
Setelah Dinda tidur aku bangun dari pembaringanku dan gegas keluar dari kamar aku ingin menanyakan soal nomor itu ternyata Arfan juga sudah menunggu di luar. Aku berpikir kalau di dalam ruangan nanti menganggu Dinda tidur lagian aku juga tidak mau pria lqin masuk kekamar ini.
"Arfan kamu sudah tahu belum siapa pemilik nomor itu..."Tanyaku pada Arfan. Arfan langsung menatapku dan menjawab kalau dia sudah mengetahui siapa pemiliknya.
"Sudah Tuan muda nama pemilik nomor itu adalah Admaja" jawabnya. Membuat aku benar-bemar terkejut
"Deg....." ternyata benar duga'an ku sih bajingan itu yang menerorku selama ini...
"Baiklah, makasih ya Fan hari ini kita di hotel saja tidak kemana-mana kalau kalian mau istirahat juga boleh," aku kembali masuk kedalam kamar dan kali ini aku tidak berbaring di samping istriku tapi aku duduk disofa aku berusaha hibungi kembali nomor bajingan itu namun ternyata sudah tidak aktif dasar manusia penjilat....
Lanjutkan saja kejahatan yang kamu lakukan karena aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, mungkin ini saatnya kami harus bertindak untuk menghentikan pria bajingan ini dia membalas dendam karena mau mengambil harta ayah memangnya harta apa yang dia miliki, dia hanya anak angkat yang di pilih di jalanan oleh kakek masih syukur di kasih pekerjaan.
Aku duduk di sofa sampai tidak terasa sudah makan siang, ya ampun kenapa perasaan tidak tenang begini aku melihat kondisi Dinda sudah lumayan membaik tidak pucat lagi dan kelihatan segar. Tiba-tiba hp Dinda berbunyi Dinda mengambil hpnya ternyata ada telpon dari ayah mertua. Selama kami disini ayah mertua memang sering kali telpon manyain kabar.
Dinda langsung mengambil hpnya dan mengangkat telfon dan ayah mertua.
"Hallo ayah...apa kabar?"
"Hallo putry cantik ayah...ayah kabar baik kalau kalian bagaimana disana sehatkan? liburan kalian bagaimana lancar dan tidak ada ngangguan kan?" Tanya ayah mertua kuatir.
"Semua lancar ayah tidak ada gangguan kok...ayah jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit." ujar Dinda.
" Iya nak kamu juga jaga kesahatan ya, kakak kamu baru saja dari sini datang lihat ayah katanya dia kangen sama ayah dan juga kamu, tapi kamu diluar negeri jadi tunggu pulang saja. Mana nak Dava, nak." Tanya ayah mertua aku mendengarnya aku gegas mendekati Dinda dan mengambil hp untuk bicara dengan ayah mertua.
__ADS_1
"Hallo ayah...."
"Iya nak...kapan kalian pulang nak? Kalian baik-baik disanakan...dari semalam ayah tidak bisa tidur karena perasaan ayah tidak enak ayah pikir Dinda kenapa-kenapa" tanya ayah ternyata ayah mertua merasa kalau Dinda sakit ikatan batin anak dengan ayah sangat kuat, biasanya ibu dan anak yang kuat sekarang justru berbedah.
"Ayah tidak perlu kuatir Dinda baik-baik saja ayah kami akan segerah pulang ayah" ujarku.
Setelah selesai aku kembalikan hp ke Dinda yang masih berbaring diatas tempat tidur, aku mendekatinya dan mengecup keningnya...dia memandangku dan tersenyum manis sembari berkata" mas tolong panggilkan dokter dulu kesini soalnya badan Dinda lemas sekali" aku mendengar perkataannya langsung menghubungi Arfan dan menyuruh dokter datang kekamar tidak selang lama bel berbunyi dan saat aku buka pintu ternyata dokter dan Arfan berdiri di balik pintu.
"Maaf Tuan muda apakah Tuan muda memanggil saya dan ada yang sakit Tuan muda" tanyanya.
"Iya dokter tolong periksa istri saya karena dari tadi pagi nona muda muntah terus dan bawa,annya lemas" seketikan wajah dokter berserih membuat aku heran.
"Wah...maaf Tuan muda jika saya lancang tapi selertinya akan ada kabar gembira dari sakitnya nona muda." ujar sang dokter
"Sepertinya mau ada Tuan muda kecil atau nona muda kecil segerah hadir Tuan muda" Ah pak dokter bisa saja mana ada itu bisa jadi Dinda kecapean.
"Ah masa sih dokter kita bertarung bagaimana...kalau benar nona muda hamil saya akan naikan jabatan dokter dan naikan gaji tapi kalau nona muda tidak hamil bagaimana"? Bukannya takut justru pak dokter bahagia.
"Kalau nona muda tidak hamil saya boleh di turunkan menjadi staf biasa di rumah sakit bagaiman Tuan" berani juga pak dokter ini apa dia tidak takut kalau dia di turunkan dari dokter menjadi staf biasa ah...kenapa orang yang kerja sama keluarga Adinata pada unik semua setelah kami sepakat akhirnya..kami gegas mendekati Dinda yang masih lemas.
"Selamat pagi nona muda...maaf nona muda saya periksa dulu" ujar dokter sedangkan Dinda hanya mengangguk aduh...aku baru sadar nyesal aku bawah dokter pria seharusnya aku bawah dua dokter satu pria satu wanita jadi kalau Dinda sakit yang periksa wanita bukan pria ini.
"Eh...dokter mau ngapain jangan sentuh istri saya begitu dokter hanya saya yang berhak menyentuhnya dan juga ngapain lihat istri saya begitu" enak aja suka-sukanya mau menyentu tangan Dinda...mana mau aku. Tapi anenya kenapa aku justru di ketawain ya memangnya aku salah.
__ADS_1
"Tuan muda kalau saya tidak melihat nona muda terus jika saya tidak menyentuh nina muda bagaimana saya bisa periksa dan mengetahui apa yang di alami nona muda" jelas dokter Riski
"Mas tidak apa-apa dokter hanya mau periksa..."
Dengan terpaksa aku menyetujuinya, sebenarnya dalam hati merutuki dokter Riski yang berkesempatan melihat istriku, setelah dokter selesai periksa tiba-tiba dokter tertawa sambil menatap aku...apa,an sih dokter ini.
"Selamat Tuan muda dan nona muda....karena saat ini nona muda mengandung sekitar empat minggu" jelas aku terkejut dong mendengar perkataan dokter bukankah kemarin sebelum kami menikah kata Dinda baru selesai haid kenapa bisa lima minggu dari mana jalan ceritanya.
"Dok tidak masuk akal empat minggu kalau satu atau minggu masih bisalah kalau empat minggu tidak mungkin karena istri saya masih haid sebelum kami melangsungkan resepsi."
" Tuan muda..bisa saja waktu itu nona muda bukan haid tapi hanya mengeluarkan flek...karena flek itulah yang nona muda mengira kalau nona muda haid padahal tidak, itu tanda-tanda kalau nona muda hamil."
"Iya dokter, benar saya hanya mengeluarkan flek waktu itu tapi karena sangat sibuk jadi saya hanya mengatakan kepada Tuan muda kalau saya haid padahal hanya flek waktu itu." Ya Tuhan betapa bahagianya diri ini saat tahu ternyata istriku sedang mengandung anak kedua ku, sunggu besar kuasamu Tuhan...aku tidak menghiraukan dokter dan Arfan ada bersama dengan kami tapi aku langsung memeluk istriku dan menciuminya berkali-kali.
"Makasih ya sayang sudah mau memberikan anak lagi untuk mas...makasih banyak" ujarku sangat terharu sampai aku tidak sadar bulur bening lokos keluar. Aku bersyukur Tuhan masih mempercayakan kami seorang buah hati.
"Sama-sama mas."
Kenapa aku bilang anak keduaku karena memang yang pertama sudah meninggal istriku keguguran karena ulah mertua jahat itu tapi sekarang kebahagiaan ku makin bertambah. sangking bahagianya aku sampai memeluk istriku dan menangis...ya aku menangis bahagia...kalau aku memberikan kabar ini ke keluarga pasti mereka sangat bahagia mendengarnya.
"Tuan, tolong saya masih polos, Tuan mata saya ternodai" astaga dalam tangis kebahagiaanku kami semua dibuat tertawa oleh kekoyolan asistenku..bisa-bisanya dia berkata begitu sampai Dinda tertawa kuat...asisten selalu membuat suasana haru jadi tertawa.
"Pukkkk.....jangan bicara hanya diri kamu saja yang ternodai, tapi saya juga kamu masih mudah saya sudah mau kepala tiga masih jomblo." sambung pak dokter satu ini juga...cocok lah mereka berdua tapi jujur aku suka dengan kekoyolan mereka kalau orang yang bekerja sama kami silahkan bercanda, jika hal itu masih wajar silahkan karena aku tidak suka yang cuek diam kayak patung aku lebih suka yang humoris.
__ADS_1