
Aku diam-diam memperhatikan istriku karena dari tadi justru senyum-senyum sendiri, membuat aku penasaran apa yang dilakukan oleh istriku sehingga dia senyum-senyum sendiri..
"Sayang kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri dari tadi mas lihat, kayak lihat sesuatu yang bikin hati kamu bahagia sayang."
"Tidak ada mas, ini Dinda lagi lihat-lihat baju baby yang imut dan sangat lucu kalau nanti anak kita lahir dan pakek ini pasti cantik atau ganteng sama kayak papinya tanpan." ujar Dinda.
"Ahmmm....ahumm....kakak ipar membuat teliga kakak Dava berdiri sebentar lagi sudah terbang" ujar Gama.
"Kamu tidak mau ya Gam ngakuain kakak kamu ini memang tanpan..kanu takut disaingi?" tanya ku pada Gama.
"Ya sih, memang kakak Dava tanpan tapi masih kalah dari Gama lah hehehe Gama lebih tanpan" perkataan Gama mengundang tawa.
"Iya, ya. Kakak mrngalah saja deh, biatpun kakak kurang tanpan menurut kamu setidaknya kakak sudah laku sedangkan kamu belum hehehe" ujarku.
Tidak lama kemudian kami sampai di butik ibu, banyak karyawan yang pergi memberikan hak pilih untuk calon presiden jadi tinggal manajer di butik.
Setelah mobil berhenti dengan sempurna kami semua turun dan masuk kedalam butik, Dinda dan Ririn mulai terpanah dengan semua gaun cantik itu apalagi Ririn sampai berbinar matanya kayak anak kecil yang minta permen sama ibunya pengen terbahak.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya" ujar manajer sopan ibu dan ayah menyapa mananjer dengan senyum."
"Astaga bibi, gaun cantik itu sepertinya cocok deh sama Ririn kalau Ririn yang pakek pasti cantik sekali." Ujar Ririn membuat ibu tersenyum dan mengerti apa maksud Ririn, ibu orangnya tidak pelit biar itu harga fantastis kalau anak cucunya minta ibu tidak perna menolak.
"Kamu suka nak gaun itu? Kalau kamu suka ambil saja, yang penting kamu sudah memakainya bibi kasih untukmu" ujar ibu.
"Serius bi? Bibi kasih ke Ririn, tapi gaunnya mahal loh ini bi menangnya bibi tidak rugi nanti"? Tanya Ririn memastikan.
__ADS_1
"Iya nak ambillah bibi kasih buat kamu, tisak perlu memikirkan itu kamu ambil aja nanti soal pembayaran kakak kamu yang bayar hehehe" astaga kenapa aku yang dijadikan kambong hitam.
"Hore....makasih banyak bi, akhirnya Ririn dapat gaun cantik, iya juga ya bi kenapa aku lupa kalau ada kakak ku disini"
Ririn senang banget dapat gaun dari ibu sedangkan dari tadi Dinda masih keliling belum ada yang Dinda pilih.
Karena Dinda hanya keliling tapi tidak memilih apa-apa, akhirny manajer menghampir kami dan bertanya ada yang bisa dia bantu.
"Tuan muda, nona muda ada yang bisa saya bantu, dibutik sebelah itu khusus untuk pria Tuang musa mungkin adan yang cocok dengan Tuan muda" tanya manajer.
"Saat ini belum ada yang perlu dibantu. Jadi manajer boleh kembali ke pekerjaan saja kalau ada nanti sayq akan panggil."
"Baik nona muda" manajer berlalu pergi.
Tiba-tiba ibu datang menghampiri kami dengan sebuah gaun di tangannya, kalau menurut aku gaunnya sangat cantik sekali kalau pakek ke acara pesta kolega.
"Wah....cantik sekali gaunnya Dinda sangat suka pas dengan tas dan haihils yang ada di rumah bu, makasih ya bu cantik sekali tapi ini berapa harganya bu mahal ini kan?" tanya Dinda
"Harganya tak seberapanya dibandingkan kamu, yang penting kamu suka semua ibu berikan bisa untukmu hehehe"
Inilah yang aku suka dari ibu dan istriku saling menyayangi satu sama lain Dinda tidak perna menganggap ibu sebagai ibu mertua, sedangkan ibu tidak perna menganggap Dinda hanya sebagai menatu melainkan mereka berdua menganggap sebagai ibu dan anak.
Dinda juga memilih baju pria untukku karena ada juga butik khusus pria dan wanita, Gama juga tidak mau kalah jadi dia juga ambil sedangkan pak Erik ibu ambilkan dia dua baju. Pak Erik terlihat senang banget dapat baju bagus dari ibu.
Setelah kami keliling akhirnya kami sudah cape dan saatnya kami kembali ke rumah, yang penting sudah dapat bagian masing-masing Dinda dapat dua gaun begitu juga Ririn mungkin mau pakek saat pergi kencan dengan Rafa mungkin.
__ADS_1
Namun sebelum kami pulang ibu masih ngobrol dengan manajer mungkin ibu mau tahu penjualan selama setu bulan ini.
"Manajer bagaimana dengan penjualan bulan ini mana yang laris dan mana yang tidak." tanya ibu.
"Syukur nyonya, penjualan bulan ini sangat meningkat sampai stok habis semua dan yang ini baru masuk kemarin, tapi karena sudah banyak pesanan jadi setelah barangnya datang tinggal di jemput sama pemilik makanya tinggal sedikit sebenarnya rencana hari ini order tapi karena pemilihan jadi banyak yang libur mungkin saya periksa semua nanti besok baru pesan lagi barangnya"
"Baguslah kalau begitu nanti kirim semua lewat gmail aja ya saya tungguh" ujar ibu
"Baik nyonya" setelah ibu selesai bicara dengan manajer akhirnya kami masuk kedalam mobil dan keluar dari butik untuk pulang kerumah karena Dinda juga sepertinya kecapean.
"Bi, makasih bajunya karena bibi sudah kasih gratis, soalnya kalau Gama disuruh beli Gama tidak ada uang bibi hahaha." ujar Gama kocak.
"Hahah kamu ya Gama bisa aja, uang ayah kamu banyak banget disitu masa kamu tidal ada uang bangaimana sih" ujar ayah.
"Iya nak sama-sama sebenarnya tadi bibi rencana suruh kamu bayar memang, tapi karena bibi tahu kamu tidak punya uang makanya bibi kasian hehehe"
Astaga baru kali ini aku dengar ibu bercanda bahkan tertawa lepas begini ini pertama kali makanya ayah sempat menoleh ke arah ibu juga. Syukurlah ternyata kedatangan Dinda kedalam kehidupan keluarga kami membawah perubahan bagi kami semua terutama ibu, sekarang ibu sudah sangat ceria tidak seperti sebelumnya jangankan tertawa senyum saja susa tapi kasih sayang dan perhatiannya tidak perna beruba.
"Itu bukan uang Gama, paman itu uang ayah kalau uang Gama ya Gama harus kerja dulu kayak kakak Dava, selama ini gaji Gama cukup untuk kebutuhan Gama uang bulanan dari ayah lima puluh juta itu yang Gama tabung paman"
"Enak kali kakak dapat lima puluh juga selain gaji nah Ririn dapat apa? Dua puluh lima juta dari ayah makanya Ririn sering korupsi dari kakak Dava, untung kakaknya Ririn yang sangat tanpan ini sangat mengerti kondisi adiknya kalau tidak, Ririn tidak bisa belanja. Kadang Ririn berpikir lebih baik Ririn jadi pembersih kamar kakak Dava dan kakak ipar saja biar Ririn di gaji besar soalnya gaji pelayan di rumah saja gajinya lebih besar dari uang jajanku gila nih"
Perkataan Ririn mengundang tawa semua, aku tidak menyangka anak ini bisa berkata begitu biking gakak aja.
"Hahaha...sepertinya kamu akar pahit ya dik sampai kamu mau jadi pelayan dirumah, kamu tidak perlulah jadi pelayan cukup kamu jaga diri kamu baik-baik saja, kakak berikan apa yang kamu mau makanya menikah biar dapat uang dari suami dari pada kamu jadi pembersih kamar kakak nanti saat kamu lihat atm kakak kamu mala bobol lagi"
__ADS_1
Hahahaha......