Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
90:90


__ADS_3

Setelah selesai diskusi Dea dan Tahir sepakat pergi mencari rumah, mereka titip bu Anjani ke dokter sementara waktu Dea juga tidak lupa minta sama dokter kalau nanti ada butuh apa-apa tinggal bilang saja sama Lexza biar Lexza urus semua karena Dea juga sudah cape dari tadi ngurus ini itu.


"Yuk sayang kita pergi semoga kita cepat dapat rumah, mas sih pengen kita hidup sendiri saja tanpa ada yang mengatur kehidupan kita, seharusnya kamu itu ikut mas sayang setelah kita menikah seperti Dinda mengikuti Dava"


"Iya mas kamu benar tapi tunggu dulu mas biar aku minta tolong sama dokter agar nanti kalau ada butuh apa-apa tinggal bilang saja ke kakak Lexza semoga setelah ini ibu cepat sadar"


"Ya sudah sana sayang biar mas tunggu saja disini kalau sudah selesai cepat kembali ya biar kita langsung berangkat"


Dea langsung bangkit dari duduknya dan gegas pergi menemui dokter, ternyata dokter juga kebetulan baru keluar dari ruangan bu Anjani karena baru selesai pemeriksaan terhadap bu Anjani jadi Dea langsung memberitahunya.


"Dok maaf saya mau keluar sebentar boleh saya titip ibu saya sementara waktu, tapi kalau nanti dokter butuh apa-apa dokter boleh minta tolong sama kedua asisten itu kalau tidak, ada kakak saya dengan suaminya ada di ruangan itu jadi bilang saja nanti di bantu"


"Oh baik nona silakan saya akan pasti kalau semua bisa diatasi lagian nyonya Winata juga kondisinya sudah stabil setelah dapat transfusi darah. Jadi kemungkinan tidak lama lagi nyonya Winata akan sadar" jawab dokter dengan ramah


"Syukurlah dokter makasih banyak kalau begitu saya parmisi dulu dokter"


"Silakan nona Dea" ujar dokter.

__ADS_1


Dea gegas pergi meninggalkan dokter begitu juga dokter kembali ke ruangannya sedangkan di dalam ruangam ada seorang suster yang masih merapikan segala sesuatu yang ada didalam ruangan nyonya Winata.


Dea datang menghampiri Tahir yang masih setia menunggunya dari tadi, kasihan juga Tahir dia seorang laki-laki tapi setelah menikah dia harus tinggal di rumah orang tuan istrinya dan di batasi seperti kerbo cucuk hidung bu Anjani bilang apa harus ikut.


Tapi untung sekarang baik Dea maupun Tahir mereka berdua sudah sadar dan tidak mau diatur lagi oleh bu Anjani, lebih baik mereka pergi dari rumah itu dari pada tetap tinggal numpang disitu tapi tidak ada kebebasan, lagian sebentar lagi rumah itu akan di ambil alih oleh Dinda dan Dava karena sertifikat rumah atas nama Dinda bukan hanya Dea dan Tahir keluar dari rumah itu tapi juga bu Anjani juga ikut angkat kaki dari rumah itu lagian biarpun Tuan Evan masih hidup tapi Tuan Evan sudah tidak sudih hidup bersama dengan wanita jahat seperti bu Anjani.


Karena Tahir dan Dea mereka cerdas jadi lebih baik mereka menyediakan rumah sebelum mereka di usir dan tidak tahu berdetuh dimana, seperti kata bijak mengatakan sediakan payung sebelum hujan.


Ya Dea dan Tahir sudah sadar jadi mereka mau sediakan rumah untuk mereka berteduh, apalagi Tahir seorang Dewan jadi Tahir sudah tidak mau hidup dibawah tekanan bu Anjani cukup saja dulu dia bodoh dan selalu mengikuti apa kata bu Anjani, tapi sekarang Tahir dan Dea sudah tidak mau diperdaya lagi oleh sang ibu bahkan mereka berdua tidak mau tinggal seatap dengan Lexza dan Kenedy karena Dea sudah mulai menyimpan kebencian di hatinya terhadap Lexza.


"Yuk mas kita harus cepat pergi dari sini sebelum perempuan gila itu keluar dan mengajukan banyak pertanyaan, aku sudah muak lihatnya setelah tadi dia mau menamparku, kurang ajar sekali aku baru tahu kalau ternyata dia hanya kakak tiri yang di bawah oleh ibu."


Akhirnya Tahir dan Dea berjalan keluar dari rumah sakit melalui koridor dan menuju ke parkiran, ada beberapa anak buah di depan loby rumah sakit dan dua orang hendak mengikuti Tahir dan Dea tapi langsung di larang oleh mereka berdua.


"Mau kemana kalian berdua? Kalian tinggal disini saja nyawa nyonya Winata lebih penting dari pada kami berdua, kami berdua hanya pergi sebentar dan nanti cepat pulang tolong jaga nyonya Winata dengan baik ya"


"Tapi Tuan disini masih ada yang lain jadi tidak apa-apa kami berdua ikut Tuan dan nona karena nyawa nona dan Tuan juga sangat penting".

__ADS_1


Aduh kedua pengawal ini juga susa dibilangin, kalau nanti mereka ikut bisa ketahuan kalau Dea dan Tahir rencana mau beli rumah. Mereka berdua harus pintar cari alasan biar kedua pengawal jangan sampai ikut.


"Tidak perlu kalian disini saja menjanga nyonya awas kalau kalian berdua berani ngotot untuk ikut kalian tahu akibatnya. Orang kami berdua hanya keluar sebentar masa kalian juga mau ikut yang benar saja" ujar Dea pada akhirnya kedua pengawal itu takut dan tidak jadi ikut. Hal itu membuat Dea dan Tahir senang karena bisa lolos.


Tahir dan Dea langsung masuk kedalam mobil dan Tahir langsung menghidupkan mesin mobil dan mereka keluar dari parkir rumah sakit, dan memecahkan kesunyian jalan raya karena ini masih siang jadi semua orang pada sibuk kerja makanya jalanan agak sepih jadi sekarang Dea dan Tahir menuju ke lokasih perumahan yang sudah incar oleh Tahir dan Dea semoga saat sampai langsung cocok.


"Sayang kamu suka rumah model seperti apa? dan kamu mau rumah lantai berapa?" tanya Tahir


"Mas aku itu tidak minta mas beli rumah mewah lebih baik sederhana tapi kita merasa nyaman dari pada rumah mewah kayak istana tapi tidak nyaman merasa kayak di neraka tahu gak"


Iya benar juga yang di katakan Dea gapapa terlihat sederhana tapi nyaman dari pada rumah sangat mewah kayak di rumah keluarga Winata terlihat mewah tapi didalam seperti neraka.


Bagaiamana tidak seperti neraka kalau kehidupan mereka saja di setir dan masih di bawah tekanan ibu Anjani.


"Kamu serius sayang gak mau milih sendiri atau nanti mas saja yang memilih, pasti kamu suka saysng" ujar Tahir.


"Ya dong pilihan mas selalu yang terbaik, apapun yang mas pilih aku tetap menyukainya mas".

__ADS_1


"Terus kalau mas memilih kamu tinggal bersama mas apakah kamu mau sayang, kalau nanti Ibu tidak setujuh kalau kita tinggal di tempat lain apakah kamu nurut sama mas"?


"Ya mas aku memilih ikut mas apapun resikonya, aku belajar dari Dinda dia menentang ibu hanya demi kebahagiaannya dan sekarang dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dia, sudah bahagia dengan Dava jadi aku juga harus belajar darinya kalau sudah menikah harus ikut dengan suami karena orang tua tidak berhak lagi untuk hidup kita"


__ADS_2