
Awalnya aku pengen berdua-an di dalam kamar bersama istri tercintaku langsung hilang, pengen aku ketemu dengan manusia biadab itu dimana biar aku membunuhnya memang Roy perna bilang kalau mereka sudah tahu dimana markas musu. Tapi karena sibuk aku jadi lupa dan belum sempat pergi kesana untuk cek markas manusia itu. Dari pada pusing di kamar aku mengajak Dinda keluar jalan-jalan lagian, ada juga pengawal di bawah jadi mereka akan ikut bersama kami.
"Sayang, kita keluar yuk. Kamu mau jalan-jalan tidak kemana begitu? Mas suntuk di kamar" ujarku
"Ya, sudah. Bagaimana kalau kita ke mall mas ada yang mau aku beli disana, soalnya aku juga suntuk di kamar." ternyata bukan aku yang suntuk , Dinda juga.
Akhirnya Dinda bersiap dan kami keluar dari hotel dan tujuan kami saat ini ke mall dan rencanan kalau agak sore nanti kami pergi ke taman kota. Hampir setegah jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di mall, ternyata istriku ingin membeli berlian tidak masalah bagiku selagi dia membeli barang yang menurutku masih wajar.
Aku mengandeng tangannya dan menuju ke toko berlian, karena memang tokoh itu adalah langanan ibu jadi Dinda juga sudah hafal betul letak tokohnya.
"Mas, tidak masalah aku beli berlian lagi aku melihat ada kalung berlian yang sangat bagus tapi harganya mencapai lima Miliyar mas, bagaimana mas bisa gak."?
"Bisa dong sayang apa yang gak bisa untukmu semua yang mas miliki itu adalah milik mu juga, kalau memang kamu suka silakan mas tidak masalah lagian uang yang ada di atm kamu itu sudah menjadi milikmu setiap bulan mas transfer untukmu." Dinda tersenyum dan langsung mengandeng tanganku tidak ku sangka ternyata Dinda mencium pipi ku wah....dapat yang manis-manis dari istri bolehlah.
Banyak pasang mata memandang kami, ada banyak gadis-gadis yang datang ke mall menatap kami berdua kayak intimidasi.
"Wah...ternyata baru kali ini aku ketemu langsung dengan Tuan muda dan istrinya ternyata sangat tanpan dan cantik"
"Iya loh aku juga sue.....cantik dan tampan sekeli"
"Hussss jangan terpesona dengan suami orang, memang sih dia kaya dan sangat tanpan tapi dia sudah punya istri jadi tidak boleb seperti itu"
__ADS_1
Banyak sekali yang aku dengar tapi aku hanya tersenyum saja terserah mau bicara apa selagi mereka tidak menganggu kami berdua.
Saat kami hendak mendekati tokoh berlian tidak sengaja kami berpapasan dengan Lexza dan ada dua perempuan lagi entah siapa itu aku tidak kenal, namun tidak seperti biasanya saat dia melihat kami berdua dia tersenyum dan mendekati kami.
"Hallo Dinda apa kabar, sudah lama kita tidak bertemu, kamu kok tega sama ibu Din masa kamu lakukan resepsi yang mewah kamu tidak mengundang ibu kandung kamu sendiri padahal kurang baik apa ibu coba sama kalian waktu masih numpang dirumah, kalau kamu tidak mengundang aku dan mas Kenedy tidak masalah tapi jangan ibu yang kamu memperlakukan begitu. Masa kamu menikah dengan putra dari orang terhormat tapi tidak memiliki rasa hormat sedikitpun dengan orang kecil seperti keluarga kamu saat ini Din.
Ingat Din kamu dibesarkan penuh kasih sayang oleh ibu apapun yang kamu minta selama ini di kabulkan, seharusnya kamu beruntung karena ibu merestui hubungan kalian saat kamu ingin menikahi Dava kalau gak mana hidup kamu sebahagia sekarang, pulanglah kerumah tolong lihat ibu lagi sakit jangan seperti kacang lupa kulit lupa sama orang tua dan kekuargamu"
Aku dan Dinda masih diam dan nyimak saja sama seperti kedua teman Lexza justru mereka kelihatan binggung, mungkin mereka bertanya-tanya siapa Dinda karena selama ini semua orang tidak mengenal Dinda justru mereka tahu anaknya bu Anjani hanya dua Lexza dan kakak Dea.
"Kamu harus bicara dengan mertua kamu Din untuk bayar mahal mahar kamu itu ke ibu tidaknya paling sedikit tiga miliyarlah sebagai ucapan terimah kasih lagian uang segitu bagi keluarga suami kamu itu tidak seberapa."
"Lex! Kamu bicara apa sih dari tadi siapa dia bukankah dia adalah menantu Tuan Adinata, tapi ya ampun tanpan sekali Tuan muda Dava baru pertama kali loh aku ketemu dengannya"
"Dia adik ku Hellen...dia kabur dari rumah hanya demi nikah dengan suaminya sekarang, mungkin karena dia tahu suaminya orang kaya jadi dia jual dirinya sebelum menikah makanya semalam baru mereka resepsi."
Plak......! Satu tamparan keras melayang di pipi Lexza mungkin karena Dinda sudah tidak tahan emosi.
"Siapa kamu...berani bicara begitu di depan orang, aku tidak serendah itu, bukankah kamu yang menjual diri sebelum menikah mau aku ingatkan kepada kamu hotel mana saja yang kamu singahi, tolong jaga omongan kamu takutnya kamu yang termakan kembali omongan mu itu. Memangnya kalian siapa jadi harus aku undang tidak tahu malu ngaca dong disini siapa yang rendahan.
Dan satu lagi ibu saya sudah meninggal sejak lama, saya hanya memiliki seorang kakak perempuan yaitu kakak Dea jadi maaf saya tidak mengenal anda jadi jangan menghalagi jalan saya. Karena saya mau belanja jika anda tidak punya keperluan lagi lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya makin emosi dan anda babak belur. Jangan harap aku berikan apa-apa ke kalian, heran gak punya muka ya.
__ADS_1
Siapa yang anda maksud sudah di rawat dari kecil dan dibesarkan dengan kasih sayang bukan sebaliknya, saya jadi pembantu di rumah sendiri, ibu macam apa itu gak usa membalikan fakta, kalau anda tidak mau aku tuntut anda atas pencemaran nama baik, dan untuk kalian berdua jangan suka ikut campur urusan orang kalau kalian tidak tahu apa-apa".
Lexza memang tidak ada takutnya sudah diperingatkan oleh Dinda tapi bukannya pergi justru makin menjadi, dia pikir dengan cara dia mempermalukan Dinda di depan temannya Dinda akan malu dan mengalah, sepertinya Lexza belum mengenal istriku dengan baik selama ini jadi dia tidak tahu seperti karakter istriku.
"Kamu ya bisa-bisanya menyangkal orang tua kamu sendiri bilang sudah meninggal, padahal ibu masih hidup dirumah kamu memang tidak tahu balas budi kok bisa-bisanya Tuan Adinata mempunyai menantu yang tidak memiliki attitude yang baik seperti ini bicara dengan orang tidak ada sopan-sopannya." ujar Dea
"Lex kok adik kamu tidak ada sopannya ya, kok bisa Tuan muda mau menikah dengannya kenapa gak sama aku saja aku juga cantik pekerja keras dan punya banyak bisnis loh jadi kita sepadan"
"Siapa kamu ikut campur urusan orang lain"? Tanya Dinda.
Astaga ini perempuam ini mau cari mati bisa-bisanya dia bicara begitu didepan Harimau betinaku, perempuan yang bernama Hellen itu memang punya nyali juga dia tahu Dinda ada disamping ku tapi dengan sengaja dia mendekatiku dan ingin menyentu lenganku. Tapi sebelum aku menepisnya tangannya Dinda menarik tangannya dan memutar kebelakang lalu menelintir tangannya sampai sih perempuan mengaduh kesakitan.
"Auhhhh......lepasin sakit tahu."pekiknya.
"Nona cantik sepertinya tangan dan jari kamu sangat mulus sayang kalau aku hancurkan, tolong jaga tangan kamu itu ya jangan sampai satu kali aku putar langsung patah, heran aku dimana-mana pasti ketemu dangan ulat bulu yang kegatalan seperti ini cantik sih iya, tapi gatal sama seperti ulat yang nempel di pohon kalah di lihat saja nampak imut dan mengemaskan tapi tanpa kita sadari dia itu sangat menjijikan, kamu sih cantik tapi sayang murahan suka nempel sama suami orang."
Hellen terkenjut dengan perkataan istriku, apalagi sampai menelintirkan tanganya dia mundur kebelakang dan menjauh dariku.
"Jika kamu masih berani melakukan itu kepada suamiku lagi, aku tak segan mematahkan kedua tangan kamu itu, lebih baik kamu tidak punya tangan dari pada punya tangan tapi gatalan asal sentuh suamiku."
Mampus kamu Hellen sakitkan, makanya jangan macam-macam.
__ADS_1