Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
439


__ADS_3

Tidak terasa sudah jam sembilan malam, semua tamu undangan sudah pada pulang semua. Sekarang tinggal keluarga yang masih setia, kami keluarga besar santai sambil berbincang, karena sudah lama tidak ketemu walaupun masih tinggal satu kota dan berdekatan tapi tidak saling jumpa di karenanakan pada sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing. Kami berjumpah kecuwali ada acara keluarga baru kami semua bisa berkumpul lagi.


Didaalam kehidupa keluarga baik dari keluarga suami maupun keluarga ku, tidak ada yang memandang seseorang dari harta menurut kami mau kaya atau pun tidak semua sama keluarga saling membantu satu sama lain.


Para pria perkasa berkumpul satu kelompok entah apa yang mereka bahas itu urusan mereka, sedangkan kami wanita tangguh berkumpul satu kelompok, kali ini yang kami bahas bukan pekerjaan, melainkan bahas tentang kehidupan rumah tangga dan memikirkan masa depan anak seperti apa. Biasa kalau emak-emak sudah berkumpul tidak lain dan tidak bukan membahas kehidupan sehari-hari.


Kalau aku dengan mas Dava, kami sepakat untuk tidak memaksa Grey dan Gretta harus mengikuti keinginan atau pilihan kami, biarkan saja apapun yang mereka pilih pasti semua yang terbaik untuk mereka. Jadi aku serahkan semua kepada Grey dan Gretta.


"Dik kalau Grey dan Gretta sudah tamat sekolah adik mau Gretta dan Grey kulia dimana? dan mereka ambil jurusan apa"? Tanya kakak Dea.


"Katanya sih mereka mau kulia di kanada tapi tidak tahu benar apa tidak, namanya anak-anak hari ini mereka bilang disini besok sudah bilang disana jadi kalau soal sekarang belum pasti, Gretta katanya pengen jadi dokter kecantikan tapi dia tidak suka matematika, tapi Dinda lihat dia sunggu-sunggu belajar sebenarnya dia aja yang tidak suka tapi dia pintar matematika, kalau Grey belum jelas kita tunggu saja." Ujarku.


"Kalau Abimana gimana mbak, dia ingin jadi apa kalau sudah tamat, mbak saran Dinda jangan paksa anak untuk mengikuti kemauan orang tua mereka juga punya pilihan sendiri, justru kita sebagai orang tua harus berikan kebebasan kepada anak untuk memilih sendiri. " tanya ku.


"Kalau Abimana belum tahu pasti juga tapi mas Tahir maunya Abimana jadi pengusaha saja menekuni di dunia bisnis, ya kakak sih tidak masalah dari dia saja mau seperti apa yang penting dia senang dengan pilihannya." Ujar kakak Dea.


Saat kami asyik ngobrol baru aku ingat kembali keinginan aku nanti ke lapas untuk menjenguk bu Anjani, semoga setelah kejadian ini bu Anjani berubah menjadi orang baik semenjak bu Anjani masuk penjara tidak sekali pun aku datang menjenguknya, bukan karena benci tapi aku tidak sanggup bertemu dengannya, karena kalau aku ketemu dengannya waktu itu antara kami berdua salah satu yang meninggal kalau bukan aku berarti bu Anjani.


Karena bu Anjani pasti sudah tahu kalau Lexza dan Kenedy sudah meninggal, pasti dia ngamuk sama aku, aku rencana ngajak kakak Dea aja ke lapas. Tidak mungkin aku ajak ayah, aku juga harus jaga perasaan bu Riska lagian untuk apa ayah datang kesana sedangkan tidak ada hubungan apa-apa lagi.


Aku janji jika bu Anjani berubah menjadi ibu yang baik aku akan berikan kesempatan untuknya, aku juga sudah menjadi seorang ibu aku tahu betapa sakitnya saat melahirkan aku juga tahu bagaimana merawat anak saat pas sakit, aku sebagai orang tua sudah merasakan jadi biarpun bu Anjani sejahat itu sama aku tapi aku rasa semua sudah lewat mereka sudah menerima balasan masing-masing. Ogen saja bisa berubah bahkan dia sudah punya anak tidak sengaja kami perna ketemu di mall, aku lihat betapa dia menyayangi istri dan anaknya masa ibu tidak berubah.

__ADS_1


Apapun hasil ya nanti aku harus datang entah bu Anjani masih benci sama aku itu urusan dia yang penting aku sudah memaafkannya, aku mau mengajak kakak Dea untuk menemaniku datang kesana semoga kakak Dea mau.


"Kakak besok kakak ada sibuk tidak? Kalau kakak tidak sibuk temani Dinda dong kesuatu tempat, tapi kalau kakak sibuk tidak usa" ujarku.


"Hmm tidak ada si, memangnya mau kemana dik? Dan kenapa tidak pergi sama Dava saja" tanya kakak Dea.


"Sekarang Dinda tanya kakak bisa tidak temani Dinda, kalau mas Dava tidak bisa karena besok ada pekerjaan penting, katanya ada pertemuan dengan klien jadi tidak bisa" ujarku. Padahal aku sengaja aja karena aku yang mau pergi sama kakak Dea, memang sih mas Dava ada pekerjaan juga jadi tidal bisa di nganggu.


"Iya dik kakak sih pasti mau pergi sama kamu tapi kemana? Apa kakak tidak bisa kemana kita pergi"? Ujar kakak Dea.


"Kakak tidak takut kalau penyakit kakak Dinda kumat lagi karena sudah lama tidak menyentuh senjata api, bisa jadi kakak Dinda mau jadikan kakak alat pencobaan hehehe" ujar Riri, ada-ada aja ibu yang satu itu selalu kocak, tapi perkataannya membuat kakak Dea membuka matanya dengan sempurna.


"Serius kamu Rin jangan ane-ane deh masa sih aku di jadikan umpan hehehe". Aku hanya geleng kepala mendengar mereka berdua saja.


Tadi aja waktu di atas panggung untung mas Dava menegur mereka berdua kalau tidak, mungkin sampai besok juga mereka berdua tetap berdebat tidak ada yang mau mengalah.


"Pokoknya kakak Dea tidak usa mendengar Ririn, besok pagi sekitar jam sembilan kakak tunggu di restoram saja biar Dinda yang jemput kebetulan jalannya memang lewat situ." ujarku.


" Ya sudah tidak masalah tapi kakak antar Abimana dulu, nanti kakak tinggakan saja mobil kakak di restoran kita pulang baru ambil, tapu sebenarnya kita kemana sih dik jangan bikin kakak penasaran dong rahasia ya jadi tidak perlu di beritahu." tanya kakak Dea.


"Nanti kakak juga tahu, kakak siap-siap aja besok nanti Dinda jemput" aku tidak perlu beritahu kakak Dea aku takutnya kakak Dea tidak mau kesana, aku tahu sampai sekarang kakak Dea masih menyimpan kebencian sama ibu jadi aku takut kalau nanti aku berutahu kakak Dea justru tidak mau jadi biar saja nanti baru kakak Dea tahu.

__ADS_1


"Ya sudah deh kalau begitu" ujar kakak Dea.


Keasyikan gobrol sampai lupa waktu sekarang sudah pukul sebelas, sangat tidak terasa sekarang semua pada pamit pulang di suruh nginap saja tidak ada yang mau, maklum karena sudah punya rumah masing-masing dan keluarga anak dan suami sehingga mereka lebih nyaman tidur di rumah sendiri ketimbang di rumah orang, karena aku juga begitu semewah apapun atau senyaman apapun di rumah orang aku lebih nyaman di rumah ku sendiri.


"Kakak pulang ya, paman, bibi pulang dulu ya makasih jamuannya malam ini" ujar Ririn.


"Iya hati-hati ya nak disuruh tidur aja disini nanti besok baru pulang tidak ada yang mau" ujar ibu.


"Lain kali aja bik soalnya besok harus berangkat ke kantor masih pagi masih banyak waktu" sambung Gama"


Mereka semua bersiap dan pulang ke rumah masing-masing, sedangkan tinggal lah kamu keluarga yang ada disini, Grey dan Gretta sudah tidur dari tadi karena mereka merasa risi di tatap terus sama orang, apalagi Gretta paling tidak suka di sentuh.


Aku di gandeng sama mas Dava masuk kedalam rumah begitu juga ayah dan ibu. Kami langsung menuju ke kamar masing-masing karena memang sudah malam jadi pengen bersihkan wajah untuk istirahat, aku paling tidak suka membiarkan make up lengket di wajah ini, memang make up tidak tebal hanya saja sangat menganggu.


Setelah sampai di kamar aku tanya mas Dava masih mau mandi tidak biar aku siapkan air hanget karena aku juga pengen mandi, ternyata mas Dava juga katanya mau mandi ya sudah sekalian aja.


"Mas mau mandi tidak, soalnya Dinda mau mandi gerah mas Dinda juga mau bersihin make up dulu kalau mas mau mandi biar Dinda siapin air hanget mas mandi duluan aja" ujarku.


"Tidak masalah sayang biar kita mandi sama aja mas nungguin sayang selesai bersihkan wajah sayang, mas nasih mengecek ini dulu di hp mas oh ya tadi mas dengar sayang ngajak kakak Dea besok, memangnya mau kemana sayang kok mas tidak di ajak"? Tanya mas Dava.


Kira-kira kalau aku kasih tahu mas Dava, mas Dava marah tidak, aku takut mas Dava melarang aku untuk datang kesana. Tapi aku juga tidak bisa bohong sama suami sendiri apapun itu mas Dava harus tahu.

__ADS_1


"Mas ada sesuatu yang ingin Dinda bicarakan tapi mas jangan marah ya kalau memang mas tidak mengijinkan juga tidak apa-apa mas" ujarku.


Mas Dava bangkit dari duduknya dan memeluk aku dari belakang, mas dava meletakan dagunya di atas bahuku sembari berkata lirih" mas tidak perna melarang kamu sayang jika hal yang kamu lalukan itu benar tidak masalah bagi mas asal kamu senang mas juga ikut senang" ujar mas Dava, aku sangat terharu mendengarnya.


__ADS_2