
Kedua orang tua Marlan masih meratapi mayat Marlan sedangkan Lexza sudah selesai di lepaskan. tapi mayatnya masih terletak di tanah belum di apa-apain.
"Pengawal bereskan semua ini, kita tunggu saja pengawal yang mengejar pelaku penembakan itu, tolong masukan kedua mayit ini kedalam kantong mayit dan akan di kuburkan dengan layak. Gabungkan Lexza di samping ayah nya ya, dan Marlan terserah kalian mau bawah kemana" ujar ku.
"Tuan besar, Tuan muda saya mohon biarkan kami membawah pulang jenasa anak saya, untuk di kuburkan saja di kampung tidak masalah bukan? Dan tolong ampuni kesalahan anak saya Tuan saya mohon. Tuan tidak perlu risau saya jamin tidak ada polimik lain semua aman" ujar kedua orang tua Marlan, kalau adiknya dari tadi hanya diam tapi air matanya tidak berhenti mengalir.
Kedua orang tua Marlan memohon kepada aku dan ayah, agar kami mengijinkan mereka untuk membawah pulang jenasa Marlan ke kampung, sebenarnya aku tidak ingin mereka membawahnya, karena Marlan meninggal bukan karena kecelakaan atau sakit tapi karena memang sengaja di bunuh, nanti timbul banyak pertanyaan di kampung tapi karena, ayah mengijinkan jadi aku juga hanya menurut saja.
"Baiklah boleh di bawah tapi , nanti di antar oleh pengawal dan saya pengang janji anda untuk menyembunyikan semua ini" ujar ayah.
Tidak lama kemudian Gama, Rafa dan pengawal kembali dengan menyeret dua orang.
Bukkkkkk...bukkkkk!
Dengan kasar pengawal mendorong kedua orang itu, dan seketika aku terkejut karena ternyata salah satunya adalah Kenedy, tapi aku heran kenapa tadi dia tidak menembak aku atau Dinda saat Dinda menghabisi nyawah istrinya.
"Maaf Tuan muda, ini orangnya yang tadi menembak pengawal Marlan dan ini salah satu pengikutnya, sebenarnya tadi target mereka adalah nona muda, hanya saja nona muda keburu masuk mobil", ujar pengawal.
__ADS_1
ternyata yang menembak itu adalah salah satu pengawal tua bangka itu, Angga. Tunggu pembalasan dari ku tua bangka, aku akan menyiksa kamu, istri dan anak kamu dulu baru aku membunuh kalian.
"Kakak sepertinya orang ini Gama kenal deh, bukankah ini suaminya Lexza kakak. Soalnya Gama perna ketemu dimana ya?" Tanya Gama.
"Hehehe...benar Gama, kita tidak perlu pergi cari manusia ini lagi. Karena dia sendiri yang menyerahkan nyawahnya, mungkin ini adalah hari dimana dia dan istrinya menghadap Allah. tidak perlu banyak bicara habisi saja mereka berdua dan kuburkan dia dengan istrinya satu tempat saja,, karena mungkin dia sudah tahu istrinya tewas jadi dia juga nyusul."
Aku tidak banyak bicara lagi karena mereka sudah di depan mata, jadi untuk apa di biarkan langsung habisi mereka saja, aku memang ingin hidup damai jadi kalau mendapatkan penghianat tidak perlu banyak bicara langsung habisi saja.
Belum sampat pengawal mengangkat senjata satu peluruh meleset kena tepat di perut Kenedi. Pengawal kalah cepat entah peluruh siapa itu.
Dorrrrrrrrr!
"Sayang...apa yang kamu lakukan bukannya sayang tadi di mobil dan tidak ingin keluar kagi? Kok tahu Kenedy ada disini, sayang tidak takut peluruh meleset terus kena orang lain."?tanyaku.
" Tidak mungkin mas Dinda sudah prediksi jadi tidak akan meleset dari target, Mas...tidak lupa bukan seperti apa bajingan ini memperlakukan Dinda dulu? Dinda masih hidup mas, jadi Dinda tidak lupa semua perbuatannya sekarang Dinda ingin dia menyusul istri tercinta dan ayah mertuanya. Hay Kenedi kita ketemu lagi tapi sayangnya kita ketemu bukan sebagai keluarga atau adik ipar dan kakak ipar, melainkan sebagai musuh, kamu yang memulai jadi aku yang akan mengikuti permainan kamu. Jangan kamu pikir tadi aku tidak melihat mu, justru aku melihat mu saat istrimu dapat tembakan terakhir. Makanya aku langsung masuk kedalam mobil karena aku tahu sebentar lagi akan ada pertunjukan" ujar Dinda.
Dinda datang mendekati Kenedi mencekik lehernya, tidak ada yang membantah setiap perkataan Dinda. Ayah saja tidak bicara apapun, bahkan kakak Dea dari tadi tidak bicara apa-apa waktu Dinda membunuh Lexza.
__ADS_1
"Asisten Arfan tolong berikan yang aku minta tadi, aku belum puas kalau manusia kejam ini meninggal begitu saja tanpa ada siksaan, hari ini sebelum kamu meninggal, kamu harus merasakan bagaimana di siksa. Dulu seperti apa kamu menyiksa aku sama-sama kejam" ujar Dinda, Kenedi tidak menjawab hanya menatap tajam ke arah Dinda sambil menahan rasa sakit.
Ya Tuhan sadis sekali istriku, aku sendiri merinding dengan sifat tegas istriku, yang membuat kami semua tercengang adalah asisten Arfan mengeluarkan kabel dari dalam mobil, astaga jangan bilang kalau Dinda strom Kenedi.
"Sayang mau buat apa semua kabel dan alat-alat ini" tanyaku.
"Nanti juga mas tahu, ini adalah akhir dari dendamku untuk mereka semua, jadi Dinda tuntaskan dengan cara ini, bagi semua pengawal jangan coba-coba jadi penghianat karena kalau itu terjadi aku yang melakukan ini terhadap kalian" aku dan ayah saling pandang begitu juga Gama, Rafa, kakak Dea dan mas Tahir. Ternyata benar filingku Dinda menyiksa Kenedy dengan cara menyetrom sampai Kenedy kesakita dan sangat tersiksa, akhirnya meninggal.
"Kamu meninggal dengan kesalahan kamu sendiri, bukan kesalahan siapapun jadi kamu tanggung kembalih darah kamu itu." Ujar Dinda.
Tidak ada rasa iba sama sekali didalam hati istriku, apakah kasih sayangnya sudah tertutup dengan rasa dendam. Padahal dulu dia begitu lembut dan baik tapi semenjak Dinda mengalami siksaan itu, Dinda berubah total sampai sekarang bahkan rasa-rasanya aku tidak mengenal istriku sendiri.
"Mas...sekarang ini urusan mas mau di buang ke bina**ng buas untuk di makan juga terserah apalagi di hutan ini Dinda yakin banyak bina**ng buas berkeliaran disini"
"Putry ayah, sekarang pulang lah kerumah untuk istirahat ya dari tadi kamu sudah banyak menghabiskan tenanga jadi biar kamu pulang saja nak, ayah dan yang lain yang akan mengurus ini semua, Dava antar pulang putry ayah kerumah" ujar Ayah, kali ini Dinda tidak membantah perkataan ayah soal pulang ke rumah, hanya saja Dinda pulang dengan kakak Dea dan mas Tahir saja.
"Iya ayah, Dinda mau pulang juga tapi mas Dava tinggal saja biar Dinda pulang bareng mas Tahir dengan kakak Dea saja, karena ada yang ingin Dinda bicarakan dengan mereka" ujar Dinda.
__ADS_1
"Ya sudah nak, kalau memang mau pulang dengan nak Dea dan nak Tahir. Hati-hati di jalan pulang ke rumah ya," ujar ayah.
Akhirnya Dinda pulang kerumah bareng mas Tahir dan kakak Dea, kami rencana mau kuburkan jasad Kenedi dan Lexza di tempat dimana Admaja di kuburkan, akhirnya satu masalah sudah selesai.