
Bu Anjani binggung kenapa bukannya sedih atau marah justru kakak Dea tertawa renyah begitu.
"He..Dea kamu sudah gila ya, bukannya sedih karena semua harta kita disita justru kamu tertawa kayak kesetanan begitu heran deh sama kamu. Kamu senang ya kita nanti jatuh miskin" Bentak bu Anjani kalau keempat pria tanpan itu masih diam.
"Hahaha...apa ibu, harta kita? Hello....ibu Anjani yang terhormat itu harta anda bukan harta saya, selama saya disini apakah perna di anggap tidak ada, bahkan restoran yang saya banting tulang kerja hasilnya ibu juga yang menikmati jadi ini bukan harta kita tapi lebih tepatnya harta ibu sendiri yang sudah nyolong dari ayah, dengar ya bu suatu saat nanti ibu akan menyesal seumur hidup, jadi jangan menyebut harta kita tapi harta ibu. Dab satu lagi yang jatuh miskin itu ibu bukan saya Dea karena dari dulu Dea tidak perna berpikir kalau Dea itu oranf kaya, hanya ibu yang berpikir seperti itu "
"Iya benar yang di katakan oleh istriku bu ini adalah harta ibu yang sudah ibu ambil dari ayah Evan , jadi bukan harta bersama tapi lebih tepat harta ibu."
"Oh...jadi sekarang kalian berdua mulai melawan ibu terus ya, dasar anak durhaka, berani kamu sama ibu kamu sendiri" bentak bu Anjani.
"Durhaka ibu bilang?, siapa disini yang pantas di sebut durhaka bu aku atau ibu?, yang hanya mementingkan harta ketimbang keluarga bahkan karena demi harta ibu membunuh ayah. Pak ambil saja semua aset disini atau kalau bapak-bapak masih butuh pembantu di rumah boleh bawah sekalian ibu saya untuk bekerja menjadi pembantu dirumah bapak-bapak.
Sekedar mendapatkan uang untuk makan takutnya jadi gembel di jalanan, ingat ya bu ini semua tidak terjadi kalau ibu menjadi wanita yang baik, menjadi ibu bagi anak-anak dan istri bagi suami kehidupan ibu pasti pernuh kebahagiaan tapi kalau ibu terus-terusan begini suatu saat ibu akan menjadi gembel di luar sana bahkan ibu yang akan membusuk di penjara.
__ADS_1
Ibu jangan merasa paling hebat jadi apa-apa bisa sendiri, karena pada akhirnya ibu juga membutuhkan pertolongan orang, sekalian oak bawah dengan putry dan menantunya jadikan pembantu saja dirumah kalau mereka disini siapa yang akan kasih makan".
Semua pelayan dan pengawal sudah mendengar semua pembicaran nyonya Anjani dengan pihak bank dan juga Kakak Dea, jadi mereka terkejut itu artinya sebentar lagi mereka akan kehilangan pekerjaan hanya dua orang saja yang tersenyum salah satunya Maya.
"Hahah Dea...Dea kamu juga tidak berpikir apa, kalau seadainya rumah ini disita kita sama-sama jadi gembel diluar sana, kamu dan suami gembel kamu ini punya apa, tidak punya apa-apa kalau nanti semua fasilitas ini disita ibu gampang saja datang ke Dinda dan tinggal disana sama mereka. Terus kalian mau tinggal sama Dinda juga mana mau Dinda dan Dava numpang kalian disiana, ibu juga bisa minta dibelikan rumah oleh besan mereka tidak mungkin menolak jadi kamu anak durhaka yang seharusnya mikir jangan sampai semua aset ini di sita karena kalau di sita kamu orang pertama yang jadi gembel."
Gila.....benar-benar gila bu Anjani dengan bangganya berpikir untuk tinggal dengan Dinda, justru kalau seandainya kakak Dea dengan mas Tahir tidak punya rumah orang pertama yang di terimah untuk tinggal bersama Dinda itu kakak Dea dan mas Tahir bukan kamu Anjani.
Deu heran deh kenapa ibu tidak sadar-sadarnya ya, Dea pikir dengan adanya banyak masalah menimpah ibu, ibu langsung sadar dan minta ampun sama Tuhan dan bertoubat bu ingat, karma itu ada dan pada saat karma menimpah ibu tidak tanggung-tanggung. Ibu benar-benar tidak punya muka ya belum redah juga satu masalah video me**m ibu tapi ibu mulai berula kembali gila memang, ibu memang tidak punya muka sama sekali masih bisa juga bicara begitu."
"kurang ajar kamu Dea, kamu sebagai anak tidak menghargai aku sebagai ibu kamu sendiri dimana otak kamu ha, aku menyesal melahirkan kamu ke dunia ini seharusnya kamu membujuk adik kamu itu untuk membantu membayar hutang di bank, agar rumah dan semua aset lainnya tidak di sita, kamu justru bicara begitu, lagian kalau semua harta ini tidak disita kamu juga dapat dari pada kamu numpang sama orang punya malu sedikit." ujar bu Anjani.
"Haha....bu jangan memandang sebelah mata kehidupan aku dan Dea, karena bisa jadi hidup aku dengan Dea yang akan sukses tanpa ibu sedangkan kehidupan ibu dan putry kesayangan ibu dan mantu kesayangan ibu jadi gembel ikut ibu, seharusnya ibu memikirkan nasib ibu kedepan nya kalau semua aset ini disita oleh bank bukannya ceramai kami berdua. Atau bagaimana kalau ibu kembali saja ke kampung halaman ibu biar menjalani hidup seperti dulu lagi."
__ADS_1
Dari dari tadi orang yang dari pihak bank hanya menjadi penonton saja dengan pertengkaran bu Anjani dengan kakak Dea dan mas Tahir.
"Maaf nyonya kalau begitu kami perminisi dulu ini surat peringatan ketiga dari pihak bank kami kasih waktu tiga hari." ujar pak Sammy namun belum juga di jawab oleh bu Anjani muncul Lexza dan Kenedy. Bersamaan dengan paman Gibran dan Bibi Lya.
"Loh ada apa ini kok ribut pagi-pagi begini, maaf anda siapa ya datang kesini?" tanya paman Gibran.
"Mas tidak lihat mereka menghadap siapa, jelas mereka datang kesini karena pasti ula perempuan terhormat ini lagi, memang ya perempuan pembawah sial ini selalu buat masalah, masalah kemarin belum selesi datang lagi masalah baru pak lebih baik bawah saja ke kantor polisi, biar selesaikan disana saja kalau dia macam-macam penjarakan saja.
He perempuan sialan kamu tidak ada tobatnya ya, bisa tidak satu hari saja jangan buat masalah ini lah efeknya jadi ibu jahat, terhadap anak kandung sendiri jadi selalu mendapatkan karma, masih pagi-pagi sudah di datangi di rumah seret saja pak bawah saja dia, tapi tunggu dulu memangnya ada apa ya bapak-bapak datang kesini" tanya bu Lya.
"He perempuan sundal, kamu bicara apa sih dari tadi aku tidak mengerti? datang-datang asal bicara saja kamu, lebih baik tutup mulut busukmu karena aku tidak butuh ceramah kamu jadi lebih baik kamu pergi dari sini jangan ganggu aku karena lagi pusing, dasar manusia sampah hanya numpang disini saja balagu"
Plakkkkkkl!
__ADS_1