
Sekarang aku sudah didalam mobil bersama Gama untuk mengantarkan ayah kerumah sakit karena walaupun sudah di tangani oleh dokter Riski dengan alat medis terbatas sehingga darah segar masih keluar dari luka tusuk itu. sepanjang perjalanan aku merutuki kelalaian ku kenapa aku hanya fokus ke depan sehingga melupakan yang ada di belakang, tidak menyadari kalau ternyata ada penjahat yang masih hidup dan mengincar nyawah ku di belakang.
"Dokter bagaimana dengan kondisi ayah, apakah ayah baik-baik saja, tolong berikan penanganan terbaik kepada ayah dokter aku tidak mau terjadi apa-apa. " pintaku.
"Tuan muda tenangkan diri dulu jangan panik berdoa saja kepada Allah agar Allah memberikan kesembuhan kepada Tuan besar, semua yang terjadi sudah di atur oleh Allah. Memang kalau saya lihat luka tusukan ini sangat dalam itu yang mengakibatkan darah selalu mengalir keluar. Jadi segerah kita sampai di rumah sakit karena sekarang dokter dari rumah sakit Tuan muda dalam perjalanan juga ke sini." ujar dokter Riski.
Aku yang mendengar penjelasan dari dokter Riski, rasanya tidak berdaya aku pengen cepat sampai di rumah sakit agar ayah cepat di tangani sehingga aku menyuruh asisten Arfan mempercepat lajuh mobilnya. jangan sampai ayah tidak tertolong karena kelamaan di jalan.
"Asisten Arfan tolong mempercepat mobilnya biar kita cepat sampai di rumah sakit jangan sampai kita terlambat, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan ayah" ujarku, sebenarnya tadi pak Erik sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim ambulance tapi aku tidak sabar menunggu, kapan ambulance sampai jadi biar pakek mobil pribadi saja. Untung jalanan agak sepih jadi perjalanan kami tidak terkendala.
Kekuatiran dan ketakutan untuk kembali kehilangan mulai melanda ku, karena aku melihat ayah tidak bergerak dan wajahnya sangat pucat membuatku ketakutan. Ya Tuhan apa yang harus aku sampaikan ke ibu jangan sampai penyakit ibu kambuh gara-gara ayah sakit.
Hampir empat puluh menit akhirnya kami sampai di rumah sakit juga, ternyata tanpa ku sangka sudah banyak wartawan menunggu di loby rumah sakit. Kok bisa mereka tahu dari mana jika ayah mengalami musibah dan akan kami antarkan ke rumah sakit tersebut? Apakah pihak rumah sakit ingin mengambil ke untungan dari berita ini agar mereka mendapatkan banyak uang, tapi apa mungkin rumah sakit seburuk itu memanfaatkan kesempatan ini.
Setelah aku turun dari mobil ternyata dokter dan beberapa suster sudah menunggu di depan loby bersama wartawan itu, ayah sudah di turunkan dari mobil dan wartawan hendak mengambil gambar tapi dengan lantang Gama membentak mereka. Membuat para wartawan tidak jadi mengambil gambar.
__ADS_1
"Siapa yang mengijinkan para wartawan memgambil gambar orang, apakah sudah ada ijin jadi kalian seenaknya mengambil video dan gambar?siapa yang menyuruh kalian kesini? Kalau kalian ingin mendapatkan berita dengan valid lebih baik kalian tunggu saja disini sampai paman ku di periksa dokter, ingat ya kalau sampai ada video atau foto yang tiba-tiba viral dan dari kalian ada yang berani memposting sesuatu berbau dengan kasus yang terjadi pada paman saya, kalian tahu bukan apa akibatnya kalau kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan bersabar nanti ada waktunyĆ klarifikasih" ujar Gama.
"Tapi Tuan kami hanya penasaran dengan apa yang terjadi dengan Tuan Adinata karena kami barusan dapat telpon dari salah satu dokter di rumah sakit ini mengenai Tuan Adinata yang mengalami musiba." ujar salah satu wartawan.
Oh ternyata ada orang yang melaporkan ke wartawan. Biarlah mungkin mereka ingin rumah sakit ini juga terkenal karena kalau aku lihat rumah sakit ini agak jauh dari keramaian karena dekat dengan hutan itu. Sekarang pikiran ku lagi kacau jadi aku tidak ambil pusing dengan semua ini, yang aku pikirkan saat ini bagaimana ayah cepat mendapatkan penanganan agar ayah bisa sadar dari pingsannya.
Aku tidak memperdulikan Gama dan asisten Arfan lagi menangani wartawan, aku langsung ikut dengan ayah kedalam rumah sakit aku lihat dokter Riski ada bicara dengan dua orang dokter sambil nganguk-ngaguk kedua dokter itu.
"Dokter tolong berikan penanganan yang terbaik untuk ayah ku dokter aku mohon. Berapa pun biayanya dokter tidak perlu kuatir karena pasti aku akan membanyar nya asal ayah selamat dokter."
"Tenang Tuan muda kami akan berusaha untuk memberikan penanganan yang terbaik untuk Tuan Adinata, tapi mohon maaf Tuan muda tidak bisa masuk kedalam ruangan jadi Tuan muda tunggu disini saja" ujar Seorang dokter.
Dan benar saja memamg pak Erik kerja cepat empat dokter dan tiga suster di kirim dari rumah sakit Adinata sampai juga disini. Tuan muda apa yang terjadi dengan Tuan Adinata"? Tanya seorang dokter yang memang sangat mengenal kami.
"Ceritanya panjang dok, tolong berikan penanganan yang terbaik ya dokter"
__ADS_1
Setelah sekilas kami menyapah akhirnya keempat dokter itu berlalu pergi dan mempersiapkan semua untuk melakukan operasi terhadap ayah. Ya Allah aku rasanya tidak kuat melihat ayah tidak berdaya seperti itu. Aku sendiri menyaksikan ayah di bawah masuk kedalam ruang operasi aku terduduk lemas di ruang tunggu saat, aku berdoa dalam hati semoga operasi ayah berjalan dengan lancar dan tidak terjadi sesuatu.
Hampir tiga puluh menit aku duduk disini tapi belum ada tanda-tada untuk dokter keluar dari dalam ruangnya sangking tidak tenangnya aku bangkit berdiri dan mondar mandir.
"Kakak tenangkan diri kakak, jangan cemas begini percaya saja paman pasti baik- baik saja, Gama yakin paman pasti kuat dan bisa melewati ini semu, sebenarnya pengawal sudah lalai dalam menjaga kakak begitu juga Gama sudah lalai sehingga bisa terjadi seperti ini, tadi kita lebih fokus dengan bajingan-bajingan itu sehingga jadi tidak menyadari jika ada seorang penjahat masih hidup di belakang kita, Gama juga berpikir kalau mereka semua sudah meninggal, untung paman datang tepat waktu kalau tidak mugkin sekarang kakak yang ada di posisi paman sekarang"
"Sudah Gam jangan saling menyalakan diri kita masing-masing toh semua sudah terjadi, sekarang yang kita pikirkan bagaimana caranya biar ayah cepat sadar, aku takut Gam kalau ibu dan yang lain tahu bagaimana aku harus jawab apa kalau mereka bertanya." ujarku senduh.
"Tuam muda tenangkan pikiram Tuan muda dulu, percaya lah semua akan baik-baik saja sekarang kita banyak berdoa agar operasi Tuan besar berjalan dengn lancar."
Kami bertiga kembali diam, tiba-tiba hp ku berdering dan yang membuat jantungku hampir lepas dari dadaku saat aku melihat nama yang terterah di layar hp, kenapa tiba-tiba ibu telpon ya, termyata aku tidak sadar kalau sudah ada pamggilan dari Dinda. Kenapa Dinda dan ibu telpon bersamaan ya apakah mereka sudah tahu.
"Kakak angkat telponnya kenapa di lihatin begitu siapa yang telpon kakak" tanya Gama.
Saat Gama melihat nama yang terterah disitu langsung membulatkan mulutnya dan matanya melotot ke ara ku terkejut.
__ADS_1
"Astaga gawat kalau bibi tahu paman di rumah sakit bagaimana, itu juga ada telpon dari kakak ipar, saran Gama lebih baik kakak tenangkan diri dan bicaralah dengan bibi jangan membuat bibi curiga karena kakak tidak berani angkat telpon darinya begitu juga dengan kakak ipar. Justru kalau kakak tidak angkat itu menimbulkan kecurigaan bagi mereka."
Betul juga yang di katakan Gama lebih baik aku angkat walaupu. Bohong tidak masalah dari pada Dinda dan ibu curiga. Aku hendak mengankat telpon namun tiba-tiba mati karena mungkin kelamaan, aku tidak berani telpon balik sehingga aku biarkan saja tunggu telpon ulang dari ibu dan Dinda namun kali ini bukan hp ku yang berdering melainkan Gama.