Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
177


__ADS_3

Baguslah perempuan licik kalau kamu tahu langsung ditolak, jangan harap kamu bisa masuk keperusahaan itu gak bakal di terimah. Wajah pelakor kamu sudaj di tandai oleh semua orang mana mau Dava menerima kamu.


"Hahah ibuku paling terbaik...tahu saja kalau putry nya lagi binggung. Tapi bu apa ibu yakin kalau ayah gak tahu rencana kita, nanti kalau ketahuan bagaimana kita bisa di usir dari sini loh."


"Iya, dong. Siapa dulu ibunya Jelin, soal itu kamu tenang saja ayah kamu gak bakal tahu rencana kita kalau pum nanti dia tahu masih banyak cara untuk ibu melulukan hati ayah kamu." mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Ya, sudah sayang ini sudah malam kamu gak mau keluar begitu? soalnya ibu mau keluar mau mantap-mantap dulu sama om Arman ibu sudah gak tahan ayah kamu jarang belai ibu" tenyata semua perlakukan bu Aini di ketahui oleh Jelin begitu juga Jelin tapi mereka berdua saling menjaga rahasi agar pak Arlo tidak tahu.


"Ah ibu, jadi kangen deh sama mas Agam, tapi mas Agam justru diluar negeri tidak ada yang menemani ku jadinya ibu sih enak kalau pengen langsung pergi kalau aku"


"Cuppp...cuppp...cuppp anak gadis ibu tenang jangan sedih begitu ibu punya akal bagaimana kalau kamu ikut sama ibu saja, karena om Arman punya teman juga kebetulan mereka sekarang lagi di hotel jadi kamu bisa bersama dengannya. Kamu tenamg saja dia itu orang kaya pasti dai akan berikan kamu banyak uang jangan lupa loh bagian ibu"


"Deg...." jantung Jelin berdegup kencang memang selama ini Jelin mengikuti semua apa yang di katakan bu Aini, bahkan tidur dengan Agam pun itu karena di jebak oleh sang ibu kalau gak Jelin tidak berani, namun kali ini berbedah dari bu Aini menawarkan anak gadisnya kepala pria hidung belang. Itu menjadi tanda tanya besar dalam hati Jelin sebenarnya dia anak kandung ibu Aini atau bukan? Karena kalau anak kandung tidak mungkin seorang ibu tega memperlakukan anaknya seperti itu.


Tiba-tiba terlintas pertanyaan itu di pikiran Jelin dan Jelin juga sudah inisiatif cari tahu sendiri sebenarnya dia anak kandung ayah Arlo dan bu Aini atau bukan.


"Sayang kenapa kamu diam saja, mau gak ikut ibu kalau mau yuk kita pergi, om Arman sudah tidak sabar menunggu ibu disana" dengan senyum terpaksa Jelin menolak alasan sudah mengantuk memang selama ini Jelin nakal tapi hanya dengan Agam, lagian Jelin juga sebenarnya cinta sama Agam tapi karena keserakahan bu Aini mendesak Jelin untuk membatalkan pertunangan itu.


"Bu, sepertinya Jelin tidak perlu ikut, Jelin di rumah saja sudah ngantuk kalau ibu mau pergi hati-hati dijalan" bu Aini tidak memperhatikan raut wajah Jelin yang terlihat sedikit tidak suka dengan ibu Aini."


Karena Jelin tidak jadi ikut akhirnya bu Aini sudah tengah malam tapi keluar dari rumah dan gegas pergi, namun di cegah oleh dua orang pengawal dan tiga orang satpam didepan. Membut bu Aini marah.

__ADS_1


"Maaf, nyonya. Ini sudah tengah malam dan tadi sebelum Tuan pergi sudah berpesan kalau nyonya dan nona Jelin tidak boleh kemana-mana, tapi kalau nyonya pergi biar kami ikut mengawal nyonya."


"He...hak apa kamu disini, hanya sebagai pengawal jadi jangan ikut campur urusan bos kamu jangan coba-coba ikut apa lagi beritahu Tuan, saya akan pecat siapa yang berani mengaduh, minggir saya mau lewat.


Kelima orang itu hanya nurut saja dan minggir dari tempat mereka berdiri, sedangkan bu Aini sudah menjalankan mobilnya dan keluar dari kawasan perumahan, membelah kesunyian jalan raya karena sudah tengah malam jadi kendaraan hanya satu-satu yang lewat.


Baru jalan tiba-tiba hp bu Aini berdering dan nampak nama si penelpon membuat bu Aini tersenyum, langsung mengangkatnya.


"Hallo mas...!"


"Hallo, sayang! Sudah dimana? mas sudah tidak sabar menunggu dari tadi."


"Sabar mas, ini masih di jalan sebentar lagi sampai"


Karena hotel itu sudah sering kali di pakai oleh bu Aini, jadi bu Aini masuk keluar bebas. Bu Aini langsung naik lift dan menuju ke kamar yang ditempati pria hidung belang itu, setelah sampai didepan pintu kamar hotel ternyata pria itu sudah menunggu dengan senyum mengembang.


"Akhirnya kamu sampai juga sayang yuk masuk kita langsung saja mas sudah tidak sabar menunggu kamu dari tadi"


"Tapi mas ada bayarannya gak?" tanyaAini


"Ada kamu tenang saja yang penting puas dulu"

__ADS_1


*******


Sedangkan di tempat lain, ternyata pak Arlo keluar itu tidak kemana-mana hanya pergi ke hotel untuk menenangkan diri karena kalau di rumah makin stres menghadapi anak dan istrinya.


Dan ternyata kedua pengawal yang menghadang bu Aini di depan rumah itu tidak mengindahkan ancaman dari bu Aini karena mereka tahu selama ini yang bayar gaji mereka itu bukan bu Aini tapi pak Arlo jadi untuk apa takut sama bu Aini.


Salah satu dari kelima ini melaporkan semua kepada pak Arlo soal bu Aini keluar dari rumah tengah malam sedangkan Jelin tidak ikut serta.


Pak Arlo yang mendengar itu bukannya marah justru tertawa karena memang pak Arlo juga sudah tahu, semua kebusukan istrinya jadi diam-diam pak Arlo sudah mengurus surat cerai, karena pak Arlo rencana mau ceraikan bu Aini.


"Kamu pukir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana Aini, aku tahu semua tapi aku masih mengumpulkan banyak bukti untuk menjerat kamu, tunggu saja Aini, kamu sudah merasuki pikiran Jelin juga jadi dia sudah sama seperti kamu..lihat saja nanti aku tendang kamu dari rumah dan menjadi gembel di jalanan."


Pak Arlo cek cctv dan melihat semua apa yang dilakukan oleh Jelin dan bu Aini, pak Arlo hanya tersenyum sarkas dan mengerikan. Setelah itu pak Arlo tutup kembali hpnya dan istirahat.


Diwaktu yang sama tempat yang berbedah Jelin masuk kedalam kamarnya tapi pikirannya masih melayang entah kemana, Jelin masih memikirkan perilaku ibu nya.


"Apakah ibu adalah ibu kandung Jelin? Kalau memang iya, kenapa ibu seperti ini dia berani menjual anaknya sendiri ke pria hidung belang hanya untuk mendapatkan uang, atau jangan-jangan aku ini bukan anak kandungnya sehingga ibu tidak peduli dengan kehidupanku kalau itu benar aku harus menghentikan semua ini sebelum terlambat, aku tidak mau selalu di kendalikan oleh ibu"


Jelin juga merasa jengah dengan kelakukan ibu nya, entah itu ibu kandung atau ibu angkat, tapi sekarang Jelin sudah merasa kalau dia bukan anak kandung bu Aini dan psk Arlo. Sehingga bu Aini hanya memanfaatkan dirinya agar mendapatkan banyak penghasilan.


Jelin membersihkan wajahnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk, tapi matanya susa untuk ngantuk karena saat ini pikiran Jelin selalu tertuju kepada kelakukan ibu nya selama ini Jelin sibuk dengan dunianya jadi tidak menyadari, tapi malam itu menyadari semuanya saat bu Aini mengajaknya pergi bertemu dengsn pria hidung belang.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Jelin tidur karena kantuk sudah menyeruak.


__ADS_2