
Dinda bicara dengan tegas dan tidak ada lagi kesedihan di wajah istriku seperti tadi, mungkin bu Anjani mengira istriku bicara begitu karena sekarang masih mengharapkan kasih sayang darinya sehingga dengan tidak tahu malunya bu Anjani berikan syarat kepada Dinda, apakah masih ada ibu kandung yang tamak seperti ini menumbalkan anak kandungnya demi harta.
Aku sebagai seorang suami sakit hati mendengar perkataan bu Anjani, dia mau menyayangi Dinda asal mau menyetujui membayar semua hutang rasanya tidak percaya dengan semua ini. Tapi itu adalah fakta dan realita karena di dunia nyata juga banyak anak yang menjadi korban dalam kerakahan orang tuan.
Dinda menatap bu Anjani dengan emosi, aku sangat takut. Takut Dinda benaran membunuh bu Anjani.
"Keluar....kelauar dari sini perempuan jahat, aku tidak sudih melihat muka kamu disini dan jangan perna unjuk muka lagi di hadapaku" bentak Dinda.
Bu Anjani sangat keras kepala sudah di usir bukannya pergi justru menatap istriku dengan tajam.
" Kamu berani mengusir aku ibu kandung kamu sendiri, Jangan harap aku pergi dari sini kalau kalian tidak mau bantu aku, aku sudah capek-capek datang sampai disini enak aja kalian mengusir aku, setidaknya kalian bantu sedikit sebagai balas budi selama kalian tinggal di rumah dan selama aku membesarkan kamu" teriak bu Anjani.
Dinda tidak bicara lagi dan langsung berjalan mendekati bu Anjani, tanpa aba-aba Dinda menikam bu Anjani dengan pecahan vas tepat di tangannya dan darah segar mulai mengalir keluar.
"Sayang" teriak aku panik sama juga dengan pak Erik dan Arfan mereka tidak percaya dengan reaksi Dinda.
"Jangan mendekat mas" teriak Dinda.
Belum sampai disitu Dinda mengangkat tangan dan hendak menikam dada bu Anjani tapi aku langsung memeluknya dari belakang dan menarik mundur tubuhnya.
"Sayang tolong jangan lakukan ini" ujarku.
__ADS_1
"Lepaskan aku mas perempuan ini mau mati "
Sadis banget istriku, ternyata seperti ini ya kalau orang yang sudah menyimpan sakit hati dan dendam begitu dalam bisa gelap mata kasih yang dia pertahankan selama ini hilang seketika.
Bu Anjani berteriak ketakutan melihat darah segar mengalir begitu saja dan hampir sedikit bu Anjani merengang nyawah di tangan putry nya sendiri.
"Kamu tahu dari dulu aku sudah berniat menghabisimu, tapi aku masih berpikir kalau kamu itu manusia yang punya hati karena aku ini adalah putry kandungmu, aku sudah berikan waktu yang panjang untukmu karena aku pikir kamu sebagai seorang ibu pasti berubah, namun ternyata aku salah...aku salah karena masih memberikan kamu kesempatan untuk hidup di dunia. Aku bahkan menyesal dilahirkab dari rahim perempuan iblis seperti kamu. Kalau bukan karena kakak Dea dan suami ku yang melarang dan mengingatkan aku tentang kesabaran dan Dosa mungkin aku sudah menghabisimu.
Tapi sekarang tidak ada toleransi bagimu kalau bukan kamu yang mati hari ini berarti aku yang mati paham itu, bukankah kamu sudah merencanakan pembunuhan terhadap aku dan kakak Dea, sekarang aku ada di hadapan kamu berarti ini kesempatan besar untuk kamu menghabisiku tenang saja suami aku, pak Erik dan asisten Arfan tidak akan menghalagi mu. Jika dengan kamu membunuh aku, hidup kamu bahagia lakukan lah dari pada kamu selalu menghantui aku disini.
Belum cukupkah bagi mu membuat hidupku menderita ha...dimana letak hati nuranimu, dulu kamu sudah menghancurkan kebahagiaanku, tapi itupun kamu belum puas hanya manusia berhati iblis seperti kamu yang melakukan ini terhadap darah danging kamu sendiri. Belum puas kamu....sampai aku sudah menikah dan dapat kebahagiaan dari keluarga baruku kamu masih menganggu hidupku" bentak Dinda mengalir air matanya.
Jujur aku tidak tahu harus bicara apalagi sesak sekali dada ini aku bisa merasakan betapa sakitnya istriku memendam rasa sakitnya itu bertahun-tahun lamanya. Dan sekali dia benar-benar meluapkan semuanya sampai gemetaran badannya, ternyata seperti ini lah kalau sudah terlanjur sakit dan di pendam sekali di keluarkan semua bisa gelap mata.
Karena pak Erik melihat Dinda kembali memberontak dalam pelukan aku, sehingga pak Erik dan asisten Arfan takut kalau Dinda bisa nekat membunuh bu Anjani di kantor, akhirnya Pak Erik meminta bu Anjani untuk segerah pulang jangan sampai Dinda kembali menyerangnya.
"Nyonya saya masih menghargai nyonya disini jadi saya minta lebih baik nyonya meninggalkan tempat ini segerah mungkin, takutnya nona muda kembali melukai anda nyonya, saat ini emosi nona muda tidak stabil jadi saya mohon nyonya segerah pulang biar nyonya bisa mengobati luka nyonya. Karena saya lihat lukanya terlalu dalam jangan biarkan takutnya habis darah nyonya ini pas di urat nyonya itu sangat bahaya." ujar pak Erik dengan ramah untuk menyuruh bu Anjani segerah pergi.
"Iya nyonya, Tuan Erik benar biar saya antar kebawah nyonya" sambung asisten Arfan.
Namun aku terkejut dengan jawaban dari bu Anjani respon dia terhadap pak Erik dan asisten Arfan membuat aku juga ikut emosi. Perempuan tua ini tidak tahu kalau aku susa paya menahan istriku disini karena takut istriku menghabisinya justru kembali menangtang.
__ADS_1
"Hahah...luka ini hanya goresan kecil tidak perlu sok peduli kalian sama saya karena saya tidak butuh perhatian kalian, aku tidak takut dengan ancamannya jangan kamu pikir dengan kamu melukai tanganku jadi aku menyerah begitu saja aku akan membuat perhitungan dengan kamu anak sialan, cobak lepaskan dia Dava aku mau lihat seberani apa dia mau membunuhku ingat aku ibu kandung kamu jadi kalau kamu membunuhku dosa sampai kapanpun dosa kamu tidak akan di ampuni oleh Allah"
"Hahaha...jadi nyonya mau istri saya melakukan sesuai apa yang dia katakan kalau itu yang nyonya mau aku juga tidak segan melepaskan istri saya untuk membunuhmu nyonya, oh ya biar aku beritahu nyonya satu hal mungkin selama ini nyonya tidak kalau mantan pacar anda yang bernama Admaja sudah meninggal dan anda mau tahu siapa yang menghabisi dia, nanti saja baru anda tahu aku tidak perlu beritahu anda nyonya aku mohon pergi lah dari sini sebelum terlambat."
Aku melihat bu Anjani terkejut tapi sedekit kemudian dia kembali seperti semula.
"Mas lepaskan aku karena hari ini aku ingin menghabisninya, kamu sendiri yang menyerahkan nyawah kamu datang kesini baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu"
"Hahaha...silahkan kalau kamu berani"
"Jangan anda pikir aku tidak berani, kamu aja berani menghabisi nyawah suami kamu dan tega merencanakan pembunuhan anak kandung kamu kenapa aku tidak bisa melakukan itu? "
"Mati kamu....!teriak Dinda" teriak
Satu kali Dinda mendorong aku tanganku lepas dari tubuh Dinda dengan cepat Dinda mendekati bu langsung menikam vas itu ke dada bu Anjani, tapi karena bu Anjani sudah tahu dia menepis pakek tangan dan kembali kena tangannya sampai vas itu menantap tidak tercabut dari tangan tapi karena Dinda suda tersulut emosi dinda nemapar bu Anjani bersamaan Dinda menendangnya sampai tersungkur ke lantai.
Plakk.....bukkkkk.
"Argar..."
Dinda langsung berlari mengambil tasnya aku yakin apa yang mau dia ambil aku langsung kembali memeluknya dan kebetulan Ririn datang jadi kami berdua menahan Dinda yang memberontak sedangkan bu Anjani diseret dengan paksa ke luar.
__ADS_1
"Jangan biarkan pergi lepaskan aku hari ini aku mau habisi dia sini pistolku aku kejar dia dan ku habisi dia hari ini juga" teriak Dinda memberontak.
Kira-kira Dinda lepas tidak dari pelukan aku dan Ririn.?