
Aku mendengar Dinda bicara begitu jadi ragu mau memberitahu kalau Lexza minta ketemuan, tapi tidak masalah aku kasih tahu saja dulu kalau Dinda mau ketemuan biar aku antar.
"Kita tunggu saja saya terimah kabar dari ayah tapi menurut mas kalau berurusan dengan bu Anjani sangat sulit, apalagi nanti ayah tidak ikut ke rumah yang datang hanya pihak bank jadi bisa jadi bu Anjani mengelak, ayah katanya nanti kasih kejutan untuk Anjani di perusahaan bukan di rumah." ujarku.
"Iya mas, Dinda tahu tapi biar saja itu urusan mereka deh Dinda tidak mau ikut campur soalnya kalau Dinda yang datang kemungkinan bedah cerita tapi bagaimana dengan kakak Dea"
"Astaga sayang tidak perlu kuatirkan kakak Dea karena pihak bank datang bukan langsung usir hari itu juga, pasti di berikan waktu dua sampai tiga hari untuk berkemas barang, kakak Dea kan sudah tahu jadi pasti dia santai saja yang di usir dari rumah itu kan bu Anjani dengan Lexza kalau paman Gibran dan bibi Lya mereka pergi ke rumah peninggalan kakek sayang"
"Oh, iya Dinda lupa mas hehehe..." ujar Dinda terkekeh.
Biar aku beritahu Dinda saja karena sepertinya Dinda belum buka hpnya.
"Sayang maaf ya semalam mas lancang membuka hp kamu, jadi tidak sengaja membuka pesan dari Lexza minta ketemu dengan sayang hari ini dirumah makan, jadi kamu mau ketemu tidak dengannya tapi sore ketemunya."
Dinda mengeryitkan kedua alisnya bingung kenapa Lexza minta ketemuan.
"Ngapain perempuan itu minta ketemuan tumben sejarah seorang Lexza hubungi tiba-tiba ada apa gerangan" ujar Dinda.
"Mas Juga tidak tahu sayang, mas saja kanget tiba-tiba dia wa. Sebenarnya dia telpon tapi karena sayang tidak angkat jadi dia kirim pesan jadi bagaimana kamu mau ketemu dengannya? kalau kamu mau tunggu mas ke kantor dulu nanti baru asisten Arfan datang menjemput sayang di rumah dan antar ke kantor baru jam lima kita ketemu dengan Lexza, karena kalau sayang ikut mas ke kantor takutnya sayang bosan disana" ujarku
__ADS_1
"Ya sudah mas tidak masalah nanti Dinda kesana sekitar jam tiga saja Dinda juga mau melihat keliling perusahaan mas, karena selama ini Dinda belum keliling perusahaan itu, atau nanti Dinda datang jam dua belas saja mas biar bisa bawain makan untuk mas nanti Dinda yang masak untuk mas bagaimana"
"Humm tidak perlu sayang kamu lagi hamil jadi tidak boleh kerja berat-berat kamu harus banyak istirahat oh ya nanti besok kita periksa dulu kandung kamu sayang, kita nanti langsung ke rumah sakit saja karena periksa terakhir minggu lalu."
Aku tidak mau istriku capek lagian dia tidak perlu masak susah ada chef dirumah mau makan apa tinggal di buat, istriku ratu ku jadi dia tidak boleh biarkan dia kedapur, dia cukup menemani aku saja.
Setelah aku selesai keringkan rambutnya aku hendak mau mandi karena sebentar lagi kami harus sarapan pagi aku biarkan Dinda make up didepan meje riasnya.
"Mas mandi lah biar Dinda siapkan pakian untuk mas," ujar Dinda
"Baik sayang" aku gegas kekamar mandi dan membersihkan diri hampir tiga puluh menit aku di kamar mandi, akhirnya keluar juga segar banget rasanya badan ini" saat aku keluar sudah mendapati istriku masih duduk di meja riasnya tapi sudah rapi dan tangannya di hp.
" Ia mas sudah, oh ya mas ini ada satu pesan baru ini mas tahu tidak ini nomor siapa berani-beraninya dia mengancam Dinda punya nyalih juga nih orang, kalau dia jagoan kenapa tidak tunjuk muka saja harus ngancam lewat pesan cemen mah, biarkan saja sepertinya Dinda tahu siapa orangnya dia mau macam-macam sama Dinda sekali lagi Dinda ketemu dia Dinda patahkan lehernya"
Sadis sekali istriku bilang mau patahkan leher orang tapi siapa ya yang ngirim pesan itu kata Dinda tahu siapa orangnya.
Setelah kami bersiap, aku langsung ngajak Dinda turun kebawah untuk sarapan bersama karena aku harus berangkat ke kantor ada pertemuan dengan klien, sementara ayah pergi ke anak perusahaan.
Saat kami turun kebawah tumben semua masih duduk di ruang tengah biasanya ayah dan ibu sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1
"Ayah, ibu kok ada disini bukannya sudah di meja makan?" Tanyaku
"Iya nak ayah dan ibu sengaja menunggu kalian yok kita pergi makan nanti makanannya dingin tidak enak, Ririn dengan Gama tumben kedua anak ibu belum keluar apa mereka masih tidur."
"Sudah bangun bibi"Hummm muncul mereka berdua bangus lah jadi tidak lams menunggu hehehe.
Kami menuju ke kemaja makan untuk sarapan pagi bersama ternyata menu pagi ini makanan kesukaan Dinda semua baru, saja kamu sampai matanya langsung berbinar aku pengen tertawa tapi karena di meja makan jadi takut ayah marah, belum perna terjadi sih ayah marah pas di meja makan jadi aku tidak berani tertawa.
Dinda langsung menyiapkan piring dan mengambilkan aku makanan begitu juga untuknya tapi membuat kami semua tahan nafas piringnya banyak sekali makanan, aku pikir tidak habis ternyata setelah kami makan astaga dia habiskan semuanya.
Tidak masalah lagian Dinda makan juga untuk dua orang bukan untuk dirinya saja, aku suapin dia makan sampai habis aku menyuruhnya tambah lagi tapi katanya sudah kenyang, setiap pagi pasti ada buah mangga di atas meja tidak ada yang protes hanya saja ibu dan ayah selalu bilang jangan banyak makan mangga nanti sakit perut.
"Nak jangan banyak makan mangga ya sakit perut kamu nanti makan mangga dengan buah yang lain"
"Iya bu tapi mangga lebih enak dan manis" astaga mangga manis dari mana lihat warna nya saja sudah ngiler gigiku asam banget, setiap kali Dinda makan mangga aku selalu menghidar jangan sampai aku di kasih makan mangga tapi nasib ku selalu buruk Dinda selalu berhasil memberikan aku makan mangga aku tidak bisa menolak .
"hahaha....mangganya asam kakak mana ada manis lihat wajah kakak Dava tanpannya langsung berubah, jadi jelek karena mangganya asam" ujar Gama semoga Dinda berikan juga untuk Gama dia merasakan bagaimana di posisiku.
"Ah...masa sih Gama ini kamu cobak enak loh manis banget coba saja dulu pasti kamu ketagihan deh kakak aja makan tidak merasakan asam, Lidah kamu yang bermasalah buktinya mas Dava makan aja tuh tidak perna komplain"
__ADS_1
Hahah kenah kamu kan Gama makanya jangan main-main sekarang giliran kamu yang merasakannya mau tidak mau dengan terpaksa Gama menerima mangga itu dan memasukan kedalam mulutnya semua tertawa melihat wajahnya langsung berubah tapi tetap dia makan mangga itu.