Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
97:97


__ADS_3

Sih Lexza mau cari gara-gara lagi dengan Dea jangan sampai kamu di hajar sama Dea loh Lexza kamu kenapa tidak ada tobat-tobatnya.


"Hahaha....apa kamu bilang adik kandung?....Hello Dea sadar woy....sadar kalau memang benar perempuan miskin itu adik kandung kamu kenapa selama dia masih di rumah kamu juga suka marahin dia, dan tidak perna membelahnya saat dia di hina dan di caci maki justru kamu membelahku. Kenapa sekarang kamu berubah begini sih kamu di kasih minum obat apa sampai oleng begini"


"Iya memang kamu benar selama Dinda di rumah aku tidak pernah membelahnya setelah kematian ayah, kamu tahu kenapa? Kamu tahu gak....." teriak Dea membuat Lexza dan Kenedy terkejut bahkan Tahir sendiri ikut terkejut melihat perubahan sikap Dea.


"Kamu mau tahukan biar aku kasih tahu, yang pertama karena di hati kecilku aku menyayangi adiku itu tapi aku tidak tahan melihat kamu dengan ibu setiap hari mencaci maki dan menghinanya, jadi aku ingin dia secepatnya keluar dari rumah yang seperti neraka itu karena aku tidak tega melihatnya tersiksa di dalam rumah itu makanya aku sengaja ikut adil membuat dia tidak nyaman agar dia sengera pergi, karena aku lakukan itu dengan terpaksa tekanan dari kamu dan ibu sangatlah kuat."


"Dan kedua kamu tahu siapa yang mengeluarkan Dinda dari kamar mandi dan meloloskan dia pergi, aku yang melakukan itu karena aku masih punya hati nurani buktinya setelah adik aku keluar dari kediaman Winata dia mendapatkan kebahagiaan yang selama dia hidup disana tidak pernah ia mendapatkan. Kebahagiaan itu tapi sekarang dia dapat semuanya itu dari suaminya."


"Jadi silakan kalau kamu mau aduin hal ini ke ibu karena aku sekarang tidak takut dengan siapapun termasuk kamu dan ibu, jujur dari dulu aku terpaksa mengikuti semua kemauan ibu dan peraturan yang ibu lakukan jadi sekarang maaf aku bukan boneka yang suka-sukanya kalian atur, secepatnya aku akan keluar dari rumah itu, karena aku yakin tidak lama lagi kalian juga akan keluar dari rumah itu karena rumah itu akan pindah tangan, jadi jangan bangga saat ini kamu masih aman disitu karena takutnya sebentar lagi kalian jadi gembel di jalanan." bentak Dea


"Tidak masalah aku yang mengakui kalau aku yang keluarkan Dinda dari rumah, jika aku disiksa seperti Dinda anggal saja itu pembalasan terhadapku karena aku sudah jahat sama adik sendiri, jangan sampai Maya yang kena" gumam Dea dalam hati.


Bu Anjani yang tertidur dari tadi akhirnya terbangun karena ternganggu dengan suara Dea dan Lexza yang gak tahu berapa oktaf volumenya.


"Lexza...ibu kenapa ya... Ibu kenapa disini" Tanya bu Anjani saat bagun tidur tadi pas siuman dokter menyuruh bu Anjani kembali istirahat karena kondisinya masih lemah akhirnya bu Anjani kembali tidur sedangkan kedua anak dan menantunya justru berantem.

__ADS_1


"Ibu jangan banyak bicara dulu ya nanti baru Lexza ceritakan semuanya asal ibu sehat dulu, ibu jangan banyak gerak karena kata suster luka ibu dalam banget jadi belum sembuh total."


Ujar Lexza menenangkan bu Anjani sedangkan Dea hanya berdiri disitu saja tapi tidak bicara apa-apa.


"Dea...nak kamu disini juga, siapa yang mengelola restoran dan bisnis lainnya, oh ya ibu sudah berapa hari disini"


"Bu bisa gak jangan nanyain soal itu dulu ibu iti baru sadar loh dari masa kritis ibu, ibu disini sudah tiga hari, sekarang lebih baik ibu fokus kesehatan ibu dulu jangan mikirin yang ane-ane." ujar Dea geram dalam hati bisa-bisanya ibunya baru bagun tapi langsung menanyakan soal pekerjaan.


"Hamm.... Tiga hari memangnya ibu kenapa dan lengan ibu kenapa sampai di perban begini"


Bu Anjani berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya malam itu dan benar saja bu Anjani kembali mengingat semuanya karena di tembakkan di tangan bukan di kepala makanya bu Anjani bisa mengingat karena bu Anjani bukan amnesia.


"Astaga aku jadi ingat kembali malam itu aku di tembak oleh seseorang lewat jendela. Kira-kira siapa bajingan itu ya berani sekali dia mengusik aku Anjani Winata apakah dia tidak tahu siapa aku, aku harus cari tahu siapa pelakunya dan apa motifnya melakukan hal ini terhadapku, aku yakin mamang dia sengaja tidak membuat aku meninggal karena kalau dia mengincar nyawa ku mungkin aku sudah meninggal, karena aku yakin ini penembak jitu hebat ini, tapi siapa ya yang melakukan ini perasaan aku tidak punya musuh." Gumam bu Anjani dalam hati.


"Iya ibu sudah ingat kejadian itu, tapi ibu tidak tahu apa motifnya perasaan selama ini ibu tidak punya musuh. Oh ya Dea, Lexza bagaimana dengan perusahaan semua lancarkan"


"Maaf bu selama ibu di rumah sakit kita jangain ibu disini jadi tidak ada yang kekantor tapi orang kepercayaan ibu pasti menghendle semuanya kok, jadi ibu tenangkan pikiran ibu dulu nanti kalau ibu sudah sehat baru ibu kembali bekerja"

__ADS_1


Ibu Anjani yang mendengar perkataan Lexza menjadi kuwatir karena menurut bu Anjani harta dan tahta adalah segalanya, apalagi bu Anjani hanya ingin memiliki semua harta itu bisa merencanakan siasat jahat untuk melenyapkan suaminya yang sudah puluhan tahun menemaninya.


Mana mungkin sekarang harta dan kekayaan sudah di depan mata dibiarkan begitu saja, bu Anjani takut karena dia sakit jadi terjadi sesuatu dengan perusahaan.


Anda tidak tahu bu Anjani kalau saat ini perusahaan sudah di ujung tanduk tinggal menunggu kesehatan kamu pulih saja perusahaan langaung pindah tangan. Jadi kamu siap-siap saja agar tidak jantungan karena tidak sanggup menerima kenyataan pahit itu.


Apalagi kalau nanti harta dan kekayaan kamu sudah di sita semua.


"Bukannya ibu tidak percaya dengan orang kepercayaan ibu, tapi selama ibu tidak di kantor ibu belum bisa tenang, ibu takut terjadi sesuatu dengan perusahaan kalau semua masyarakat tahu apa yang ibu alami apalagi semua penanam saham tahu bisa bahaya."


"Oh ya, selama ibu disini kalian tidak lapor polisikan dan tidak ada juga yang meliput berita tentang ibu kan, karena ibu tidak mau itu terjadi ibu tidak mau masyaratakan dan media tahu"


Bu Anjani menatap anak dan menantunya yang sudah jantungan karena perkataan bu Anjani, bagaimana mereka mau jelaskan sedangkan belum di jelaskan saja bu Anjani sudah kasih peringatan apalagi sekarang semua sudah terjadi karena mereka juga tidak tahu siapa yang meliput berita yang pertama waktu di kediaman keluarga Winata.


Kedua anak dan menantu mereka susa payan menelan saliva, mereka mau bicara juga bibir mereka kelu dan tidak bisa mengucapkan kata-kata.


"Bu lebih baik ibu istirahat lagi deh karena mungkin ibu kecapean ibu jug baru sadar jadi seharusnya ibu banyak istirahat."

__ADS_1


__ADS_2