
Ya Tuhan aku yang mendengar saja sakit hati dengan perkataan manusia ini, pantas saja ayah mertua ingin menghabisinya. Tapi dia jangan coba-coba menyentuh istriku dan kakak Dea, kalau itu terjadi aku pastikan perempuan itu dan selingkuhannya terus putrynya mereka menyusul ke neraka, ternyata Dinda menyuruh kakak Dea untuk diam saja dan mendengar adalah cara terbaik dengan seperti ini kami tahu rencana apa yang akan mereka lakukan.
" Terus, menurut sayang bagaimana? apakah kita harus menghabisi mereka berdua juga sama seperti menghabisi suami kamu begitu kah sayang"?
"Nah kamu tahu mas, kalau tidak menghabisi mereka berdua bagaimana kita bisa menikah dan mengambil semua harta itu mas, apalagi di surat wasiat Asli yang mendapatkan harta yang paling banyak adalah anak kurang ajar itu Dinda, sebenarnya kalau mau memoroti mereka aku bisa dapat harta yang banyak, apalagi sekarang anak bungsuku menikah dengan putra tunggal Tuan Adinata dan keluarganya sayang banget sama dia kalau aku minta sesuatu aku yakin mereka pasti berikan."
"Apa....Tuan Adinata? Jangan cari mati sayang kalau begitu mas tidak mau berurusan dengan orang itu mas dengar Tuan Adinata itu sangat sadis menyiksa orang, kalau ada orang yang berani menyengol keluarganya mas tidak mau mati koyol. Memang Tuan Adinata terkenal baik dan tidak perna sembarang melakukan penindasan kepada orang lain, tapi jangan cobak-cobak kepada keluarganya, lagian kamu gila ya sayang hanya karena harta kamu tega membunuh anak kamu, kamu tidak ada kasih dalam diri kamu, bukankah kamu yang melahirkan mereka dengan mempertaruhkan nyawah kamu hingga sampai besar kenapa kamu justru tega melakukan itu."
"Hussst...sayang, kasih sayang itu tidak ada didalam hatiku jika menurut aku dia tidak berguna lagi sama aku dan dia juga yang menghalangi kebahagiaanku, untuk apa biarkan dia hidup membuat susa hidupku. Memang aku yang melahirkan mereka berdua mas tapi aku hanya mau menjadikan mereka mesin penghasil uang, yaitu jual mereka ke pria kaya untuk memberikan aku banyak uang aku tidak peduli kebahagiaan macam apa yang mereka inginkan asal apa yang aku inginkan tercapai.
"Aku bersikap baik sama Dea karena dia menikah dengan Tahir yang seorang Dewan jadi masih mengangkat derajat keluarga dan dulu mereka berdua sangat nurut sama aku, tapi semenjak aku masuk rumah sakit semuanya berubah, bahkan anak yang sangat aku sayangi yaitu Lexza sudah mulai melawan dan tidak mau menghargai aku.
Apalagi anak durhaka itu Dinda dari dulu memang dia yang paling bertantangan dengan aku. Dia anak pembangkang, memang sekarang aku masih bersikap baik sama Dinda dan Dava suaminya karena aku pengen meminta hak dari mereka karena Dava sudah menikahi Dinda putryku, jadi harus kasih uang mahar sebesar satu triliun kalau tidak aku bawah pulang Dinda dan jual ke pria lain, aku juga masih sabar karena aku butuh banyak dana untuk perusahaan, kalau tidak mana mau aku bicara baik-baik dengan mereka.
Hahaha aku pengen tertawa terbahak-bahak memang perempuan licik ini belum kapok, benar apa kata ayah mertua kalau perempuan itu bertobat kecuwali maut sudah didepan mata barulah dia sadar tapi semuanya sudah terlambat.
__ADS_1
Aku melihat wajah istriku penuh emosi begitu juga kakak Dea mereka mengepalkan tangan mereka berdua, tapi belum ada yang bergerak Gama dari tadi hanya mengelengkan kepala mendengar perkataan kedua manusia itu.
Siapa yang tidak sakit hati mendengar perkataan ibu kandungnya sendiri, hanya karena harta dia tega mau membunuh kedua putry nya. Memang kamu tidak punya hati nurani Anjani, kamu memang pantas mati nantinya aku tidak akan membiarkan kamu sampai menyentuh kakak Dea apalagi istriku, jangan aampai sebelum aku turun tangan istriku yang terlebih dulu menghabisi kalian.
Aku memengang tangan Dinda dan memeluknya begitu juga mas Tahir melakukan hal yang sama, namun lagi-lagi Gama selalu membuat suasana dari tengan beruba menjadi santai.
"Aduh...mata suci ku sangat ternodai, kira-kira Gama peluk siapa ya, seperti inilah nasip orang joblom jadi obat nyamuk aja disini melihat orang bermesraan, nasib-nasib rasanya tidak berdaya"
Kami sudah mau terbahak tapi sekerltika jadi ingat kembali kedua manusia yang di belakang jadi kami tahan saja.
"Ya mau bagaimana lagi kakak, tidak ada yang mau tidak mungkin Gama paksakan nanti masuk undang-undang pemaksaan terhadap anak gadis orang hehe."
"Sayang kamu harus sabar jangan emosi dengan apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat. Angap saja kamu tidak mengenal mereka berdua ya sayang tahan jangan gegabah"
"Iya mas, Dinda sabar kok lagian biarka saja mereka berdua rencanakan disitu Dinda akan meladeni mereka." ujar Dinda sekarang aku mengalihkan pandanganku ke mas Tahir.
__ADS_1
"Mas sekarang sudah tahu seperti apa sifat asli dari mertua mas, tolong waspada mas dan jaga kakak Dea dengan baik ya mas, jangan sampai mas Kenapa-kenapa..kalau soal membalas kedua orang itu kakak Dea dan mas Tahir tidak perlu pikirkan biarkan Dava yang mengatur semua itu"
"Iya Dav, mas sangat menyesal tapi biarlah semua sudah berlalu jadi sekarang kita harus waspada, dan apa rencana kedepannya supaya kita bisa menghadapi perempuan sinting ini."
Biar mas Tahir tahu sifat asli Anjani karena selama ini mereka selalu menurut dengan perintah dari Anjani, bahkan sampai melakukan kekerasan terhadap istriku tapi sekarang semua sudah berubah.
Mas Tahir hanya menunduk kepala saja dari tadi saat mendengar setiap percakapan kedua orang itu.
"Aku tidak menyangka punya seorang ibu yang memiliki hati iblis seperti ini, kalau memang dia tidak menyayangi kami berdua kenapa waktu masih kecil dia tidak membunuh kami saja, agar kami berdua tidak merasakan sakit dan terluka seperti ini. Rasanya tidak percaya dengan kenyataan ini, perempuan yang selama ini aku panggil ibu dan menganggap dia seorang pahlawan karena sudah melahirkan kami ternyata hanya topeng saja.
Dia lakukan itu karena ada maunya, baiklah aku akan mengikuti permainannya, apalagi aku masih tinggal bersamanya, Dav. Jaga baik-baik adikku ya jangan sampai terjadi apa-apa dengannya, kalau itu terjadi aku tidak maafkan kamu Dav. Namun jika suatu saat ada sesuatu terjadi sama aku itu sudah takdir jadi kalian tidak perlu bersedih."
Maksud kakak Dea apa ya, dengan perkataannya begitu, kedua manusia itu belum beranjak dari tempat duduk mereka sangat mesra makan sambil suapan astaga sudah tua bangka juga, padahal pria itu masih muda tapi kok mau dengan perempuan sudah bauh apek itu.
"Ya sudah sayang kita secepatnya singkirkan mereka mau bagaimana lagi ini juga terpaksa kita juga butuh banyak modal untuk mengelar pesta besar-besaran nanti untuk acara pernikahan kita sayang."
__ADS_1
Cuihhh jijik.