Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
404


__ADS_3

Setelah sekretaris meletakan berkas di atas meja aku langsung memeriksa berkas itu karena ini adalah proposal yang akan di pakek untuk presentasi nanti jadi sangat penting, memang masih ada file yang ingin aku periksa tapi aku harus mendahulukan yang lebih penting. Lembar demi lembar aku membuka dan dengan teliti aku periksa semuanya ternyata sangat sempurna di buat proposal ini oleh sekretaris.


Sekretaris ini sangat profesional dan sangat teliti dalambekerja bedah dengan sekretaris sebelumnya yang hany tebar pesona tapi nol bekerja, aku lebih suka orang profesional bekerja dari pada datang ke perusahaan hanya untuk menunjukan jika hari ini dia cantik padahal biasa saja.


Luar biasa aku tersenyum dan meletakan kembali dengan rapi di atas mejaku, begitu juga aku periksa berkas yang lain, jadi kenapa setiap kali aku periksa berkas harus teliti karena setiap berkas yang aku tanda tangan itu sah jadi tidak bisa di rubah lagi. Baik itu keliru dalam pemeriksaan tetap tidak bisa karena aku sudah menyetujuinya.


Nah kalau seandainya di perusahaan ada yang mengelapkan dana perusahaan terus dengan sengaja memberikan berkas dalam satu bulan pengeluaran dua miliyar untuk ini dan itu, karena aku tidak teliti sehingga aku tanda tangan padahal berkas palsu, berarti yang rugi perusahaan, dan aku yang salah karena tidak teliti, mungkin para pembaca setia novel jika ada yang belajar menjadi seorang pengusaha, harus teliti dalam bagian manajemen keuangan itu penting.


Aku kembali membuka berkas lainnya ternyata berkas ini adalah pembelian saham dari perusahaan om Angga, ya jadi memang perusahaan om Angga sudah di akuisisi oleh perusahaan Adinata grup, tapi karena nyonya Misel masih hidup jadi aku tidak jadi mengambil semua properti yang ada.


Lagian semua harta itu bukan punya om Angga semata melainkan punya nyonya Misel harta warisan dari keluarganya. Jadi waktu di hutan aku menyuruh pak Erik dan ketua Heri untuk melepaskan nyonya Misel, karena aku yakin nyonya Misel wanita yang baik jadi dia tidak akan melakukan kejahatan. Kalau Aisya dan om Angga sudah meninggal.


Aku berencana ketemu dengan nyonya Misel untuk membicarakan kelanjutan akuisisi perusahaan tapi tunggu setelah ayah pulih, barulah melanjutkan masalah ini. Lagian nyonya Misel masih memulihkan kondisinya juga. Dan saat ini nona Misel tetap di rumahnya.


Setelah semua berkas yang aku periksa selesai dan hendak menghidupkan leptop untuk melanjutkan pekerjaan, tiba-tiba pintu kembali di buka dan ternyata sekretaris mengingatkan jika dua puluh menit lagi kami akan melakukan pertemuan dengan Tuan Adrak di restoran Nelayan agak sedikit jauh dari sini, itu adalah pilihan dari klien jadi kita menurut saja memang restoran tidak kalah bagus juga restoran bintang tiga. Hari ini aku bersaing dengan beberapa perusahaan untuk memperebutkan proyek kali ini, semoga aku bisa mempresentasikan proposal dengan baik.


"Maaf Tuan muda! dua puluh menit lagi kita akan meeting dengan Tuan Adrak di restoran Nelayan, karena restorannya agak sedikit jauh dari sini memakan waktu lima belas menit apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang Tuan lebih awal lima menit karena kita tidak tahu macet di depan sana. Dengan menghindari macet kita datang lebih awal Tuan muda semoga tidak macet palingan sepuluh menit sampai." ujar sekretaris.

__ADS_1


"Oh oke, baiklah kita berangkat sekarang saja cepat sampai lebih baik dari pada Tuan Adrak menunggu, sekarang beberapa perusahaan berlombah untuk mendapatkan proyek besar ini, jadi jangan sampai gagal gara-gara kita terlambat datang jangan menganggap sepeleh sesuati yang kita anggap tidak penting tapi bagi orang lain penting apalagi orang luar waktu adalah uang." ujar ku. Aku bangkit dari duduk dan keluar dari ruangan di ikuti oleh sekretaris dan asisten Arfan dari belakang.


Kami langsung masuk kedalam lift dan turun ke lantai dasar menuju ke loby. Ternyata mobil sudah siapkan oleh satpam, asisten Arfan langsung membukakan pintu untuk aku sedangkan asisten Arfan dan sekretaris duduk di depan.


Kami menujuh ke restoran Nelayan tapi untungnya tidak macet jadi kami sampai lebih awal dari prediksi, tapi ternyata sudah ada pesaing kami dari perusahaan lain saat mereka melihat kedatangan kami justru menatap sinis, lucu aja si namanya juga pesaing tapi harus bersaing dengan sehat jangan curang aku paling benci kecurangan, walaupun aku tahu mereka tidak menyukai kehadiran kami tapi aku tetap santai dan menyapah mereka.


Aku pura-pura tidak tahu dengan tatapan mereka, aku datang kesini untuk membicarakan bisnis bukan datang cari musuh, sudah banyak musuh ku jadi aku tidak mau cari musuh lagi tapi cari teman.


"Selamat pagi Tuan-tuan mohon maaf kami agak sedikit telat, sebenarnya belum telat karena masih sepuluh menit lagi baru mulai, dan Tuan Adrak juga belum datang", ujarku.


"Ya benar juga, bagaimana Tuan Dava di percayakan proyek besar seharga melyaran sedangkan datang aja terlambat, saya yakin Tuan Dava akan kalah kali ini saya pemenangnya, walaupun perusahaan Adinata grup perusahaan nomor satu di negara ini tapi bukan dalam arti perusahaan kami tidak layak mendapatkan proyek ini, " sambung yang satu lagi sedangkan kedua sekretarisnya diam saja.


Astaga kedua orang ini kenapa pandangan mereka penuh kebencian sih perasaan baru kali ini aku ketemu dengan mereka deh, karena selama ini yang sering ketemu dengan mereka adalah ayah bukan aku. Aku dan sekretaris terus asisten Arfan saling pandang, kalau pengawal pasti mereka berdiri agak sedikit jauh berapa meter dari kita setiap kali pergi kemana mereka selalu ku biarkan agak jauh dari ku jangan terlalu menonjol juga.


"Hehehe.. Tuan jangan suka berprasangka buruk sama orang yang lebih muda, biarpun saya masih muda tapi saya juga dari kecil ayah saya sudah mengajari saya untuk berkecimpung di dunia bisnis jadi jangan suka meremekan kualitas seseorang, kita lihat saja nanti siapa yang pantas mendapatkan proyek ini.


Kalau jika saya memang Allah memberikan berkat kepada saya hari ini berarti saya juga akan di berikan Allah untuk saya memenangkan proyek ini, namun jika tidak dan salah satu di antara Tuan-Tuan meneng tidak masalah mungkin itu rejeki Tuan, tapi disini kita sama-sama berusaha jadi ada yang akan menjadi pemenang ada juga yang akan mengalami kekalahan ini seperti pertandingan jadi dua orang bertanding tidak mungkin dua-duanya menang bukan harus ada yang kalah."

__ADS_1


"Hahaha.....Sok bijak ya Tuan Dava, saya juga tahu hal itu tapi pasti Tuan Adrak berikan proyek itu kepada orang yang tepat" justru mereka tertawa aku hanya memgelengkan kepala saja.


Aku kembali diam malas aku berdebat dengan manusia bermuda dua seperti ini, lagian pilihan siapa yang menang siapa yang kalah itu pilihan Tuan Adrak jadi untuk apa berdebat disini sedangkan Tuan Adrak aja belum datang.


"Hehehe akhirnya diam juga Tuan Dava mengalah saja karena Tuan Dava tidak akan menang proyek ini, atau begini saja dari pada malu karena kalah lebih baik Tuan Dava pulang saja jangan buang-buang tenanga yakan"?.


Mungkin karena sekretaris sudah gondok dengan sikap kedua orang tua ini sehingga, sekretaris angkat bicara" sayang banget ya orang sekelas Tuan Maulana, takut dan gentar melihat Tuan saya begini ya Tuan Maulana saran saya yang harus pulang itu anda Tuan takutnya anda pulang dengan membawah malu, disini itu bersaing dengan sehat jika Tuan merasa tidak sanggup bersaing dengan Tuan saya silahkan pulang biar jangan suka merendahkan orang. Takut ya tmTuan dikalahkan sama Tuan saya hehehe"


Astaga badas banget perkataan sekretaris, memang dari tadi sekretaris diam saja karena mungki dia merasa perkataan orang ini sudah kelewatan makanya sekretaris langsung sakmat merekat, membuat Tuan Maulah langsung emosi. Dari sini sangat kelihatan kualitas mereka.


"He...sekretaris rendahan tutup mulutmu, dari tadi saya tidak bicara dengan kamu, saya bicara dengan bos kamu kenapa kamu lancang sekali mengomentari saya sedangkan bos kamu saja diam, dasar hanya karyawan rendahan saja berani mengatai saya seperti itu."


"Tuan maulana jaga bicara anda terhadap sekretaris saya, memang kenyataan kok seperti itu, sepertinya anda sangat takut bersaingan dengan saya apa seperti ini seorang pengusaha terkenal yang memiliki attitude yang buruk jangan-jangan Tuan Maulana sering merendahkan karyawan perusahaan dan sekretaris pribadi Tusn Maulana kalau itu benar maaf Tuan Maulans anda tidak cocok menjadi seorang pemimpin"


Tuan Maulana langsung terdiam dengan menahan emosi, bodoh amat manusia seperti ini harus di kasih pelajaran agar tidak semena-mena terhadap orang yang di anggap rendahan. Dari sinilah aku bisa menilai kenapa perusahasn mereka naik turun begitu saja dan tidak perna maju-maju, karena mereka merasa mereka paling hebat dan punya segalahnya sehingga mengangap remeh orang dan suka merendahkan karyawan.


Aku menatap seorang Wanita lumayan cantik berdiri di samping Tuan Maulana dari tadi tidak di persilahkan duduk, kasian punya bos kayak pria ini sangat arogan, sedangkan sekretaris dan asisten Arfan dari tadi asyik duduk di sebelahku.

__ADS_1


__ADS_2