Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
70:70


__ADS_3

Keesokan paginya kami semua sedang makan bersama di ruang makan sedangkan tv yang didekat ruang makan itu sengaja di nyalahkan oleh ayah entah apa tujuannya padahal kebiasaan jika pas makan tidak ada kebisingan.


Kami yang sementara makan semua di kangetkan dengan berita yang sangat mengejutkan kami yang memberitakan jika terjadi penembakan di keluarga Winata tadi malam, sekitar pukul delapan lewat dua puluh menit dan korban adalah nyonya Anjani. Yang saat ini sudah rumah sakit dan sudah menandapatkan perawatan intensif. Karena bu Anjani terpaksa di larikan kerumah sakit sekitar pukul sembil.


Semua yang makan di meja makan tiba-tiba menghentikan acara makan semua saling pandangan bahkan aku dan yang lain memandang Dinda yang juga terkejut dengar berita itu tapi belum bereaksi apapun bahkan ekspresinya terlihat biasa saja.


Padahal semua orang sudah kuwatir dengan Dinda takutnya Dinda syok, aku memeluk istriku, aku takut dengan berita ini menguncang jiwanya namun tanpa kami semua dunga tiba-tiba keluar satu kata dari mulut Dinda.


Membuat kami semua tercengang termasuk ayah dan ibu.


"Itu karma untuk orang jahat, aku rasa itu belum seberapa karena dia juga hampir sedikit membunuhku dan bahkan secara tidak sengaja dia juga membunuh anakku."


Aku melihat mata Dinda mulai berkaca-kaca aku tahu hanya mulutnya saja yang berkata begitu tapi saat ini sebenarnya hatinya sangat terluka.


"Sayang kamu sabar ya jangan bicara begitu kamu lihat tuh berita ibu sudah viral dimana-mana dan jelas nama baik keluarga besar Winata akan tercoreng."


"Hahah apa aku harus peduli mas, pernakah mereka merasakan betapa sakitnya hati ini mas mereka memperlakukan aku, biarlah doaku untuknya semoga cepat sembuh" ujar Dinda


Tidak lama kemudian muncul lagi berita baru tentang Kenedy dan Lekza yang berikan kesaksian bahwa yang menembak bu Anjani bisa jadi musu dari lawan bisnis dan juga bisa jadi dari lawan pemilihan dalam pilpres ini.

__ADS_1


Membuat Dinda sedikit muak lihat mereka tapi karena aku dan ayah punya rencana jadi aku harus bujuk Dinda untuk kami berdua pergi ke rumah sakit karena disana pasti banyak wartawan ini permainan agak sedikit seru.


Perlahan tapi pasti, aku yakin ibu dan Dinda terus yang lain menolak aku dan Dinda kerumah sakit tapi aku harus berusaha membujuk Dinda karena ini bagian dari rencana kami.


Sebenarnya tadi malam waktu aku dan ayah di ruang kerja ayah, aku dan ayah sudah sepakat untuk aku dan Dinda sengaja berkunjung ke kediaman keluarga Winata tapi setelah aku melihat berita aku beruba pikiran lebih seruh kalau kami datang aja ke rumah sakit.


Aku tahu siapa penyebab dalam penembakan ini, filing kuatku hanya satu orang yang berani melakukan itu, yaitu ayah mertua aku sangat yakin. Kebencian ayah mertua terhap istrinya sudah tidak terhindarkan lagi.


Aku memeluk Dinda dan membisikan sesuatu ke telingannya sontak ia menoleh kepadaku seperti ingin marah, tapi aku tersenyum melihatnya.


Setelah kami selesai makan. Kami semua pinda ke ruang tengah, karena berita makin seruh banyak gunjingan sudah mulai bermunculan dari sebagian masrayakan yang mengenal siapa bu Anjani, mereka komentar yang mengatakan jika apa yang dialami oleh bu Anjani adalah karma karena sombong dan tidak menghormati dan menghargai rakyat kecil.


Wajar bibik bicara begitu karena bibik belum tahu siapa yang melakukan itu dan apa motifnya, kalau seandainya bibik dan paman tahu semuanya tidak mungkin mereka berdua bicara begitu.


Tapi kami diam saja tidak menangapi perkataan paman lagian memang benar bu Anjani harus hidup agar dia meresakan sakit lebih lagi, aku yakin ayah mertua tidak akan berhenti sampai disitu saja, ai akan terus meneror bu Anjani sampai ia depresi.


"Nak ayah tahu kamu sangat membenci keluarga Winata tapi mau bagaimana pun dia ibu kandung kamu nak, apakah kamu tidak ingin menjenguknya sayang. Pergi aja sebentar langsung pulang yang penting kamu sudah menunjukan wajah kamu disana."


Perkataan ayah sontak mendapat tatapan tajam langsung dari ibu, jujur ini baru pertama kalinya aku melihat tatapan marah dari wajah ibu terhadap ayah, karena memang dari awal ibu sudah berulang kali bilang jika suatu saat nanti jika terjadi sesuatu di keluarga Winata Dinda tidak bolen pergi karena ibu tidak mau Dinda terluka lagi begitu besar kasih sayang ibu terhadap mantunya.

__ADS_1


Ayah yang mendapatkan tatapan seram dari ibu membuat bulu kuduk ayah berdiri, aku yang melihat itu pengen tertawa karena lucu juga ayah ternyata bisa takut juga sama ibu, mungkin karena selama ini ibu tidak perna marah dan berperilaku seperti saat ini sehingga membuat ayah juga takut hahaha.


"Ayah, yang benar saja ayah biarkan putry kita pergi kesana, ayah lupa seperti apa manusia tidak punya hati itu menyiksanya, pokoknya ibu tidak setuju, kalau memang ayah dan Dava mau pergi silahkan tapi Dinda tinggal ayah tahu berapa hari yang lalu wanita ibu membuat putryku menangis"


Saat ini ayah masih dia mencerna setiap perkataan ibu karena tidak mungkin ayah mengatakan alasanya menyuruh Dinda kerumah sakit, didepan keluarga cukup aku dan ayah saja yang tahu.


Pokoknya bagaimana pun caranya ayah harus menjelaskan dengan baik kepada ibu agar ibu mau mengijinkan Dinda ikut denganku karena kalau tidak ada ijin dari ibu bisa bahaya.


Tidak lama kemudian ayah mengajak ibu kekamar biar ayah jelaskan semuanya kepada ibu agar ibu tidak marah karena kalau singa sudah marah sangat bahaya.


"Yuk kita kekamar dulu, bu belum minum obatkan, biar ayah berikan ibu minum obat dulu, takutnya nanti penyakit ibu kambu lagi ingat apa kata dokter ibu harus banyak istirahat dan juga harus teratur minum obat"


Karena bujuk rayu maut ayah akhirnya berhasil meluluhkan hati nyonya Aprilia hahaha, kayak masih anak muda saja ayah dan ibu romantisnya kalah dari anak muda.


Ibu nurut sama ayah kerena memang apa yang dikatakan ayah benar ibu harus banyak istirahat.


Setelah ayah dan ibu masuk kekamar aku juga sudah mulai ancang-ancang untuk ngajak Dinda, sebenarnya Dinda dan ibu memiliki sifat yang sama sifat ibu tidak jauh bedah dengsn istriku memiliki hati yang lembut dan baik sama seperti ibu juga, tapi jika sekali mereka marah kacsu semua sehingga aku paling takut ibu dan Dinda marah.


Dulu aku keluar dari rumah bukan karena kemarahan ibu, melaikan karena ayah memarahiku justru aku juga tidak menerima dan lebih memilih pergi dasar anak durhakan.

__ADS_1


__ADS_2