamu, semoga kamu tidak lupa dengan pesan aku waktu itu."


Saat Dinda lagi menghajar Emelia tiba-tiba Rafa dengan Ririn datang ternyata kedua anal ini datang kesini juga pantas aja Ririn tidak kunjung pulang pasti mobilnya tinggal di perusahaan ini karena di jemput sama Rafa.


"Kakak Dava, kakak ipar ada apa ini" Ririn mengejutkan kami,


Aku dan Dinda menoleh ke asal suara Ririn sedangkan Ririn melangkah mendekati kami.


"Kakak ini ada apa" tanya lagi.


"Biasa Rin kakak kamu kelewatan tanpan jadi ada perempuan tidak jelas ini datang ingin menyodorkan diri secara gratis, tapi sayangnya kakak kamu pria yang baik dan samgat setia jadi langsing menolak menurut kamu manusia seperti ini mau kita apakan Rin, kamu mau makan sate manusia tidak, biar aku sembelih aja buat jadi sate tapu sepertinya dangingnya terasa pahit."


"Hey tutup mulut kotor kamu itu ya, jangan kamu berbanga karena sudah menikah dengan Dava jadi sok-sok an, kamu pikir aku takut sama kamu dengar ya aku tidak akan takut sama siapapun termasuk kamu karena aku akan melakukan segalah cara agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan termasuk Dava akan aku rebut dari kamu."


Kali ini bukan Dinda yang emosi tapi justru Ririn, karena Emelia terduduk di bawah jadi Ririn jongkok dan dengan cepat Ririn menarik rabut Emelia baru di tariknya kebelakang sehingga wajah Emelia mendongkak.


"He....kamu dengarkan aku baik-baik ya jadi perempuam itu harus punya harga diri, kamu tahukan kalau kakak Dava sudah punya istri tapi kenapa kamu masih mau mendekatinya apakah kamu sudah bosan hidup, kalau kamu sudah bosan hidup timggal kasih tahu aja, saran aku lebih baik kamu pergi dari sini dari pada kamu habis di tangan kakak Ipar"

__ADS_1


Emelia memang punya nyali sudah di ingatkan juga sama Ririn tapi justru bukannya takut mala tertawa.


__ADS_2