
Aku menatap Hellen dengan nyalang, karena tingkahnya membuat aku enosi. Lancang sekali tangan kotor itu mau menyentuh aku padahal dia tahu aku sudah punya istri, lagian kalau seandainya aku belum menikahpun belum tentu aku mau disentuh.
"Anda siapa dan atas ijin siapa anda menyentuh saya, maaf nona saya phobia dengan wanita yang tidak muhrim dengan saya, anda memang cantik tapi istri saya jauh lebih sempurna jadi tolong jika anda tidak mau di antara anggota tubuh anda ada yang hilang lebih baik anda menyingkir. Dan jangan halagi jalanku dari pada saya berlaku kasar pada kalian dan teruntuk kamu Lexza.
Jangan kamu ngaku kalau istri saya adalah saudara kamu karena kamu itu bukan siapa-siapa apalagi tadi kamu bilang apa? ibu siapa yang sakit dirumah, ingat setelah kejadian penyiksaan di rumah itu dan setelah istri saya keluar dari rumah itu disitu juga hari dimana kalian putus persaudaraan atau kamu mau saya sebarkan video itu biar semua publik tahu seperti apa bobrok keluarga Winata terhadap putry bungsunya.
Masih punya muka juga kamu mengaku sebagai kakak dari istri saya, atau karena kamu sudah tahu siapa suami Dinda yang miskin dan seperti yang kalian bilang rakyat jelata tiba-tiba jadi orang kaya. Mau ambil simpati agar kalian dikasih hani" aku mengalihkan pandanganku ke arah kedua perempuan itu" Dan kalian berdua jika belum mengenal siapa dia lebih baik jangan dekat dengan manusia toxic ini takutknya sifat kalian menjadi arogan dan egois seperti dia banyak sekali bicara nya"
Aku menarik tangan Dinda dan hendak pergi tapi aku kembali membalikan badan dan menatap ketiga perempuan itu yang masih berdiri terpaku di tempat sembari berkata lirih. " O, ya. Satu lagi tolong sampaikan kepada ibu kamu yang terhormat itu karena dia akan mendapatkan hadia dari aku dan Dinda, secepatnya suruh dia menyiapkan mental yang kuat takutnya dia kembali masuk rumah sakit."
"Dava....Dinda dasar kurang ajar kalian ya, tidak apa-apa kalian tidak mengundang aku sebagai kakak kamu sengaknya berikan kompesasi ke dua miliyar untuk aku cukup, masa tidak ada sama sekali, awas yang akan ku balas perbuatan kalian.
Aku tidak perdulikan teriakan dari Lexza, lagian gak penting juga untuk apa diladeni makin pusing,
Aku dengan Dinda pergi ke tokoh perhiasan ternyata mbak penjaga tokoh sudah tahu kalau kami akan datang, jadi dia sudah menyiapkan kalu berlian bermata sangat indah sekali.
"Selama siang mbak" Dinda menyapa sih mbak tersebut aku hanya diam saja melihat Dinda interaksi dengan mbak untuk menanyakan harga kalung dan kualitasnya.
"Selamat siang nona, Tuan muda selamat datang di tokoh kami, satu kehormatan bagi kamu nona kembali berkunjung kesini, ini adalah kalung berlian dengan harga lima miliyar. Hanya ini satu-satunya nona dan tidak ada yang lain seperti ini kalau model yang lain banyak tapi ini yang paling bagus."
__ADS_1
Mbak penjaga tokoh, menjelaskan dengan detail aku hanya nyimak saja tapi kalau aku lihat memang kalungnya bagus banget dan sangat cocok dengan Dinda apalagi akan dia adakan acara besar ulang tahu perusahaan Adinata grup ini persiapan untuk Dinda sebentar lagi aku mau ibu dan Dinda tampil sempurna.
Dinda menatapku minta persetujuan aku menganggut saja, ternyata Dinda tidak beli cuman satu dia beli dua kalung katanya satu untuk ibu dan satu untuknya kalau yang satunya lagi gak kalah indah liontinnya bermata biru berbentuk love.
"Wah....sangat indah sekali sayang, kamu mau beli kedua nya?" tanyaku memastikan.
"Iya mas tidak apa-apakan, ini untukku dan ini untuk ibu sepertinya ini sangat cocok sekali untuk ibu, kalau ibu pakek ini makin cantik, ibu bukan hanya cantik wajah tapi cantik hati juga makanya semua orang menyukainnya"
"Iya sayang pasti ibu sangat senang apalagi ini pemberian dari putry kesayangannya, sesuai dengan bentuknya cinta. Karena kamu juga memberikan hadia kepada ibu dengan penuh cinta" ujarku justru membuat Dinda sedih.
"Kamu kenapa sayang kok sedih begitu...dari tadi senang kenapa sekarang justru sedih sih apa yang membuat kamu sedih"
Oh, jadi ini masslahnya membuat Dinda sedih istriku dari dulu tidak perna berubah selalu mementingkan perasaan orang lain sampai tidak peduli dengan perasaannya sendiri, tapi justru hal itu membuat orang-orang menilainya dengan buruk merendahkannya seperti kekuarga Winata. Ah lupakan saja itu tidak perlu di ingat lagi.
Aku merangkul tubuhnya dan membalikan badan menghadap aku, aku tidak peduli banyak pasang mata menatap kami dengan nyalang, ada yang memuji katanya pasangan romantis ada juga yang menatap tidak suka mungkin dia masih jomblo makanya iri melihat aku dan istriku romantasi, sedangkan pelayan tokoh hanya senyum sendiri dari tadi.
Aku membelai anak rambut istriku, dan berikan senyum termanisku padanya. Agar dia tidak sedih.
"Sayang kamu jangan salah menilai ibu, mau barang ibu semahal apapun yang sudah ibu beli, menurutnya itu tidak ada arti dan harganya tidak sebanding dengan pemberian dari putrynya, walaupun harga hanya dua miliyar tapi jika kamu yang berikan bagi ibu itu adalah hadia termahal yang pernah ibu miliki, ibu tidak butuh barang mahal ibu hanya butuh ini" aku tunjuk dadanya.
__ADS_1
"Kamu berikan dengan hati yang tulus itu sudah lebih dari cukup kita lihat saja nanti reaksi ibu seperti apa, karena selama ini mas anaknya tapi mas tidak perna berikan hadia untuk ibu. Jadi kalau kamu berikan hadia untuk ibu mas yakin ibu sangat bahagia dan terharu."
"Benarkah itu mas, mas yakin ibu senang"
"Iya mas yakin sekali"
Akhirnya Dinda membeli kedua kalung itu dengan harga selangit aku hanya terkekeh melihat Dinda masih ragu beli kalung itu, istriku kadang lucu juga, masa sama musuh dengan membawah bendah tajam dia sama sekali tidak takut tapi hanya menghadapi ibu saja dia takut setegah mati, mungkin dia sudah trauma dengan kejadian bu Anjani ibu kandung saja sudah memperlakukannya seperti biadab apa lagi mertu pikirnya.
Ibu adalah wanita yang sangat berharga bagiku kalau ayah marah itu hal bisa kalau ibu marah itu ketakutan terbesar bagiku jangan sampai aku membuat ibu marah. Kalau dipikir-pikir sama juga kayak menantunya kaya harimau betina hahaha.
Gila kamu Dava...anak tidak ada adab masa bilang ibu dan istrinya harimau.
Setelah Dinda selesai melakukan transaksi, kami berdua kembali berjalan mengelilingi mall, namun tiba-tiba mata itu tidak sengaja menangkap sepasang cewek dan cowok lagi Asyik bercanda sambil makan e
s krim kok kayak mereka.
"Loh...kok kamu disini"?
__ADS_1