
Mata hari pagi ini masih malu-malu menampakan wajahnya...semua orang sudah bangun dan pasti bersiap untuk kembali beraktifitas.
Begitu juga aku ternyata aku hanya mimpi saat aku bangun tengah malam sekitar jam satu dengan keringat dingin seperti di kejar maling...bukan hanya berkeringat tapi saat aku sadar ternyata aku menangis dan berteriak menyenbut nama ayah dan Dinda aku karena efek dari teriakanku membuat mas Tahir kanget dan bangun dari tidurnya.
"Sayang kamu kenapa berteriak dan menangis begitu apa yang membuat kamu takut, kamu mimpih ya sayang" tanyan mas Tahir tapi aku belum menangapinya aku masih menarik napasku dalam-dalam dan membuang dengan kasar.
Butuh waktu hampir sepuluh menit untuk mengumpulkan semua kesadaranku setelah aku merasa sudah sadar sepenuhnya akhirnya aku berusaha memandang samping kiri kanan apakah aku benaran di hutan ternyata aku saat ini di kamar. Berarti aku hanya mimpi tapi kenapa rasanya seperti nyata dan apa arti dari mimpihku ini apakah ibu memang sedang merencanakan sesuatu untuk membunuh aku dan Dinda? Kalau mimpi ini memberikan aku tanda berarti aku memang harus waspada dan hal ini aku harus ceritakan kepada Dinda dan Dava karena aku rasa ini bahaya.
Mas Tahir berikan aku air minum untuk menenangkan aku, setelah aku minum dan tenang aku tidak mengatakan apapun ke mas Tahir aku justru kembali tidur sehingga membuat mas Tahir juga ikut tidur.
Dan pagi harinya aku bangun dengan tubuh yang agak sedikit pengel mungkin karena mimpi semalam tapi aku masih pikiran dengan kemunculan ayah dalam mimpi itu, kalau memang ayah sudah meninggal kenapa dia datang bersama dengan Dinda dan Dava untuk menolongku, atau ayah masih hidup tapi ayah belum ingin menunjukan dirinya.
Kalau itu benar betapa bahagianya aku dan Dinda karena yang aku miliki saat ini adalah Dinda dan ayah tambah mas Tahir.
Aku melihat dari kaca jendela matahari dengan malu-malu mulai muncul dari ufuk timur itu tandanya aku harus bersiap karena sebentar lagi aku harus pergi ketemu dengan Dava dan Dinda. Tapi sebelumnya aku harus cepat ke apertemen ayah dulu untuk membawah semua barang itu. Karena dengan aku serahkan semua ke Dinda dan Dava aku yang itu yang terbaik.
Aku memerhatikan mas Tahir yang sudah mulai mengeliat dengan pelan-pelan membuka matanya sampai matanya terbuka sempurna dan langsung menatapku.
"Loh sayang tumben kamu sudah bangun biasanya jam tujuh baru bangun, mau kemana emangnya sayang sepagi ini?" tanya mas Tahir
__ADS_1
Mas tahir kanget aku sudah bangun sepagi ini karena memang kebiasaanku biasa bangun jam tujuh lewat, tapi entah kenapa pagi ini aku bagun masih jam enam. Aku hanya senyum aja memandang wajah binggung suamiku.
" Mas juga kenapa bangun pagi kalau mas masih ngantuk tidur saja nanti aku bangunin mas...soalnya aku harus berangkat pagi karena ada hal penting yang harus aku kerjakan mas."
"Memangnya pekerjaan penting apa sayang kok gak bilang sama suami kamu aku ini suami mu loh sayang jangan sembunyikan apapun dariku."
Perkataan mas Tahir seperti suatu tamparan bagiku karena selama ini aku sering membohonginya, sebenarnya aku tidak bermaksud begitu tapi ya ini terpaksa menyangkut nyawa.
"Maaf mas tidak ada apa-apa kok aku hanya ada kerjaan di restoran dan mau mengecek beberapa bisnis lainnya, aku mandi dulu ya mas takutnya terlambat tahu sendiri macetnya seperti apa kalau pagi"
Aku tidak mau mas Tahir makin curiga denganku jadi aku langsung bangkit dari dudukku dengan kasar aku melampas kimono dan gegas masuk kedalam kamar mandi, mas Tahir hanya melongo begitu saja melihat aksiku begitu.
Saat aku sampai di kamar mandi ku bukan semua pakian yang ada di tubuku tidak tersisah sehelai benangpun di tubuh ini aku juga siapkan air hangat bercampur sambun wangi aroma tetapi.
Aku merasakan tubu ini terasa sangat ringan hampir tiga puluh menit akhirnya aku keluar dari bakhtub dan memakai kimono dan gegas keluar dari kamar mandi dan mendapati mas Tahir sudah duduk di pinggir tempat tidur.
"Mas mau mandi sana aku sudah siapkan air hangat untukmu mas, kalau mas mau kita berangkat barengan saja soalnya aku tidak makan disini mas aku mau makan diluar saja."
Aku lihat mas Tahir bangkit dari duduknya dan gegas ke kamar mandi tanpa suara biar saja mungkin masih kesal karena aku tidak berkata jujur tadi, tapi aku punya alasan tersendiri.
__ADS_1
Aku langsung duduk di meja rias dan merias wajahku dengan make up natural karena aku tidak suka yang menor.
Aku sambil menunggu mas Tahir selesai mandi aku siapkan pakian kantornya sekalian aku carikan pakian untuk aku pakek nanti.
Hampir lima belas menit akhirnya mas tahir keluar dari kamar mandi dan mendekatiku.
"Sayang nanti kalau mas pulang singah restoran ya jadi kamu tunggu disana saja, kita pulang satu mobil nanti titip mobil kamu di restoran kalau gak mas menyuruh pengawal yang menjemput."
"Ok baiklah mas aku tunggu ya kalau mas sudah mau datang kabarin "
"Iya sayang"
Setelah kami berdua bersiap akhirnya kami keluar dan hendak pergi kami melewati ruang tengah tidak ada seorangpun yang duduk disitu, padahal dulu waktu ayah masih hidup setiap pagi sebelum berangkat kerja harus duduk berkumpul disitu dulu baru berangkat kerja tapi kali ini semua beruba setelah kepergian ayah rumah ini kayak tidak berpenghuni.
Saat kami melewati ruang makan ternyata ada ibu disana tapi aku sama sekali tidak mematapnya justru ibu menatapku sambil tersenyum tapi kali ini aku merasakan senyum berbedah dari ibu, ini bukan senyum tulus tapi sepertinya ibu menyembunyikan sesuatu yang tidak ku ketahui.
"Eh..nak makan dulu kebetulan ini makanan kesukaan kamukan, sini Tahir makan sama ibu Lexza dan Kenedy juga belum keluar mungkin karena masih kecapean karena kampanye kemarin."
Ibu tidak seperti biasanya langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri kami berdua langsung menarik tanganku untuk membawah aku dan mas Tahir ke meja makan tapi aku langsung menolak dan menepis tangannya itu.
__ADS_1
Membuat awalnya senyum langsung beruba dengan emosi muncul sifat aslinya.
"Ibu tidak perlu memaksa kami untuk makan disini karena sampai kapanpun aku tidak mau makan disini lagi...ibu sendiri saja makan tuh biar kenyang dan panggil aja anak kesayangan ibu biar makan bersama atau dia juga sudah tidak sudih makan bareng ibu lagi"?