
Setelah selesai bersiap aku bersama Dinda turun kebawah dan rencana mau sarapan pagi, karena rencana jam delapan baru kami berangkat ke pengadilan dan ibu hari ini ikut arisan jadi ibu pergi di antar oleh ayah lantaran ayah tidak mengijinkan ibu bawah mobil sendiri jadi nanti setelah selesai arisan ayah antar pulang ibu baru langsung ke kantor.
Sekarang ini ayah sangat posesif dengan keluarga bukan hanya ibu saja ayah berlakukan seperti itu, tapi perlakuan ayah itu berlaku untuk kami semua karena ayah tahu masih ada bahaya menanti di luaran sana, kemarin ayah mendapatkan teror melalui pesan mengancam ayah yang aku dengar dari ayah kalau sekarang ayah berjuang untuk memenangkan tender proyek besar.
Banyak pembisnis yang berlombah-lombah untuk memenangkan tender itu, kalau perusahaan siapa yang menang berarti makin jaya hal itu membuat para pembisnis pendatang baru sangat ambisius untuk merebut tender tersebut dari ayah, makanya ada yang pakek cara licik untuk mengancam ayah jangan sampai ayah maju kalau berani ayah maju dan menang tender semua keluarga di habisi.
Hal itu yang membuat ayah tidak mau kami jauh dari pengawasan bahkan kemana pun kami pergi selalu ada pengawalan ketat apalagi ibu, Dinda dan Ririn ayah sangat posesif dengan ketiga wanita ini.
Saat kami turun sampai di bawah ternyata belum orang berarti ayah dan ibu belum keluar semoga filingku tidak salah takutnya ayah dan ibu sudah tunggu di ruang makan. Ternyata saat kami sampai belum ada orang berarti hari ini kami berdua menang, datang tepat waktu sebelum nyonya dan Tuan keluar hahaha...sekali-sekalilah panggil begitu. Tidak lama kami duduk datang ayah dan ibu disusul kedua anak yang suka berantam.
"Bu lihat deh tumben kedua anak ibu duluan biasanya kita yang selalu menunggu" sindir ayah membuat semua terkekeh.
"Tidak masalah pah, sudah bagus putra dan putry ibu sudah turun lebih awal, ibu rasa yang membuat lama itu bukan putry ibu, pah. Tapi putra papa yang membuat semua lama"
"Ais ibu tahu aja kalau Dava yang membuat lama, ya mau bagaimana lagi bu malas kalu bangun cepat heheh".
Akhirnya semua duduk dan kami langsung sarapan bersama, Dinda tidak perna lupa minum susu hamil sudah banyak stok yang sudah aku siapkan kadang aku yang buat susu untuknya, kalau Dinda lupa tapi kalau setiap pagi pelayan yang selalu menyediakannya jadi setelah selesai makan harus minum susu, untung istriku tidak perna menolak justru istriku ingin bayinya sehat.
Setelah selesai makan aku memberikan susunya kepada Dinda untuk di minum.
__ADS_1
"Sayang minum dulu susunya biar sehat" ujarku dan Dinda langsung mengambilnya.
"Gama juga pengen minum susu lah biar Gama makin sehat" pinta Gama.
"O...alah! Memangnya kakak Gama ibu hamil jadi mau minum susu, kakak ipar lagi minum susu hamil, memangnya kakak Gama pikir kakak ipar minum susu apa? Ada-ada aja. Kalau kakak Gama mau minum susu hamil kayak kakak ipar lebih baik kakak Gama nikah aja biar nanti kalau istri kakak Gama hamil, kakak Gama yang minum susu baru translet ke istri kakak Gama hahaha" ujar Ririn mengundang tawah.
"Kamu ini ya Ririn selalu saja mengejek kakak kamu yang tanpan ini"
"Lagian kakak lucu, sudah tahu itu susu khusus untuk ibu hamil kakak justru mau minum, kakak Dava aja tidak minum susu itu, takut aja sih kalau nanti istri kakak Gama hamil justru jadi kurus kering karena susunya di minum sama kakak" sambung Ririn.
Wajah Gama merah merona parsis kayak kepiting rebus karena di ejek sama Ririn, lagian kedua anak ini kayak tom dan jerry tidak perna akur. Karna ibu melihat wajah Gama sudah berubah merah merona akhirnya ibu menyelah agar Ririn tidak melanjutkan perkataannya.
"Ayah tidak ikut ke pengadilan hari ini?" tanyaku pada ayah walaupun aku sudah tahu jawabannya.
"Tidak nak, ayah antar ibu ke arisan dulu nanti setelah pulang baru ayah ke kantor jadi tidak sempat, kalian saja yang pergi mewakili ayah saja salam nanti buat besan ya nak, mungkin Riska datang untuk mendampingi besan di pengadilan" pinta ayah.
" Pah, kalau papa mau ikut sidang tidak masalah ibu pergi sama supir dan pengawal saja, papa tidak perlu antar karena ibu hanya ikut arisan sebentar dan setelah selesai ibu langsung pulang kerumah, papa bolak balik capek loh". Ujar ibu.
"Tidak masalah bu, seorang istri itu lebih nyaman dan aman saat didampingi suaminya, sekarang ini banyak musuh dari teman bisnis dan incaran mereka itu adalah keluarga karena mereka tahu kelemaan papa, makanya papa tidak mau baik ibu, Ririn dan Dinda pergi tanpa pengawal" ujar ayah membuat ibu tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, oh ya. Putry ibu tidak ikut ke acara arisan? Sudah lama loh nak tidak pergi ikut arisan setiap ada arisan selalu transfer baru sekali kamu ikut nak, ibu tadi berpikir kalau seandainya hari ini tidak ada sidang ikut saja sama ibu tapi tidak masalah mungkin lain kali ya baru ikut."
"Iya bu, Dinda minta maaf karena Dinda tidak bisa ikut bu, tidak apa-apa kan bu"?
"Tidak apa-apa sayang, masih banyak waktu lagian arisan berjalan terus kok tapi hati-hati dijalan ya nak takutnya terjadi sesuatu sekarang perut kamu makin besar jadi makin susa jalan"
Suasana seperti ini yang selalu tercipta dalam kehidupan keluarga kami, jarang sekali ada pertengkaran dirumah ini bahkan tidak perna ada, aku tidak perna mendengar ayah dan ibu bertengkar selama ini, apalagi sekaran ayah dan ibu makin tua makin takut kehilangan satu sama lain memang cinta ayah dan ibu tidak bisa di ragukan lagi.
Aku juga pengen rumah tanggaku harmonis seperti ayah dan ibu, hanya saja banyak perempuan yang tidak tahu diri selalu mengodahku didepan istriku sehingga aku sampai di kunci diluar itu hal yang sangat menyedihkan sekali bagiku.
Setelah selesai ngobrol kami semua bersiap untuk berangkat ke tempat tujuan masing-masing, Gama ke perusahaannya dan Riri berangkat ke perusahaan pusat bawah mobil sendiri di kawal oleh pengawal.
Sedangkan ayah antar ibu dan aku sama Dinda ke pengadilan.
"Ayah, ibu. Dava dan Dinda berangkat ya "
" Hati-hati nak jangan ngebut ya ingat putry ibu lagi hamil"
Aku dan Dinda pamit sama ibu dan ayah begitu juga Ririn dan Gama kami berempat keluar dari rumah bersamaan sedangkan ayah dan ibu masih duduk di ruang tengah entah apa yang mereka bicarakan
__ADS_1