
Kalau nanti luka tusukan ayah mertua parah berarti ibu belum bisa di beritahu, aku jadi pikiran bagaimana kondisi ayah ya, kenapa mas Dava belum sampai juga katanya sudah di jalan tapi kok sampai sekarang belum kunjung sampai. Apa terjadi sesuati dengan ayah mertua.
Karena ibu melihat aku melamun akhirnya ibu bertanya."Nak! kamu kenapa sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari ibu? karena ibu melihat kamu seperti tertekan dan pikiran, ada yang ingin kamu sampaikan ke ibu nak? Jika terjadi sesuatu tanpa pengetahuan ibu kamu kasih tahu saja nak jangan nutup-nutupi dari ibu" aku terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari ibu membuat aku gugup.
"Ah tidak ada bu, Dinda tiba-tiba saja ingat sih kembar di rumah padahal mereka berdua di jaga oleh suster. Ibu tadi kata dokter ibu harus banyak istirahat dan ibu jangan banyak pikiran jadi saran Dinda lebih baik ibu istirahat lagi kalau ibu belum ingin makan" ujarku.
"Nak...! Dava sudah sampai dimana mereka sudah dekat belum? Kalau mereka belum pulang lebih baik kamu pulang saja lihat kembar dulu biarkan ibu sama suster aja disini tidak masalah" tanya ibu.
"Katanya sudah di jalan menujuh kesini bu tapi Dinda juga tidak tahu sudah dimana, memangnya ada apa bu, ada yang ingin ibu sampaikan? Dan soal sih kembar tidak masalah bu biarkan mereka sama suster saja lagiam asip Dinda sudah siapkan jadi tinggal di kasih aja"Tanya ku.
" Perasaan ibu tidak enak nak, ibu merasa ada sesuatu terjadi tiba-tiba ibu pengen telpon ayah kamu, tapi kalau kata Dava sudah di jalan ya sudah tidak perlu telpon palingan sebentar lagi mereka sampai, tapi kamu sudah bolang nak kalau ibu di rumah sakit?" ujar ibu
"Sudah bu, makanya mas Dava katanya lamgsung kesini."
"Justru itu bik, lebih baik bibi istirahat saja nanti kalau kakak Dava sudah sampai dengan paman barulah Ririn bangunkan bibi yakan kakak Dinda"? Pinta Ririn.
"Iya Rin" jawabku karena Ririn mengedipkan matanya
Karena ibu tidak tahan dengan bujuk rayu aku, Ririn dan kakak Dea akhirnya ibu istirahat dan kami kembali keluar menunggu kedatangan mas Dava, sebenarnya bisa kami menunggu di dalam sambil menjaga ibu hanya saja aku takut pas mas Dava datang ibu kembali bangun dan mendengar semua, bisa jadi ibu kembali drop. Jadi kami niarkan suster saja yang menjaga ibu.
"Sus, kami keluar dulu ya tolong jagain ibu dengan baik kalau ada apa-apa panggil kami aja, kamu boleh istirahat selagi ibu masih istirahat." Ujarku menyuruh suster istirahat tidak masalah.
"Baik nona muda"
Aku, Ririn dan Kakak Dea keluar dari ruangan tadi bibi dan Elsa katanya mau datang tapi aku tidak mengijinkan karena bibi juga sakit jadi biar saja bibi istirahat di rumah karena sudah minum obat.
__ADS_1
Setelah kami keluar baru aku merasa sangat lapar karena belum makan siang sekarang sudah jam dua belas lewat, aku mengajak Ririn dan kakak Dea ke kantin untuk beli makanan kita jaga orang sakit jadi harus punya kondisi tubuh yang sehat juga, jangan kita sibuk menjaga orang sakit sampai kita lupa makan akhirnya ikut drop makin runyam. Sekarang masalah dalam keluarga sudah sangat banyak jadi aku tidak mau menambah masalah lagi, entah kondisi ayah bagaimana belum ada kabar dan belum ada tanda-tanda mereka sampai rumah sakit.
"Rin, kakak Dea makan yuk kalian lapar tidak? aku sangat lapar nih, kita juga butuh asupan nutrisi jangan kita tidak makan nanti sakit bagaimana aku juga harus menyiapkan asip untuk kedua kembar jadi aku harus menjaga kesehatanku juga."
Jadi selama ini Dinda tidak ingin Grey dan Gretta hanya minum susu formula aja tapi Dinda juga telah menyiapkan Asip untuk kedua anaknya, jadi Dinda harus jaga kesehatan jangan sampai Dinda sakit.
"Ya sudah kakak kita ke kantin aja jangan sampai kakak Dava marah karena princess nya tidak di kasih makan apalagi air susu nya tidak keluar bisa gawat. Ririn tidak mau di amukan sama kakak Dava karena tidak kasih makan istri cantiknya."
Akhirnya kami bertiga menuju ke kantin dan langsung pesan makanan dan minuman, kami yang sementara makan, datang seorang dua orang suster yang kebetulan melewati depan kantin dan sedang membicarakan sesuatu.
"Ngeri ya Tuan Adinata kritis semoga Tuan Adinata tidak apa-apa, kasian aku lihat wajah Tuan muda sepertinya baru selesai menangis soalnya merah wajahnya." Ujar suster satu.
"Iya aku juga katanya kenah benda tajam dan baru selesai operasi di salah satu rumah sakit di sana, tapi kareja alat medis tidak memadai makanya di rujuk kesini, pucat sekali tadi wajah Tuan Adinata." Sambung temannya.
"Deg....! Jadi ayah mertua sudah datang"? Ujarku tiba-tiba.
"Kalian kalau masih mau makan lanjutkan saja, aku harus masuk kedalam karena mas Dava sudah datang kalian dengar sendiri bukan apa kata kedua suster tadi"? Tanyaku.
Namun kakak Dea dan Ririn juga tidak mau tinggal jadi kami langsung pergi setelah kami bayar dan minta terimah kasih namun barj selangkah, ada suara begitu lembut memangal aku.
"Nona muda ada disini"? Ujarnya.
Aku membalikan badan ternyata pak Erik dan dua orang pengawal berdiri di belakang kami bertiga.
"Pak Erik...sejak kapan disitu kok aku tidak melihat"?
__ADS_1
"Maaf nona muda kami baru tiba tadi rencana mau beli minum, dan kebetulan ketemu dengan nona muda disini, oh ya. Nona muda, nona Ririn dan nona Dea ngapain disini siapa yang sakit" tanya pak Erik berarti pak Erik juga belum tahu kalau ibu masuk rumah sakit.
"Ibu sakit pak Erik, kalau pak Erik dengan pengawal ngapain disini bukankah pak Erik baru pulang dari hutan"? Aku balik bertanya.
Aku sengaja melakukan itu aku mau tahu pak Etik jujur tidak sama aku, aku melihat wajah pak Erik terkejut mendengar pertanyaan dariku.
"Maaf nona muda, kami kesini bersama Tuan muda karena Tuan muda sudah mendengar kalau nyonya besar masuk rumah sakit sehingga kami antar Tuan muda kesini" ternyata pak Erik tidak jujur mungkin pak Erik belum tahu kalau mas Dava sudah memberitahu aku.
Aku menaikan kedua alisku membuat pak Erik menunduk" pak Erik bagaimana kondisi Tuan besar" tanyaku membuat pak Erik sontak mengangkat kepalanya dan menatapku.
"No...nona muda bicara apa, saya tidak mengerti."
" Pak Erik tidak perlu menyembunyikan apa pun dari ku karena aku sudah tahu semuanya, kalau Tuan besar lagi kritis" ujarku langsung berlalu pergi.
Aku, kakak Dea dan Ririn gegas pergi meninggalkan pak Erik dan pengawal masih berdiri di tempat, dengan tergesah-gesah kami melalui koridor rumah sakit dan menujuh ke ruang IGD, dari jauh aku sudah melihat mas Dava berdiri sambil mondar-mandi kayak satpam di depan pintu ruang IGD.
"Mas Dava!" panggilku.
Mas Dava langsung menoleh dan berjalan mendekatiku langsung memeluk ku.
"Sayang, ayah lagi kritis sekarang bagaimana dengan kondisi ibu sayang, kamu belum beritahu ibu bukan soal kondisi ayah" tanya mas Davs.
"Mas tenangkan dirimu dulu kita berdoa saja semoga ayah cepat sembuh, mas hutang penjelasan sama Dinda, kalau soal ibu Dinda belum beritahu ibu karena kondisi ibu masih lemah sekarang ibu lagi istirahat. Jadi mas tidak perlu kuatir, mas apa yang terjadi sebenarnya kenapa kalian bisa kecolongan begitu, kalian sebanyak itu masa tidak bisa menjaga diri dan menjaga ayah" ujarku agak sedikit emosi.
"Maaf sayang, ini kesalahan mas yang tidak bisa menjanga diri mas fokus ke depan sehingga tidak menyadari kalau ada seorang penjahat yang masih hidup."
__ADS_1
"Mas seharusnya pengawal itu selalu ekstra menjaga Tuannya kenapa mereka juga harus kecolongan begitu tapi sudah lah semua sudah terjadi jadi mau bagaimana lagi" ujarku agak sedikit kesal.