
Dea menyuruh Tahir istirahat terlebih dahulu karena alasan Dea belum bisa tidur karena masih mikirin semua masalah yang terjadi. Padahal Dea sengaja agar dia bebas menelpon Dinda karena Dea sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Dinda, Dea ingin ada tangapan baik dari Dinda agar rencana mereka lancar. Sehingga pada saat Tahir mengajak Dea tidur Dea tidak mau.
"Sayang ayuk istirahat dulu waktu kita di rumah sakit susa loh istirahat. Jangan sampai kamu sakit ya sayang gara-gara mikirin itu semua"
"Mas tidur duluan saja ya aku belum ngatuk nanti kalau aku sudah ngantuk aku juga akan tidur jadi mas duluan tidur saja aku mau bersihkan wajah dulu mas kelihata sudah ngantuk banget tuh jangan tahan mas." jelas Dea
"Ya sudah sayang mas tidur duluan ya kalau kamu ngantuk tidurlah awas loh kalau gak tidur mas marah nanti, mas memang sudah gak tahan ngantuk sayang."
"Iya mas tidurlah" ujar Dea.
Akhirnya Tahir tidur membuat Dea merasa senang karena sudah ada kesempatan untuk bisa menelpon Dinda apalagi Tahir sudah ngantuk banget jadi baru membaringkan tubunya di atas kasur langsung nyenyak.
Setelah melihat sang suami sudah istirahat Dea keluar dari kamar dan menutup pintu nya terus naik ke gazebo dan duduk di situ, memandangi pemandangan yang ada di depan Dea tidak mau membuang waktu dan langsung mencari nomor Dinda berharapa Dinda nanti mengangkat terlpon darinya.
Sedangkan saat ini aku bersama dengan Dinda di dalam kamar mereka lagi berbaring di atas ranjang sambil asyik bercerita namum tiba-tiba bunyi hp menghentikan keasyikan mereka.
"Siapa ya yang menelpon pake nomor baru tapi sepertinya aku kenal nomor ini tapi siapa ya aku lupa? angkat gak ya mas kalau gak mas aja gih yang angkat."
Bukannya Dinda mengangkat telponnya justru menyuruh Dea menyuruhku yang mengangkat telponnya, Dava juga tidak keberatan untuk melakukannya.
"Ya sini sayang biar mas yang angkat siapa tahu ada pria lain yang diam-dia mengincar istriku yang cantik ini biar ketahuan" ujar Dava terkekeh.
__ADS_1
"Astaga mas jauhi pikiran mas itu deh aku mah ogah kayak gituan suamiku satu saja sudah ganteng dan paling kaya raya untuk apa melakukan hal mennijikan itu nih angkat cepat nanti mati loh mas".
Bukan Dinda yang mengankat telpon dari nomor baru itu tapi justru dia menyuruhku untuk mengangkatnya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ku ambil hp dan langsung ku angkat telpon tapi kok suara cewek dan bahkan aku sangat mengenal.
"Hallo..."
"Hallo...Dava kok kamu yang angkat telpon Dinda...Dinda ada gak disitu Dav" tanya kakak Dea jadi yang telpon itu kakak Dea.
"Oh Ada kakak, ada apa ya kakak menelpon Dinda"? Aku tanya kakak Dea bukannya tidak sopan tapi aku takut kakak Dea marahin istri aku lagi.
"Ada yang mau kakak bicarakan dengan kalian"
"Iya kakak Dinda ada di sampingku apakah kakak mau bicara dengan Dinda kakak"? Tanyaku
"Kakak Dea gapapa kan? Kenapa suara kakak gemetaran begitu kakak lagi menangis."? Tanya ku.
"Dava jangan banyak tanya kita tidak punya banyak waktu jangan sampai ada yang tahu soal ini, besok aku mau ketemu sama kalian berdua ini sangat penting soal ibu dan juga ayah, kita harus kerja sama untuk memecahkan kasus ini bisa gak Dav besok kita ketemu dimana sama Dinda tapi tolong jangan sampai ada yang tahu ya soal pertemuan kita ya Dava"
"Memangnya masalah apa kakak Dea bisa jelaskan sedikit gak aku penasaran kakak jangan buat aku dan Dea binggung" ujarku
"Iya kakak Dea bisa jelasin sedikit gak biar besok kita ketemu direstoran aku kirim alamat deh ke kakak tapi jelasin sedikit dulu napa"
__ADS_1
"Ini soal kecelakaan yang menimpa ayah Dav, Dinda. Aku sudah tahu siapa pelakunya dan semua bukti ada di tanganku jadi tolong jangan sampaikan ini kepada siapapun biar besok pertemuan kita lancar"
"Apa.....benaran kakak sudah tahu soal siapa pelakunya siap kakak bilang dulu siapa"
Aduh dasar istriku tidak sabaran menuntut kakak untuk bicara saja padahal kakak Dea sudah bilang kalau dia tidak punya banyak waktu jangan sampai ada yang mengetahui rencanannya.
"Dik kamu sabar ya besok saja kita bahas karena saat ini tidak ada waktu untuk kakak jelaskan takutnya nanti didengar oleh ibu dan yang lain kakak tutup ya nanti besok kita ketemu"
Akhirnya kakak Dea benar-benar mengakhiri panggilannya karena mungkin takut ketahuan kali oleh bu Anjani.
setelah Dea selesai menelpon Dinda dan Dava, Dea langsung masuk kembali kedalam namun Dea terkejut melihat sih Lexza sudah berdiri di depan pintu menatap Dea dengan tatapan emosi tapi Dea tidak peduli dan berlalu pergi. Dea sudah was-was jangan sampai Lexza sudah mendengar pembicaraannya dengan Dinda dan Dava.
"Aduh sejak kapan ya Lexza disitu jangan-jangan dia sudah mendengar lagi pembicaraanku dengan Dava dan Dinda lagi, jangan sampai ya Tuhan biar ayah mendapatkan keadilan aku akan membuat ibu membayar semua kejahatannya."
Dea langsung masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya masih tidur dengan pulas, Dea simpan hpnya di nakas dan naik keatas ranjang terus berbaring disamping suaminya dan memaksa untuk menutup matanya akhirnya dia bisa tidur juga.
Sedangkan Lexza yang melihat Dea pergi tanpa menyapanya langsung emosi mungkian karena selama ini Dea selalu menghormatinya, jadi saat Dea diam saja Lexza merasa Dea merendahkan harga dirinya.. Humm ibu dan anak sama saja sama- sama ingin di hormati.
"Kurang ajar banget sih Dea masa dia melewati aku begitu saja aku dikacangin, gila manusia yang satu itu kenapa tadi gak aku jambak saja rambutnya ya dia juga yang buat mas Kenedy sakit"?
Lexza tidak terimah di kacangin sama Dea hahaha emang enak Lexza kamu gila hormat banget sih kayak ibumu, kalian berdua memang perempuan pembawah sial gak anak gak ibunya pantas saja tidak ada lagi yang mau berpihak sama kalian berdua.
__ADS_1
Sekarang mampuskan kalian Dea dan paman Gibran sudah tidak respeck lagi sama kalian berdua jadi kalian jalan sendiri tanpa ada dukungan makanya jadi manusia jangan jahat.
Lexza duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Dea tapi pikirannya melayang terus ke perkataan orang-orang tentang dirinya yang seorang anak haram yang tidak di akui di keluarganya saat ini, kasian kamu Lexza cobak kamu baik mungkin kamu di sayangi walaupun bukam saudara kandung.