
Ternyata calon istrinya Ogen bicara sesuai dengan apa yang dia saksikan, dan apa yang dia tahu sehingga bu Anjani makin di pojohkan. Hal itu mengundang emosi bu Anjani karena bu Anjani tidak menerimah semua tuduhan yang dilontarkan kepadanya, sehingga bu Anjani berteriak.
"Tidak yang mulia saya, jangan percaya dengan kesaksian dusta perempuan ini, saya tidak perna punya hubungan seruis dengan pria brangset ini, saya hanya teman dengannya dan dia sendiri yang menghasut saya untuk mengikuti rencananya kalau saya tidak mengikuti semua rencananya saya di ancam, jadi perempuan gila ini juga salah satu pelaku dalam perencanaan itu. Dia jugq harus di hukum yang mulia" bentak bu Anjani.
"Saudari Anjani harap tenang saat ini saya bicara dengan saksi jadi tolong jangan bikin keributan disini." ujar pak hakim.
Bu Anjani langsung diam dan calon istri Ogen kembali memberikan kesaksian di sidang akhir.
Setelah selesai kesaksian dari calon suami Ogen sekarang giliran putusan dari jaksa.
"Baik kesaksian hari ini sangat bagus jadi kita sudah cukup mendapatkan semua bukti" ujar hakim.
Pada akhirnya hal yang di tunggu-tunggu datang juga, hari ini adalah hari bersejarah bagi bu Anjani karena hari ini bu Anjani mendapatkan hukuman sesuai perbuatan. Memang selama ini bu Anjani sudah di tahan tapi bu Anjani masih berharap agar dirinya dibebaskan oleh ayah , tapi sayangnya ayah sama sekali tidak punya empati untuk membebaskan bu Anjani.
Sehingga bu Anjani menjadi merana, dan bersiap untuk menerimah putusam dari jaksa penuntut umum.
"Saudari Anjani tolong bangkit berdiri" ujar pak hakim mempersilahkan bu Anjani bangkit berdiri sehinggi bu Anjani juga ikut bangkit berdiri.
__ADS_1
Setelah bu Anjani bangkit berdiri pak hakim kembali bertanya apakah bu Anjani sudah siap untuk menerimah keputusan hukum atau tidak, namun justru bu Anjani hanya diam dan hanya menunduk tidak menjawab apa-apa.
Dari pembacaan dakwaan dan tuntutan bu Anjani diam saja sampai keputusan, akhirnya bu Anjani di jatuhkan hukuman lima belas tahun penjara dan Ogen sepuluh tahu penjara.
Bu Anjani langsung berteriak tidak bisa menerimah keputusan dari jaksa, karena bu Anjani pikir hukumannya tidak seberat yang di tuntutan sekarang ini ternyata bu Anjani salah, sehingga bu Anjani harus menelan pil pahit kalau bu Anjani harus menjalani hukuman selama lima belas tahun di penjarah.
"Tidak....! Saya tidak mau di hukum seberat itu, saya tidak sampai membunuh orang, pak hakim ini tidak adil mana bisa seperti ini saya tidak perna membunuh orang tapi kenapa hukuman saya lebih berat dari pria bajingan ini, pokoknya saya tidak terimah tolong lepaskan saya karena saya tidak bersalah." teriak bu Anjani sampai petugas menenangkannya, karena bu Anjani memberontak.
"Saudari Anjani, jika sekali lagi suarai berteriak saya akan mengeluarkan saudara dari sini. Tolong jangan berteriak disini karena disini tempat umum" ujar pak hakim.
Setelah bu Anjani diam sekarang giliran Ogen dan Ogen di jatuhkan hukuman sepuluh tahun penjarah kalau Ogen diam saja memang dari awal sampai akhir sidang Ogen tidak banyak bicara hanya sesekali jika di tanyain oleh pak hakim.
Tok tok tok.....!
"Hari ini sidang di tutup" ujar pak hakim.
Bu Anjani bangkit dari duduknya langsung lari dengan begitu kencang, dan memohon kepada Dinda dan bu Anjani. Aku tidak banyak komentar hanya saja aku diam tidak mau ikut campur, aku hanya ingin menyaksikan drama apalagi yang akan di pertontonkan oleh bu Anjani.
__ADS_1
Bu Anjani lari mendekati ayah mertua sampai tersungkur dikaki ayah mertua dan mencium kaki ayah mertua, sampai senua orang kanget termasuk aku.
"Mas tolong aku, mas aku mohon ampuni aku, aku mengakui aku salah tapi tolong jangan memperlakukan aku seperti ini mas, biar bagaimanapun juga kita ini masih suami istri mas apakah kamu tega membiarkan aku dipenjara begini, aku yang melahirkan anak-anak kamu mas sampai sebesar ini. Jadi tolong apapun yang aku lakukan asal kamu tidak penjarakan aku mas.
Dinda tolong ibu nak, bujuk ayah kamu untuk tidak penjarakan ibu kamu nak, apakah kamu tegah membiarkan ibu kamu di penjara begitu. Tolong ibu nak karena ibu tidak mau di penjarah" ujar bu Anjani memengang kaki ayah mertua walaupun tangannya di borgol tapi masih bisa di pakek untuk di pengang kaki ayah mertua.
"Bu...semua sudah terlambat jadi jangan harap hukuman ibu akan di kurangi, apalagi sampai tuntutan ibu di cabut itu sangat mustahil, sekarang ibu menikmati saja lima belas tahun itu sudah sepantasnya ibu dapatkan karena ibu juga sudah banyak sekali melakakukan kejahatan" ujar Dinda membuat kami semua saling pandang kakak Dea dan mas Tahir masih diam saja belum ada kata-kata keluar dari mulutnya.
Bu Anjani mendongak kepala dan menatap Dinda sambil tersenyum sinis.
"Kamu sangat keterlaluan, aku ini ibu kandung kamu bisa-bisanya kamu bicara begitu, padahal aku yang sudah susa paya melahirkan dan membesarkan kamu tapi kamu bisa bicara begitu tidak tahu cara berterimah kasih" bentak bu Anjani.
"Bu Anjani, semoga anda tidak lupa jika kita tidak punya ikatan darah lagi karena, kita sudah putus hubungan darah semenjat aku memotong tangan aku dan mengeluarkan darah dari kamu, jadi semenjak hari itu kita sudah tidak punya ikatan apapun lagi. Kamu jangan berharap ada pertolongan datang untuk menolong kamu karena sebentar lagi putry tercinta kamu juga akan nyusul kesini untuk menemani kamu disini." ujar Dinda.
"Anjani, sudah yang kesekian kalinya aku katakan kalau aku tidak akan mencabut tututan itu, apalagi membebaskan kamu dari tuntutan itu. Jadi sekarang nikmati saja kehidupan kamu di penjarah dan jangan menganggu kehidupan kami lagi." ujar ayah mertua langsung mengandeng tangan tante Riska dan keluar dari gedung pengadilan.
Ayah mertua keluar dari gedung pengadilan meninggalkan bu Anjani yang masih terduduk dilantai, tapi tidak ada seorang pun yang datang untuk membantunya bangkit berdiri.
__ADS_1
Kami juga ikut menyusul ayah meetua, aku tahu ayah mertua sangat kesal dengan cara bu Anjani padahal sudah berulang kali di jelaskan kalau sanpai kapanpun ayah mertua tidak akan mencabut tuntutan itu.
Setelah kami semua sampai diluar, kami masih berdiri diluar untuk menanti kedua terdakwa datang untuk dibawah oleh petugas lapas, tapi dari tadi kami menunggu justru orangnya tidak kunjung keluar atau jangan-jangan bu Anjani sudah pingsan didalam gedung.