Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
48:48


__ADS_3

Haha nanti kamu akan kanget bu Anjani yang terhormat jika kamu tahu yang di tunggu-tunggu adalah Dinda anak yang sudah kamu buang. Apakah kamu masih sombong atau langsung syok dan pergi.


Bu Anjani santai saja, sebenarnya ia juga penasaran siapa yang di maksud oleh teman-temannya itu. Tapi dia pura-pura tidak peduli. Gengsi dong kalau kelihatan kepo sama orang lain.


"Jeng Anjani pasti penasaran ya, siapa yang kita tunggu, yang jelas orang yang kita tunggu adalah seseorang yang sangat terhormat."


Tidak selang lama sebuah mobil mewah masuk kedalam area parkir, dan keluarlah seorang wanita cantik dengan anggun ia keluar dari mobil itu dan melangkah masuk kedalam restoran. Masih dari jauh jeng lili melihat Dinda langsung tersenyum.


"Nah tuh dia yang kita tunggu-tunggu sudah datang wah ternyata cantik banget " semua mata meneloh ke arah Dinda berbedah dengan bu Anjani yang pura-pura tidak melihat padahal sangat penasaran.


"Hallo semuanya maaf saya agak sedikit telat karena masih ada urusan tadi"


"Hallo jeng selamat bergabung ya" jawab semua wanita-wanita yang ada disana sedangkan bu Anjani yang mendengar suara Dinda jantungnya berdengup kencang.


"Deg......"


"Kayak suara anak miskin itu apa ia dia yang datang aha tidak mungkin. Selama ini aku sendiri tidak membawahnya ikut arisan mana tahu hal-hal begini, apalagi dapat uang banyak dari mana untuk bergaya malu-maluin aja datang kesini pakek barang murah"


Karena semua teman-teman yang lain melihat bu Anjani lebih sibuk memperhatikan hpnya di banding menyapah teman baru mereka, dengan tenang jeng Pita menyengol lengan bu Anjani karena kebetulan mereka berdua dudul bersampingan.


"Jeng Anjani kenal dong sama teman baru kita jeng Dinda, teman baru yang sangat cantik dan masih muda tapi kaya raya."


Bu Anjani mengangkat kepalanya dan ternyata benar, itu adalah Dinda anak bungsunya. Tapi bu Anjani tidak menunjukan ekspresi senyum melainkan ada sedikit kebencian dalam dirinya terhadap Dinda.


Dinda juga menatap bu Anjani dengan tatapan tajam, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka berdua.


Secepatnya Dinda sadar dari tatapannya dan dengan senyum dia berusaha menyapa bu Anjani.


"Hay jeng perkenalkan nama saya Dinda Andinita. Senang berkenalan dengan Anda mungkin kedepannya kita bisa jadi teman" ujar Dinda tapi sayangnya bu Anjani tidak membalasnya.


Namun tiba-tiba seorang teman arisan lantas mengomentari wajah bu Anjani dengan Dinda karena menurutnya sangat mirip.

__ADS_1


"Eh....jeng, coba lihat deh..kalau kita perhatikan wajah jeng Anjani dan jeng Dinda kok kayak mirip banget ya"


Karena Dinda tidak mau mengakui Anjani sebagai ibunya dengan cepat-cepat ia memotong pembicaraan itu.


"Ah jeng bisa aja deh mana mungkin mirip saya sama jeng Anjani saja baru ketemu dan juga jelas kelas kami berbedah."


Tidak lama kemudian bu Anjani bangkit dari duduknya dan berlalu pergi namun di cengah oleh jeng lili.


"Jeng Anjani mau kemana, ini baru mau mulai kok buru-buru amat ada apa" tanya jeng Lili.


"Maaf semuanya, saya harus pergi ada pekerjaan yang mendadak harus diselesaikan, nanti kita berkumpul di lain waktu.


Setelah bu Anjani pergi teman-teman mulai membicarakannya karena baru kali ini bu Anjani seperti itu, memang bu Anjani sering sering sekali buat emosi oleh teman arisannya namum tidak pernah sekalipun ia bersikap seperti itu. Ini pertama kalinya.


"Eh...jeng Anjani kenapa ya, kok kayak sensi banget. Kalau saya lihat ya sepertinya dia tidak suka dengan jeng Dinda mungkin pikirnya jeng Dinda jadi saingannya mungkin."


"Bisa jadi kayak tidak tahu aja, dari dulu memang jeng Anjani seperti itu, sensitif banget, padahal tadi jeng Dinda bicaranya biasa aja menurutku sih, jadi apa yang membuat dia sensi coba."


Dinda yang mendengar pembicaraan teman-teman arisan seputuran kelakuan bu Anjani membuat Dinda senyum simpul aja, dalam hatinya bergirang melihat bu Anjani merasa tersaingi.


"Haahha...ini belum seberapa nyonya Winata, aku akan membuat anda menangis darah nanti jika anda tahu siapa suamiku sebenarnya, memang ayah paling terbaik untung waktu itu ayah tidak menentang hubungan kami berdua. Makasih ya ayah, semoga ayah bahagia disana, aku merindukanmu ayah" gumam Dinda dalam hati.


Akhirnya mereka mulai acara mereka untuk arisan, Dinda merasa sangat bahagia karena memiliki teman baru yang menurutnya sangat menyenangkan, teman-teman yang baik dan selalu kompak.


Setelah selesai arisan dan saatnya mereka mulai makan bersama sambil ngobrol bareng membahas tentang pekerjaan mereka masing-masing.


"Jeng Dinda enak banget ya punya suami yang kaya raya, tapi tahu tidak jeng sebenarnya suami jeng Dinda yang mana ya, saya hanya kenal nyonya Adinata aja tapi anaknya saya tidak tahu siapa namanya"


"Iya sama jeng saya juga begitu sampai penasaran loh kirain kalau masih lajang saya jodoin dengan anak gadis saya, tahunya sudah punya istri yang sangat cantik"


Pujian demi pujian terlontar dari mulut bibir teman-teman arisan Dinda, membuatnya merasa sangat di hargai ditempat itu.

__ADS_1


"Ah jeng berlebihan semuanya biasa saja, kita semua yang ada disini tidak ada yang lebih tinggi selain dari pada Allah. Kita sama-sama masih hidup didunia ini duduk sama rendah, berdiri sama tinggi jadi tidak perlu kita menyombongkan diri." ujar Nadia.


"Wah....bijak sekali jeng Dinda memang tidak salah nyonya Adinata memilih jeng Dinda sebagai menantu kesayangannya karena ternyata jeng Dinda sangat rendah hati dan tidak suka meninggikan diri."


"Iya benar jeng saya setuju, jeng Dinda ternyata wanita yang berkelas. Sudah kaya raya tapi tidak sedikitpun menyombongkan diri, padahal bisa sajakan jeng Dinda lakukan itu"


"Hahaha...semua itu harta dari orang tua suami saya jeng bukan harta kami, jadi untuk apa saya harus menyombongkan diri sedangkan bukan hasil dari keringat sendiri."


Semua teman arisan Dinda senang berteman dengan Dinda karena katanya Dinda baik, lagian teman arisam yang hadir saat itu semuanya seumuran Dinda hanya beberapa orang saja yang seumuran dengan bu Anjani.


Setelah acara semua selesai mereka bersiap pulang.


Sedangkan pas bu Anjani keluar dari dalam restoran bukannya langsung pulang, tapi justru bu Anjani masuk kedalam mobil dan menunggu sampai Dinda keluar, setelah bu Anjani pastikan semua temannya sudah pergi ia turun dari mobilnya dan gegas mendekati mobil Nadia, bu Anjani tidak tahu kalau Dinda tidak datang sendiri melainkan dengan pengawal.


Karena Dinda sudah tahu kalau bu Anjani sengaja menunggunya sehingga Dinda memperlambat pulangnya, dia menunggu semua teman arisnya pulang dulu baru ai pulang.


"He......keluar kau dari sana...


Tok tok tok!


Bu Anjani mengetuk pintu mobil Dinda, akhirnya Dinda keluar dari mobilnya dan membanting pintu mobil dengan keras sampai menimbulkan bunyi yang kuat.


Bummkkkkkk!


Dengan senyum sinis Dinda turun dan mendekati bu Anjani.


"Hay nyonya Winata ada yang bisa saya bantu? Kenapa anda menghalangi jalan saya ya,"


Bu Anjani menatap Dinda dengan tatapan tajam, kayak singah yang sudah siap mau menerkam mangsa..


"Siapa yang menyuruhmu kabur dari rumah, sekarang kamu ikut aku pulang kerumah atau kamu mau aku seret kamu pergi dari sini"

__ADS_1


"Hay nyonya Winata yang terhormat anda harus sopan, memang siapa anda memerintahkan saya untuk ikut dengan anda, ingat nyonya anda bukan siapa-siapa saya jadi saya harus ikut dengan anda, jangan sampai saya akan membuat anda menyesal seumur hidup anda, lebih baik anda pergi dari sini dan urus urusan anda dan keluarga anda".


__ADS_2