Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
45:45


__ADS_3

Bu Anjani masih bersih keras untuk meminta pak Erik menelpon ayah tapi pak Erik juga tidak mau. Sampai mereka berdua berdebat, bu Anjani memang keras kepala ia tidak akan mau mengalah nah cocoklah mereka berdua pak Erik kalau dia sudah bilang A ya A tidak bisa di ganti jadi B.


Aku hanya melihat dari kamera aja sambil senyum-senyum sendiri, menyaksikan perdebatan antara mereka berdua, bu Anjani mati-matian harus bicara dengan ayah. Sedangkan pak Erik bersih keras tidak mau.


"Saya harus bicara dengan Tuan Adinata saya yakin pasti beliau setuju karena ia sudah tahu kinerja saya, masa mau tanda tangan kontrak aja susa" jelaa bu Anjani.


"Maaf nyonya Winata, pembicaraan kita sudah melebar kemana-mana tapi boleh saya tahu syarat apa dulu yang nyonya Ajukan, nanti setelah itu baru kita bicarakan selanjutnya"


Bu Anjani tampak berpikir, setelah itu baru dia bicara.


"Saya mau minta sama Tuan Adinata, untuk kerjasana permanen, saya tidak mau kontrak"


Ternyata dungaan kami benar perempuan ini sangat licik, dia sengaja minta permanen agar dia bisa leluasa masuk keluar perusahaan ini enak saja itu tidak akan terjadi jangan mimpi disiang bolong.


"Hahaha.....nyonya Winata, ternyata cerdas juga ya, tapi sayangnya kalau permintaa Nyonya seperti itu saya rasa tidak akan terjadi, jangankan kerja sama permanen untuk sekedar kerja kontrak aja belum disetujui."


"Maksud anda bagaimana ya Tuan Erik, tidak mungkin kan waktu saya terbuang sia-sia datang kesini tapi tidak ada hasil apa-apa gimana sih."


"Sekarang begini nyonya Winata biar waktu nyonya tidak terbuang sia-sia, bagaimana kalau kita tanda tangan kontrak kerja sama aja dulu, nanti setelah berjalannya kontrak kita, barulah kita bicarakan yang lain,


"Baik..baiklah kalau begitu karena saya juga ingin buru-buru ada urusan, jadi saya harus pergi, kalau begitu sekarang kita membahas kontrak kerja sama aja."

__ADS_1


Akhirnya bu Anjani dan Pak Erik mereka lanjut membahas tentang, kontrak kerja sama, aku melihat dari monitor kamera. Mereka sangat serius dalam pembahasan dan ternyata bu Anjini orangnya sangat teliti dalam memeriksa sesuatu hal sekecil apapun kalau melengceng dari keinginannya dia langsung komplain.


Setelah mereka selesai membahas aku melihat mereka berbincang sebentar ternyata pak Erik bertanya tentang apakah bu Anjani mengenal aku atau tidak dan kenapa tadi bisa bertengkar diluar.


"Nyonya, maaf jika saya lancang tapi sebenarnya saya masih penasaran dengan kejadian tadi didepan loby, apakah nyonya kenal dengan pak Dava, kok bisa bertemu dengan pak Dava diluar"


"I,iya semaya sangat mengenalnya karena di suami dari pembantu saya, tapi sekarang saya sudah pecat pembantu saya makanya mereka sudah saya usir ternyata di terimah disini,"


"Wah....ternyata pak Dava suaminya pembantu nyonya, kirain pak Dava menantunya nyonya. Memang ada masalah ya nyonya sampai nyonya pecat pak Dava kan kasian memangnya pembantu nyonya siapa namanya"


" Haha mana ada menantu saya serendah iru Tuan dia. Bukan siapa-siapa hanya suami pembantu aaja Nnamanya Dinda, saya tidak sudih mempekerjakan rakyat jelata seperti mereka, pembantu saya dirumah rata-rata lulusan D3 minimal" wah....kurang ajar nih sih Anjani sombong banget lagi.


"Maaf sekali lagi nyonya, saya tahu, keluarga Winata khususnya nyonya sangat menjujung tinggi kehormatan dan kekayaan, bahkan nyonya paling suka di sanjung dihargai dan nyonya ingin semua orang yang dekat dengan nyonya pasti mereka tahu hal itu".


"Tapi kalau seandainya perbuatan tidak menyenangkan yang baru saja nyonya lakukan terhadap pak Dava itu tiba-tiba viral bagaimana, nyonya tahu sendirikan disini disetiap sudut ada kamera, bukan hanya itu tadi disaksikan oleh karyawan di perusahaan ini dan paling parahnya lagi tadi di depan loby itu jalan umum banyak orang tadi berkendaraan lalu lalang bahkan jalan kaki, gimana itu nyonya"


bu Anjani aku lihat ia terdiam tapi tengang dia.


"Anda usahakan Tuan Erik jangan sampai hal itu terjadi bisa disiplinkan karyawan dan hapus rekaman cctv gampangkan"


"Heheh tidak semuda itu nyonya lagian kalau dihapus dari sinipun suatu saat akan viral karena tadi saya lihat banyak masyarakat yang ikut merekam kejadian itu, jadi nyonya siap-siap aja jika nanti ada hal buruk terjadi."

__ADS_1


"Jangan sampai itu terjadi Tuan Erik nanti reputasi saya jelek. Saya paling benci hal itu."


Tumben seorang nyonya Anjani yang terhormat bisa takut juga dengan perkataan pak Erik.


Tidak lama kemudian bu Anjani pamit undur diri karena katanya ada acara bisa jadi acara geng sosialitanya. Biarlah perempuan ruba itu pergi agar tidak perlu lagi aku melihatnya. Muak juga dengan perempuan yang satu itu, biar bagaimanapun dia masih mertuaku, tapi apa ia cocok jadi mertua aku rasa tidak sama sekali.


Setelah bu Anjani keluar dari ruangan tidak lama kemudian pak Erik masuk ke ruang rahasia.


"Maaf Tuan muda, apakah tadi kurang jelas Tuan muda lihat dan mendengar, kalau kurang biar saya jelaskan ulang" jelas pak Erik.


"Tidak pak Erik, tidak perlu di jelaskan lagi karena semua sudah jelas, hanya saja saya minta pak Erik pelan-pelannl kita mulai menghancurkan keluarga Winata dengan cara kita, tolong pak Erik ambil rekaman cctv itu ya kirim ke hp aku"


"Baik Tuan akan saya lakukan, oh ya Tuan muda, apakah Tuan muda tidak sakit hati tadi mendengar pengakuan dari nyonya Winata jika nona muda adalah pembantu dirumahnya, bukan mengakui sebagai anak bungsunya tapi diakui sebagai pembantu"


"Menurut pak Erik nyesek tidak dengarnya ibu kandung sendiri bisa berkata seperti itu terhadap anak kandungnya ingat pak Erik tolong simpan juga rekaman cctv itu ya aku benar-benar muat lihat mereka."


Setelah selesai kami berdua ngobrol pak Erik pergi, ternyata pas aku hidupkan kamera yang ada di lantai bawah aku melihat pada saat bu Anjani keluar dari lift dia celingak-celinguk mencari seseorang, tenyata dia mencariku, mau apa dia mencariku mungkin dia belum puas mencaci maki aku jadi dia mau nembah koleksi video baru lagi.


Tidak lama kemudia di bergegas pergi keluar dari loby dan masuk kedalam mobilnya, semua karyawan yang ada disana menatapnya dengan sinis. Karena waktu bu Anjani datang banyak karyawan yang dengan hormat menyapanya tapi justru ia membuang muka dan tetap datar.


Setelah aku rasa semua sudah cukup hari ini akhirnya aku keluar dari ruang rahasia dan kembali jadi ob, tapi sayangnya pekerjaanku sudah dikerjakan oleh teman ob lainnya yang baik hati, aku mengambil uang dari kantongku dan berikan dia dua ratus ribu namun di tidak mau menerimnya, aku jawab aja aku berterimahkasih karena sudah mau mengantikanku untuk melakukan pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2