Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
305


__ADS_3

Ayah mertua dan bu Anjani asyik berdebat, bu Anjani tetap tidak mau kalau ayah mertua memceraikannya. Sedang kami asyik pintu gedung terbuka.


Kami di persilahkan masuk kedalam ruangan dan duduk dengan tenang tidak lama kemudian, panitera penganti, jaksa penuntut umum, penasehat hukum dan pengunjung sidang. setelah itu barulah terdakwa bu Anjani masuk bersama Ogen hanya saja Ogen menunduk kepala tidak ada yang datang dari keluarga Ogen mengikuti sidangnya.


Bedah hal dengan Ogen yang diam justru bu Anjani ngamuk di dalam ruangan padahal sidang belum mulai, untung petugas langsung menenangkan bu Anjani akhirnya bu Anjani diam saja tidak melakukan perlawanan karena petugas mengancamnya kalau bu Anjani ngamuk terus bisa jadi hukumannya makin berat hal itu membuat bu Anjani langsung diam


Akhirnya diketok palunya oleh hakim bawah sidang di buka secara umum.


Tok tok tok!


Sidang perdana untuk saudari Anjani dan saudara Ogen resmi di buka secara umum.


"Baik saudari Anjani apakah anda sehat" tanya hakim.


"Sehat yang mulia" jawab bu Anjani.


"Baik, bagaimana dengan saudara Ogen sehat"? tanya pak hakim.


"Sehat yang mulia." jawab Ogen


Setelah selesai pak hakim kembali bertanya apakah kedua terdakwa di dampingi oleh pengacara, tapi baik dari bu Anjani maupun dari Ogen tidak ada yang mendampingi mereka,


Akhirnya mereka berdua mendapatkan pengacara yang sudah di siapkan untuk membela mereka.

__ADS_1


Hari ini adalah pembacaan dakwaan untuk tuntun mereka hal itu membuat jaksa penuntut umum, untuk mendengarkan pembacaan dakwaan itu dengan baik agar jika mereka keberatan dengan dakwaan itu baik bu Anjani maupun Ogen untuk bisa memberikan pembelaan terhadap diri mereka.


Sidang hari ini berjalan agak sedikit rumit karena setiap dakwaan yang di bacahkan hampir semua di bantah oleh bu Anjani justru menuding ayah mertua yang selingkuh memang licik sih ini perempuan, tapi dia tidak bisa mengelak setiap bukti yang di tampilkan semua bukti adalah asli bukan palsu sehingga bu Anjani makin terpojok, tapi bu Anjani makin bersih keras kalau dia tidak merencanakan pembunuhan terhadap ayah mertua melainkan Ogen.


"Saudari Anjani, apakah benar anda yang merencanakan pembunuhan berencana terhadap Tuan Winata, dan anda sendiri yang membayar saudara Ogen untuk melenyapkan Tuan Winata"? tanya hakim.


"Tidak yang mulia saya tidak perna menyuruh saudara Ogen untuk melakukan hal itu, lantaran Tuan Winata adalah suami sah saya, jadi tidak mungkin saya sebagai istrinya ingin menghabisi nyawah suami saya sendiri jadi itu termasuk fitnah yang mulia, karena waktu itu suadara Ogen sangat mencintai saya yang mulia jadi dia maksa saya untuk menjalin hubungan dengannya kalau tidak saya di bunuh yang mulia, saya terpaksa melakukan semua ini yang mulia. Saudara Ogen juga yang merencanakan pembunuhan terhadap suami saya karena dia ingin menguasai semya harta suami saya yang mulia."


Wah....lancar jaya fitnah bu Anjani yang di lontarkan kepada Ogen tapi karena Ogen belum dapat bagian pertanyaan jadi Ogen masih diam belum menjawab apa-apa, hanya saja matanya merah karena menahan amarah. Ya siapa yang tidak emosi aku tahu Ogen tidak mungkin melakukan itu kalau tidak ada desakan dari bu Anjani.


Makin memanas perseteruan antara Ogen dan bu Anjani kalau seandainya Anjani di luar mungkin sudah di habisi oleh Ogen, nampak sekali dari wajahnya menahan amarah dan kebencian terhadap bu Anjani.


"Maaf saudari Anjani apakah apa yang anda katakan barusan benar? anda tidak menfitnah suadara Ogen bukan? suadari Anjani hati-hati dalam menjawab jangan sampai anda membuat hidup anda makin rumit."


"Apakah ada bukti bahwa memang suadara Ogen yang melakukan itu semua, dan suadara Ogen juga tang mengancam anda untuk membunuh anda"?


"Tidak ada yang mulian" jawab bu Anjani


Sekarang giliran Ogen yang dapat bagian untuk membela diri, aku mau lihat siapa diantara mereka yang menajdi pemenangnya bu Anjani atau Ogen.


"Saudara Ogen, apakah saudara keberatan dengan semua tuduhan yang di tuduhkan oleh saudari Anjani"?


"Maaf yang mulia saya keberetan dengan semua tuduhan itu yang mulia, saya tidak perna melakukan seperti yang di sampaikan oleh saudari Anjani semua itu fitnah yang mulia, justru saudari Anjani yang memaksa saya untuk melakukan kejahatan yang mulia, saya sama sekali tidak ada niatan untuk merencanakan pembunuhan terhadap Tuan Winata yang mulia" jelas Ogen.

__ADS_1


"Apakah saudara Ogen punya bukti" tanya pak hakim


" Punya yang mulia, semua bukti ada di hp yang sudah disita, disitu ada video, chat bahkan pesan suara dari suadari Anjani sudah berulang kali saya menolak yang mulia tapi saudara Anjani yang memaksa."


Tiba-tiba bu Anjani berteriak mungkin karena dia panik kalau dia memfitnah Ogen sehingga di membuat keributan. Kami semua terkejut dengan teriakannya.


"Tidak.....jangan percaya pembunuh ini yang mulia, dia bohong kalau pun ada bukti pasti itu bukti palsu yang mulia jangan percaya dengan bualannya dia berbohong" teriak bu Anjani.


"Saudara Anjani harap tenang, jangan bikin keributan disini atau sidang di tutup, ini ruang sidang bukan di luar sana jadi harap tenang untuk parah hadirin tolong tenang mengikuti sidang."


Akhirnya sindang kembali di lanjutkan oleh hakim hampir dua jam sidang berlangsung akhirnya selesai juga dan sidang kedua akan dilanjutkan satu minggu lagi, setelah sidang di tutup Anjani berlari mendekati ayah mertua memohon agar ayah mertua membebaskanmya sampai mencium kaki ayah mertua.


"Mas aku mohon tolong pertibangkan lagi mas dengan keputusan mas untuk memenjarakan aku mas, ingat masa-masa bahagia kita dulu bersama mas lupa dengan semua janji mas kalau mas tidak akan meninggalkan aku, kita sudah punya anak mas kita juga sudah tua seharusnya mas memikirkan kerukunan rumah tangga kita kedepan jangan egois mas.


Jangan karena pengaruh selingkuhan mas sehingga mas menjadi pria tang tidak setia dab pria yang tidak bertanggung jawa"


Bu Anjani bicara panjang lebar tapi justru ayah mertua mengibaskan kakinya dan berlalu pergi diikuti oleh tante Riska meninggalkan bu Anjani masih berlutut di bawah.


"Tuan jangan dengar omongan perempuan ular itu kalau Tuan tidak mau di khianati lagi, perempuan ini sangat licik dan berbisa aku sangat menyesal mengenal manusia ular seperti kamu, sesndainya aku tahu dari dulu kamu licik aku tidak akan sudih mengenalmu, tapi sayangnya semua sudah terlambat semoga kamu mendapatkan hukuman lebih berat dari aku karena didalam hp itu semua bukti ada".


"Bajingan kamu Ogen berani sekali kamu bicara begitu denganku, mas Evan masih sah suamiku jadi sampai kapanpun dia tetap suamiku surat cerai itu palsu jangan ikut campur urusanku, aku akan berusaga semaksi mal mungkin untuk mendapatkan kembali perhatian mas Evan."


Bu Anjani memang keras kepala tidak ada kara menyerah dalam kamusnya kalau sepertk itu bertobat, ini justru makin buat masalah siapa yang tidak muak.

__ADS_1


__ADS_2