
Setelah selesai kami makan aku langsung pamit pergi dan Dinda akan pergi bertemu dengan Tasya dan Sabrina, aku pamit sama semuanya.
"Sayang mas pergi kerja dulu ya kalau nanti kamu pergi hati-hati di jalan jangan ngebut kalau bawah mobil ya, jangan lupa kabarin mas kemanapun kamu pergi mas takut kamu nanti kenapa-kenapa" ujarku.
"Iya mas kan ada pengawal yang selalu menjaga dan melindugi Dinda, jadi mas tidak perlu kuatir akan keselamatan Dinda mas juga hati-hati dijalan" ujar Dinda.
"Yah, bu. Dava berangkat dulu ya ibu juga jaga kesehatan jangan lupa selalu minum obat ya bu" ujarku
"Iya nak hati-hati di jalan ya" ujar ayah dan ibu hampir bersamaan.
Setelah aku pamit aku masuk kedalam mobil dan keluar dari gerbang utama untuk masuk ke jalan raya, aku sudah menyuruh pengawal menjaga Dinda kemana pun Dinda pergi dan apapun yang di lakukan Dinda di laporkan ke aku, bukan tanpa alasan aku hanya ingin menjaga istriku dari jarak jauh karena aku tidak bisa menemani Dinda setiap saat. Pekerjaan juga menuntut jadi aku tidak bisa bagi waktu untuk selalu bersama Dinda dan kedua anak ku, walaupun aku percaya istriku adalah wanita yang baik dan juga kedua sahabatnya adalah sahabat yang baik jadi tidak mungkin mereka melakukan hal-hal diluar nalar.
Kata Dinda sekitar jam sembilan atau jam sepuluh baru mereka keluar aku bilang lebih baik ke mall keluarga saja tapi kata Dinda, Dinda mengikuti Tasya dan Sabrina siapa tahu mereka mau pergi ke mall lain. Tidak masalah sih lagian banyak sekali mall di ibu kota jadi suka-suka mereka mau kemana.
"Tuan apakah kita langsung aja ke kantor atau kemana dulu? " tanya asisten Arfan.
"Kita langsung aja ke perusahaan asisten Arfan, soalnya aku akan ada pertemuan dengan Tuan Adrak di restoran nanti jam sepuluh, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan pak Erik " ujarku.
"Tuan saya dapat kabar dari rumah sakit katanya Tuan Maulana sudah tahu kalau istri dan anaknya di rumah sakit milik Tuan, sehingga Tuan Maulana kesana hampir sedikit buat kekacauan karena Tuan Maulana melarang pihak rumah sakit melakukan operasi terhadap istrinya katanya tidak ada biaya, bahkan dari pihak rumah sakit sudah menjelaskan juga bahwa, semua operasi gratis tidak ada pungutan biaya sama sekali tapi Tuan Maulana tetap kekeh tidak mau istrinya di operasi, tapi untung ada pengawal disana jadi mereka menyeret Tuan Maulana keluar namun Tuan Maulana berteriak katanya jika terjadi sesuatu sama istrinya dia akan menuntut pihak rumah sakit dan pemiliknya.
Saya rasa Tuan Maulana bukannya tidak punya uang untuk membiayai pengobatan istrinya, melainkan Tuan Maulana takut jika istrinya sembuh dan bisa jadi istrinya kembali melawan Tuan Maulana dan merebut kembali seluruh hartanya. Itu yang membuat Tuan Maulana ketakutan kalau istrinya sembuh, sehingga Tuan Maulana mengupayakan untuk mengagalkan operasi istrinya, namun semua sudah terlambat operasi istrinya sudah selesai dan kondisinya juga sudah stabil walau pun belum sadar" ujar Asisten Arfan.
Sebenarnya aku sudah tahu semuanya makanya aku rencana kerumah sakit untuk melihat kondisi ibunya Amora, aku juga belum tahu seperti apa ibunya Amora sudah tua atau masih muda, tapi kalau aku lihat dari umur Amora yang sudah mau tiga belas tahun mungkin ibunya sudah tiga puluh atau empat puluh umurnya. Apalagi Tuan Maulana juga kalau aku lihat umurnya sudah mau memasuki empat puluh tahun sudah tua juga tapi masih selingkuh.
__ADS_1
"Iya asisten Arfan justru itu aku mau ke rumah sakit nanti sore setelah kita pulang dari kantor, aku sudah tahu semua itu Tuan Maulana sudah ketakutan kalau sampai istrinya sembuh berarti bisa jadi semua hartanya jatuh kembali ke tangan istri, aku curiga kalau penyakit istrinya ini pasti ula Tuan Maulana, bukannya aku ingin ikut campur urusan orang hanya saja aku kasian melihat Amora begitu menderita melihat ibunya sakit dan dirinya kayal tidak terurus padahal anak gadis sebesar itu sebenar sudah bisa mengurus diri." ujarku.
"Iya Tuan saya rasa juga begitu, tapi istrinya Tuan Maulana masih muda Tuan kalau saya lihat seumuran nona Dinda, bisa jada istrinya Tuan Maulana itu menikah masih sangat mudah makanya anaknya sudah sebesar itu." ujar asisten Arfan.
" Ada benarnya juga asisten Arfan, mungkin Amora ikut ibunya soalnya dia cantik kalau Tuan Maulana tidak begitj tanpan, kulitnya juga agak gelap" ujar asisten Arfan.
Tidak terasa kami sudah sampai di kantor aku baru ingat kalau aku harus bicara dengan Andy untuk mengirimnya je luar kota. Aku turun dari dalam mobil ternyata pak Erik sudah menunggu dengan beberapa manajer lainyadi loby menyambut aku, aku membuang senyum kepada mereka semua.
"Selamat pagi Tuan" ujar pak Erik kami langsung menuju ke lift dan masuk kedalam, saat kami keluar dari lift ternyata sekretaris Dani sudah menunggu di depan lift sambil menyapa ku.
"Selamat pagi Tuan" ujar yang lain.
"Sekretaris Dani tolong panggilkan pak Andy bagian marketing aku menunggu dia di ruangan, pak Erik kita harus bicara" ujarku.
"Selamat pagi Tuan" ujar Andy.
"Pagi pak Andy silahkan duduk." Ujarku mempersilahkan Andy duduk.
"Jadi begini pak Andy, pak Erik, aku memanggil pak Andy kesini karena aku ingin pak Andy pinda pekerjaan sementara waktu jika nanti sudah selesai pak Andy bisa kembali lagi ke kantor pusat, karena dari kantor pusat hanya pak Andy yang bisa di percaya bukannya yang lain tidak bisa hanya saja ini pilihan saya yang sudah banyak pertimbangan" Andy terkejut dan menatapku, begitu juga pak Erik karena sebelumnya aku belum sempat bilang pak Erik.
"Maaf Tuan muda, maksud Tuan muda saya tidak bekerja disini lagi begitu? Tapi saya di pindahkan sementara wakty ke tempat lain"? Tanya Andy memastikan.
"Ya betul sekali pak Andy, jadi pak Andy tahu bukan, kalau proyek yang sekarang lagi dalam pembangunan yang sedang berjalan di kota X, proyek di sana butuh seseorang yang sudah memiliki pengalama arsitektur yang bagus jadi aku lihat pak Andy yang cocok, pak Andy disana sebagai manajer, selama pengerjaan proyek itu berjalan pak Andy yang menghandle semua jadi mulai besok pak Andy sudah bisa bersiap untuk kesana, pak Andy tidak perlu takut jika pak Andy meninggalkan istri, karena dari perusahaan sudah menyediakan fasilitas penuh disana jadi pak Andy bolen bersama istri, hitung-hitung sekalian bulan madu hehehe"
__ADS_1
Andy tidak banyak bicara hanya menjawab iya saja.
"Baiklah Tuan muda kalau memang itu adalah keputusan Tuan muda tidak masalah dan tidak begitu buruk sehingga saya siap menerimah dan siap berangkat kesana juga besok" ujar Andy.
"Makasih ya pak Andy sudah siap di utus kesana mengantikan posisi manajer Disana, sekarang pak Andy boleh kembali bekerja ," ujarku.
Andy keluar dari ruangan dan kembali ke ruang kerjanya, sekarang tinggal aku pak Erik, asisten dan sekretaris.
"Pak Erik kenapa tidak memberitahuku soal kinerja buruk mamajer itu, tapi kenapa pak Erik diam saja sampai para pekerja di proyek di tindas begitu" tanyaku.
"Maaf Tuan muda, saya tidak bermaksuda menyembunyikan semua itu dari Tuan muda hanya saja saat saya ceritakan semua kepada Tuan besar rupanya Tuan besar melarang saya untuk memberitshu Tuan muda soal masalah ini biar Tuan muda yang menyelesaikan sendiri" ujar pak Erik.
Ternyata benar kata ayah kalau ayah yang menyuruh pak Erik untuk melakukan hal itu, mereka juga sudah tahu tapi bukannya memberitahu justru pak Erik dan ayah diam saja dasar memang ya, pengen marah juga ayah sendiri yang menyuruh, nanti aku di bilang anak duehaka lagi sama orang Tua.
"Ya sudah tidak masalah lagian masalah sudah kelar juga, tapi pak Erik aku ingin membangun mall, restoran dan hotel di kota X menurut pak Erik bagaimana bagus tidak, lantaran disana banyak pengunjung dan tempat-tenpat wasata biayak"
"Apakah Tuan muda sudah diskusikan ini dengan Tuan besar, karena ini masalah sangat besar jadi tidak bisa ambil keputusan sendiri, kalau Tuan muda bertanya sama saya menurut saya kota X adalah tempat bagus buat bisnis jadi saya setuju karena strategis juga banyak wisatawan yang akan kesana."
Hmm sekarang pak Erik sudah setujuh berarti tingga ayah, ibu dan juga Dinda kalau mereka setujuh langsung pergi meninjau tempat untuk mulai pembangunan.
"Jasi menurut pak Erik bagus jika membangun mall dan restoran di kota itu" tanyaku sekali lagi.
"Iya Tuan muda bagus kalau disana, pasti Tuan besar juga setujuh jika itu yang Tuan muda ajukan" ujar pak Erik.
__ADS_1
Setelah itu kami berdua membahas tentang pekerjaan dan masalah lain yang afa di perusahaan ini, sejauh ini perusahaan Adinata berjalan dengan lancar, aku juga meminta lagi berkas untuk bagian keuangan alu merasa alhir-akhir ini bagian keuangan tidak memberikan laporan keuangan dengan valid, aku curiga jangam sampai ada permainan, aku paling benci hal seperti itu.