
Jujur Aku pengen ngakak mendengar kejujuran dari kakak Dea awalnya suasana haru sekarang berbalik jadi suasana bahagia karena ternyata kocak juga kakak Dea. Aku lihat ayah mertua dan istriku hanya senyum-senyum sendiri.
" Berarti selama ini kakak Dea tidak menerima aku sebagai adik ipar kakak karena berharap punya adik ipar anaknya orang kaya itu begitu kah maksud kakak"?
"Ah.. kamu yang terbaik dik sebagai adik ipar...biarpun Dinda tidak jadi nikah dengan anak orang kaya itu tidak masalah Dav karena kebahagiaan adikku lebih penting, jika adikku bahagia dengan pilihannya berarti aku juga memilihnya apalagi ayah juga sangat setuju, maaf ya tadi kakak tidak bermaksud bicara begitu tapi karena kamu bertanya makanya aku jawab hehehe."
"Hahah...tapi gini kakak kalau seandainya harapan kakak itu ternyata jadi kenyataan apa yang kakak lakukan"?
"Maksudnya gimana"? Tanya kakak Dea
"Maksudnya kalau harapan kakak menjadikan putra tunggal Tuan Adinata menjadi adik ipar kakak bagaimana apa yang kakak lakukan"?
Aku perhatikan gerak-gerik kakak Dea setelah itu dia tersenyum sembari berkata lirih" yang pasti aku sebagai kakak bangga dong dan aku akan memeluknya dan menitipkan adikku yang paling cantik dan imuts ini kepadanya, karena aku yakin dia pria yang baik jadi bisa membahagiakan adik aku. Tapi mustahil sih dia mau dengan putry dari keluarga berantakan kayak kami susa mah."
Awalnya berapi-api kakak Dea bicara tapi setelah kata terakhir dia terlihat senduh.
"Kakak masih ingat tidak nama panjangku waktu aku dan Dinda Ijab kabul"?
" Ingatlah tapi bukankah nama kamu waktu itu Dava Parmadi apa yang salah dengan nama kamu disitu bambang hehehe"
Dinda yang dari tadi diam saja sekarang ikut nibrung juga mungkin Dinda lihat kakak Dea lodingnya lama kali makanya Dinda tidak sabar.
__ADS_1
" Kakak masih ada satu kata lagi dibelakang loh masa kakak gak tahu"
" Bagaimana aku gak lupa waktu itu lihat wajah perempuan licik itu kayak singa yang mau menerkam mangsanya jadi tidak fokus."
" Nak, nama terakhir Nak Dava Itu adalah Adinata...Dava Parmadi Adinata." Sambung ayah.
"Oh bagus juga namanya.....apa....Adinata"?
Awalnya dengan santai kakak Dea kembali menyebut namaku tapi berapa detik kemudian justru berteriak kembali menyebut nama belakang mungkin baru sadar dengan nama itu.
"Iya kakak Adinata" jawanku memperjelas.
"Be...berarti kamu putranya Tuan Adinata Dav...gak ...gak mingkin .kamu pasti bohong Dav aku gak percaya." pekik kakak Dea dia terkejut sampai menutup mulutnya gak percaya kalau aku benaran putra tunggal dari Tuan Adinata.
Untung juga aku dan Dinda terus ayah ibu perna foto bareng jadi...biar aku kasih tunjuk ke kakak Dea biar kakak Dea percaya kalau aku memang anak Tuan Adinata.
Kakak Dea sampai menutup mulutnya melihat foto itu..dia kembali menatapku dan memastikan itu memang aku bukan orang lain.
" Ya ampun Dav...aku benar-benar seperti mimpi punya adik ipar orang kaya haahha....sini aku peluk kamu sesuai janjiku aku akan memeluk kamu...dek ijin ya aku mau peluk adik iparku sekali saja."
Ayah mertu, Dinda dan pak Reno tertawa aku apalagi rasa lucu dengan kakak Dea aku mendekat dan memeluk kakak Dea aku sudah agap kakak Dea kakakqu seperti adik memeluk kakaknya.
__ADS_1
" Maafkan kakak ya Dav..mungkin kakak sudah perna menyakiti perasaanmu dan adik Dinda maafkan kakak. Titip Dinda jaga dia dengan baik jauhkan dia dari perempuan iblis itu."
" Jujur ya Dav aku benar- benar terkejut tahu kalau kamu ternyata adalah Tuan muda putra Tunggal dari Tuan Adinata ini suatu kebanggaan untuk kami Dav, mimpi ingin menjadikan putra tunggal Tuan Adinata menjadi adik ipar jadi kenyataan. Makasih ya Dav waktu kamu di kediaman kami kamu dihina dan direndahkan tapi kamu tidak perna membalas bahkan kamu tidak mau meningalkan adik ku."
"Kalau perempuan itu Tahu kamu Tuan muda Adinata mungkin dia langsung muntah darah, ingat jangan sampai kamu di perdaya olehnya apalagi dia tahu kalau kamu Tuan muda pasti banyak cara yang ia lakukan untuk menarik simpati kamu dan Dinda untuk memaafkan dan kembali ke rumah itu jangan mau di bodohin."
Mulai muncul cerewet kakak Dea menasihati.
" Kakak tenang saja aku bukan pria yang muda diperdaya apalagi adiknya kakak, oh ya mana barang-barang yang kakak bawah tadi biar kita buka saja disini dan kita lihat bersama karena sudah ada ayah disini nanti setelah selesai baru kita membahas apa yang harus kita lakukan."
" Mungkin ada juga yang mau ayah sampaikan ke kakak Dea dan istriku tapi setelah kita memeriksa barang bawaan kakak Dea dulu dan bagaimana kalau kita kembali ke ruang tamu biar bisa santai duduk disana masa kita betah dikamar ayah haahha"
" Hahaha....benar juga yuk kita keluar sana kakak, yah...untuk duduk sambil bahas rencana apa yang harus kita lakukan terjadap perempuan iblis itu."
Karena kondisi kakak Dea sudah membaik jadi kami kembali duduk di ruang tengah karena ada yang mau kami bahas, tentang bagaimana kami harus menyingkirkan bu Anjani apalagi anak sama ayahnya sudah berkumpul.
Setelah sampai kami di ruang tengah dan suadah siap ambil tempat duduk masing-masing kakak Dea mengambil tas ransel yang dibawah tadi dan meletakan diatas meja sambil menatap kami satu persatu.
"Ayah...didalam tas ransel ini isinya adalah semua harta yang tertinggal didalam kedua brangkas yang ada dirumah, awalnya Dea berencana mengambil semua dan memberikan kepada adik Dinda untuk menyimpan semuanya tapi karena sudah ada ayah jadi sekarang Dea serahkan kepada ayah."
"Cobak ayah buka dan lihat isinya Dea hanya tidak ingin perempuan jahat itu menikmati harta yang bukan miliknya, Dea pikir ayah sudah tidak ada jadi Dea sengaja mengambil semua ini untuk membagikan dengan adik Dinda karena kalau ayah tidak ada berarti yang berhak hanya Dea dan adik Dinda bukan perempuan sialan itu dengan anak haram itu ada banyak hal yang ingin Dea tanyakan kepada ayah tapi biar selesai satu-satu dulu."
__ADS_1
Kakak Dea membiarkan ayah mertua yang mengeluarkan barang-barang itu dari dalam tas ransel...wah...ternyata banyak banget barang didalam tas yang kelihatan pertama adalah emas batangan hahaha....kakak Dea kayak maling saja baru pulang bongkar bank heeh.