
Ibu yang mendengar Dinda kembali di hina oleh bu Anjani hendak melayangkan tamparan ke pipi bu Anjani tapi langsung di tahan oleh Dinda.
"Ibu, jangan mengotori tangan suci ibu sayang kalau tangan ibu sudah bersih kembali kotor karena kena comberan, jangan buang-buang tenanga ibu hanya untuk manusia sampah ini, ternyata dia belum kapok juga mungkin luka tusuk di tangannya belum sembuh makanya dia mau menjemput kematiannya disini, biarkan saja bu dia mau bicara apa tidak perlu di hiraukan lagian gembel seperti ini bisa apa tinggal masukan kedalam kuburan, dan kamu Lexza ternyata kalian berdua satu server ya ibu sama anak sama tidak ada bedahnya munafik dan tidak punya malu.
Sejak kapan anda mengeluarkan banyak biaya untuk kehidupanku, kalau anda lupa biar aku ingatkan dari kecil sampai aku besar aku dibesarkan dari uang hasil kerigat ayah Evan bukan uang kamu, jangan kamu lupa ya dengan asal-usul dari mana kamu asal. Jadi tolong jangan banyak bermimpi cepat bangun dari mimpi panjang kalian berdua, aku sudah tidak sudih berhubungan dengan kalian berdua. Dan kita bukan keluarga apalagi saudara." Ujar Dinda.
Mendengar perkataan Dinda Lexza dan bu Anjani tertawa renyah.
" Hahaha...ibu dengar sendirikan apa kata anak bungsu ibu dia lupa kalau darah ibu mengalir dalam tubuhnya yang sudah ibu susa paya melahirkan, tapi justru dia menyangkal kalau kita tidak ada hubungan darah dengannya, kamu tidak tahu diri banget Dinda padahal ibu sudah melahirkan kamu darah keluarga Winata mengalir di tubuh kamu, kalau seandainya ayah masih hidup pasti ayah menyumpahi kamu karena sudah menyangkal hubungan darah dengan aku dan ibu."
"Iya betul anak durhaka ini lupa kalau aku yang sudah melahirkannya dan ikatan keluarga itu tidak bisa di hilangkan tapi berani-berani nya dia bicara begitu, baiklah kalau memang kamu tidak mau ada ikatan darah di antara kita tidak masalah tapi aku mau kamu buktikan ke aku kalau kita bukan keluarga lagi kalau berani kamu memberikan bukti aku tidak akan menganggu kamu lagi."
"Oh, anda minta bukti? baiklah akan aku berikan bukti kepada anda biar anda puas" setelah Dinda bicara demikian dia justru berlalu pergi dan tidak lama kemudian dia kembali ternyata ada belati di tangannya, kami bingung untuk apa silet itu.
"Sayang untuk apa belati itu mau ngapain" tanyaku tapi justru Dinda kenangapi dengan senyum.
"Tenang aja mas, nanti juga mas akan tahu apa yang Dinda lakukan biar manusia ini puas dan sesuai dengan janjinya tidak akan mengangu Dinda lagi, tapi awas saja kalau dia masih mau menganggu ku bunuh dia nanti."
__ADS_1
"Iya tapi apa yang mau kamu lakukan sayang jangan macam-macam" ujarku panik.
"Hahaha lakukan saja aku mau lihat berani tidak kamu lakukan palingan kamu hanya gertak aja tapi tidak berani melakukannya."
Sreeetttttttt!.
"Sayang!.....apa yang kamu lakukan " teriak aku hampir bersamaan dengan ibu dan ayah. Darah sengar mengalir dari tangan Dinda dan Dinda biarkan menetes begitu saja sedangkan aku karena panik aku teriak memanggil dokter Risky.
"Dokter Risky cepat kesini" teriakku dan tidak lama dokter Risky datang, namun Dinda tidak mau di obati oleh dokter Riskiy justru Dinda masih membiarkan darahnya menetes.
Wajah bu Anjani terlihat pucat pasih, mungkin bu Anjani tidak percaya kalau ternyata Dinda senekat itu memutuskan kekeluargaan dengan mereka sampai melukai tubuhnya. Karena darah tidak berhenti mengalir jadi aku langsung memengang tangan Dinda dan aku menyuruh dokter Riski mengobati tangan Dinda.
"Dokter Risky cepat obati luka istri ku jangan sampai istriku kehabisan darah nanti gara-gara manusia ini biadab ini keluar kalian dari sini keluar!....." aku benar-benar murka dengan perempuan ular ini. Walaupun aku sudah usir mereka tidak mau keluar masih aja berdiri disitu.
"Enak aja suruh kami keluar, aku tidak akan keluar dari sini kalau besan tidak kasih aku uang lima ratus miliyar, kalau besan tidak mau berikan aku tidak mau pulang dan aku juga ingin nginap disini, biarpun anak itu sudah melukai dirinya tapi aku tidak peduli aku tetap minta uang" ujar perempuan itu karena aku emosi aku langsung teriaki pengawal untuk menyeret kedua orang itu keluar.
"Pengawal....seret kedua manusia ini keluar dari sini dan dan jangan perna membiarkan mereka masuk kesini lagi."
__ADS_1
"Eeehhh....jangan macam-macam kalian aku belum mau keluar dari sini lepaskan aku pengawal rendahan, kalian tidak tahu siapa aku lepaskan besan jangan dia aja tidak sopan pengawal besan menyeret keluarga Dinda seperti ini" ujar bu Anjani.
"Bajingan lepaskan aku bisa keluar sendiri tidak perlu menyeret kita juga kamu pikir aku tidak punya kaki" ujar Lexza.
"Pengawal bersihkan hama itu dari rumah ku karena datang mengotori setiap sofa dirumah ini bawah mereka keluar dari sini, dan aku tidak ingin melihat mereka lagi jangan sampai mereka masih di luar kalau mereka tidak mau pergi bila perlu seret mereka sampai di jalan raya sana" ujar ibu.
"Dinda...jangan usir ibu nak , ibu sudah tidak punya tempat tinggal lagi ibu mau tinggal disini bersama kamu, kenapa kamu tega melakukan ini sama ibu nak tolong bicaralah dengan mertua dan suami kamu biar ibu tetap disini"
"Nyonya Anjani sekarang anda tidak punya apa-apa lagi dan bahkan perusahaan anda pun sudah menjadi milik keluarga Adinata jadi besok putra saya akan ke perusahaan Winata."
"Tidak....itu perusahaam saya besok saya juga akan datang kesana awas ya"
Dinda tidak mengubris teriakan bu Anjani jadi pengawal menyeret ibu Anjani dan Lexza keluar dari rumah, dan menghempaskan mereka ke luar gerbang setelah iti pengawal tutup kembali gerbang dan membiarkan mereka di luar, padahal sudah diluar bukannya pulang saja mereka berdua masih teriak-teriak luar gerbang.
Pengawal kembali masuk kedalam dan memberitahukan kalau bu Anjani dan Lexza sudah di luar gerbang, baguslah pikirku biarkan mereka pulang saja ke tempat dimana mereka tinggal, bisa jadi sekarang mereka tinggal di kontrakan karena mereka tidak punya uang semua atm bu Anjani dan Lexza di blokir oleh bank, bisa jadi mereka dapat uang dari Kenedy makanya mereka datang kemari.
Ah bodoh amat aku tidak peduli mereka mau punya uang atau tidaknya yang penting kereka tidak akan menganggu aku dan istriku lagi jangan sampai mereka kembali datang.
__ADS_1