Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
67:67


__ADS_3

Sedangkan di rumah sakit semua orang sudah menunggu dengan cemas tiba-tiba pintu ruangan terbuka, nampak seorang dokter berdiri didepan pintu tapi belum buka suara justru mereka sangat gugup, sehingga Lexza yang berdiri disitu langsung bertanya.


"Dok kenapa diam apa yang terjadi dengan ibu saya dok tolong beritahu saya"


"Maaf Tuan dan nona, dengan terpaksa kami sampaikan, jika nyonya Anjani mengalami luka tembak di lengan bagian kanan jadi harus segerah di operasi karena lukanya sangat serius bahkan diprediksi pelurunya menembus tulang"


Penjelasan seorang dokter jelas membuat semuannya syok kok bisa bu Anjani mengalami insiden itu siapa yang berani melakukan hal itu.


"Apa....mengalami luka tembak dok, tidak salah dok, mana mungkin ibu saya di tembak dok, ibu saya tidak punya musuh dok" ujar Dea dan Lexza syok berat sampai mereka menangis histeris.


Karena Kenedy melihat dokter masih menunggu persetujuan dari pihak keluarga untuk melanjutkan operasi, akhirnya Kenedy yang menyetujui semuanya ia menandatangani semua berkas agar secepatnya dilakukan operasi karena takutny makin parah.


"Dok silakan lakukan yang terbaik untuk ibu mertua saya dokter, saya yang akan mengurus semuanya yang penting mertua saya selamat dokter"


"Baik Tuan silakan ikut saya." ujar dokter


Kenedy mengikuti dokter ke ruangannya dan menandatangani semua berkas sebagai penangung jawab, jika terjadi sesuatu dari pihak keluarga sudah siap.


Sedangkan Tahir dan Dea setelah mendengar kasus yang menimpah ibunya mereka tidak memikirkan lagi efek kedepannya yang akan memperburuk reputasi bu Anjani.


Tapi mereka langsung pergi ke kantor polisi malam itu juga untuk membuat laporan, sekalian mereka membawah polisi ke kediaman keluarga Winata. Lucu juga orang terkaya nomor dua kok tidak memikirkan untuk telpon aja ke kantor polisi haha.

__ADS_1


"Mas ayuk. Kita harus ke kantor polisi sekarang juga, kita sudah tahu kasus yang menimpah ibu tidak mungkin kita biarkan saja, kita harus lapor polisi agar mereka menyelidiki kasus ini dan siapa pelakunya."


"Yaudah sayang kita berangkat sekarang saja"


Akhirnya Tahir dan Dea pergi meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kantor polisi, tidak sampai setegah jam mereka sampai dan langsung di tangani oleh polisi dua orang polisi, Kenedy dan Dea di minta keterangan dan setelah selesai mereka berikan keterangan akhirnya mereka bersama polisi kerumah. Tanpa mereka sadari ternyata ada wartawan juga ikut serta karena kedatangan polisi ke keluarga Winata membuat para tetangga gempar.


Wartawan itu meliput semua berita yang sudah ia dengar sedangkan di kediamam Winata sudah dikasih garis polisi, polisi juga memeriksa kamar bu Anjani, namun sayangnya kamar sudah di bersihkan dan dirapihkan oleh pelayan membuat polisi tidak dapat bukti apa-apa.


Akhirnya mulai lah terdengar kasat-kusut para tetanggah setelah mereka mendengar jika bu Anjani kena tembakan.


" Biar saja mungkin itu karma deh, karena mentang-mentang mereka keluarga kaya jadi kita selalu di pandang rendah dan di katain rakya miskin padahal hidup kita juga tidak kalah mewah dari mereka." ujar seorang ibu dan di iyakan oleh yang lain.


"Iya benar tuh jeng, memang kalau manusia sombong dan serakah selalu dapat musiba apalagi Tuan Evan sudah meninggal, makin menjadi-jadi perempuan itu."


"Saya mah oga memilih keluarga ini"


Banyak sekali gunjingan dari tetangga karena memang di daerah tempat tinggal di perumahan itu bu Anjani terkenal paling sombong dan tidak suka menyapa orang.


Padahal orang yang tinggal di daerah itu bukan orang-orang sembarangan juga, orang kaya rata-rata hanya saja bagi bu Anjani orang kaya mengenah bawah jadi tidak perlu beri hormat, seperti inilah pas dia kena musiba bukannya orang pada iba ini justru kena gunjingan, Dea yang mendengar, gunjingan orang bukannya marah namun justru ia merasa malu karena yang di katakan orang itu benar adanya.


Dea menangis dalam diam ternyata sikap ibunya pengaruh besar, Dea mau marah juga mau bagaimana lagi memang kenyataan seperti itu, tapi Dea juga tidak tinggal diam ia datang dan mendekati ibu-ibu itu sembari berkata.

__ADS_1


"Bu,ibu. Maafkan ibu saya, mungkin selama ini sikap dan perbuatannya membuat ibu-ibu semua sakit hati, tapi apakah kalian tidak punya hati nurani melihat orangnya mengalami musiba seharusnya didoakan semoga cepat sembuh bukannya mengunjingnya"


Ada seorang ibu-ibu berdiri tidak jauh dari situ maju mendekati Dea dan berkata" Dea perbuatan ibu kamu terhadap orang- orang disekitaran sini itu sudah sangat melukai hati mereka dan termasuk saya juga, kamu sebenarnya anak baik tapi karena kamu mengikuti semua sifat jelek ibu kamu sehingga kamu juga jadi seperti ini."


"Jujur dari kalian bertiga saya lebih suka sifat Dinda memang anak itu sangat baik dia mengikuti sifat Tuan Evan, tapi sayang sudah lama saya tidak melihatnya bisa jadi dia sudah pergi mengikuti suaminya, karena kalian semua sudah melakukam kejahatan terhadapnya"


"Ha...ibu tahu dari mana kalau Dinda sudah menikah bu"


"Astaga Dea kamu pikir aku ini buta dan tuli memangnya kamu tidak melihat kah rumahku di samping tembok pangar rumah kalian ini, untung rumahku juga lantai dua kalau tidak rumahku tidak kelihatan karena tembok kalian."


Dea menelan ludanya dengan susa paya mendengar pengakuan para tetangga, padahal selama ini mereka dengan susa paya menyembunyikan pernikahan Dinda tapi ujung-ujungnya orang lain tahu juga.


Setelah polisi selesai periksa semuanya, akhirnya polisi pulang begitu juga para tetangga sekarang tinggal Dea dan Tahir, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak nanti besok saja mereka ke rumah sakit, toh mereka juga tidak bisa masuk untuk menjenguk bu Anjani juga karena masih dalam proses akan melakukan operasi.


Dea dan Tahir malam ini mereka istirahat karena sudah sangat cape juga, jadi biar mereka istirahat.


Sedangkan di rumah sakit setelah Kenedy selesai mengurus semua berkas tinggal melakukan tindakan operasi, yang akan dilakukan pada pagi hari karena sangat berbahaya jika melakukan operasi pada malam hari.


Lexza dan Kenedy masih di rumah sakit bersama dengan paman Gibran serta istrinya, mereka menjaga malam ini padahal baik Lexza maupun Kenedy sangat cape karena baru pulang kampanye tadi jadi itu sangat melelahkan.


Tapi mau bagaimana lagi sudah dapat musiba begitu.

__ADS_1


"Mas Dea dengan Tahir kok lama banget sih baliknya, atau jangan-jangan mereka pilang tidur mas"


"Bisa jadi sayang karena mereka akan membawah polisi ke rumah nanti jadi mungkin setelah polisi selesai memeriksa TKP dan setelah polisi pulang mereka istirahat karena cape, biarlah nanti besok bru kita gantian setelah mereka datang kesini barulah kita pulang untuk istirahat. Sebenarnya kita juga bisa pulang karena kita juga bukannya ngapa-ngapain disini, apalagi ibu juga tidak bisa di kunjungi. Ada juga kedua suster disini jadi mereka bisa menjaga ibu"


__ADS_2