Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
334


__ADS_3

Aku langsung memeluk Dinda, dan menyuruhnya duduk tidak perlu menyiksa Emelia lagi biar aku saja yang melakukannya karena Dinda lagi hamil. Aku tidak mau Dinda kembali membunuh orang jadi aku menyuruh Dinda untuk tidak melakukannya.


Namun saat Emelia melihat aku justru Emelia minta tolong sama aku, dengan dalil Dinda menjebaknya sehingga Dinda membawah dia kesini dan menyiksanya Emelia pikir aku ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa sehingga dia ingin membohongiku.


"Dav, lihat istri kamu sangat kejam masa dia menembak kakiku, apakah dia tidak tahu kalau aku ini siapa tolong beritahu dia dan ajarin istrimu sopan santun agar dia tidak melakukan sesuatu dengan gegabah. Katanya istrimu adalah wanita yang berkelas dan angun. Tapi kok sekarang kelihatan sekali kelas rendah." Ujar Emelia.


"Hehehe....nona Emelia bukankah anda sendiri yang membuat istriku seperti ini, anda sendiri yang mengirim pesan kepada istriku, katanya anda ingin membunuh istriku jadi maaf aku tidak bisa membantumu justru aku juga ingin memberikan pelajaran kepadamu. Karena kamu tidak mendengar perkataan istriku dan kamu juga tidak mengindahkan peringatakan dariku jadi akan aku berikan pelajaran kepadamu." ujarku.


"Kamu pikir aku takut Dav? Setelah kamu bicara begitu, aku bukan wanita lemah seperti istrimu sehingga dia selalu berlindung di bawah ketiak kamu, coba saja kamu meninggalkan istri kamu, aku jamin dia tidak bisa apa-apa." ujar Emelia.


Awalnya Dinda sudah duduk tapi karena perkataan Emelia Dinda langsung bangkit dari duduknya, dan langsung mengambil pistol dan menembak tebak di dada Emelia hal itu membuat. Emelia langsung merengang nyawah di lantai aku tidal bisa buat apa-apa lagi karena dari tadi aku sengaja tahan-tahan, jangan sampai Emelia memancing emosi Dinda dan pada akhirnya membunuhnya, tapi ternyata Emelia justru tidak bisa diam.


"Oh kamu mau cepat meninggal ya biar aku melancarkannya, kamu sudah siapkan baiklah" ujar Dinda


Dorrrr......dorrrrrr!.

__ADS_1


"Ah.....ka...kamu....ku...kurang A..ajar....be..berani membunuhku." ujar Emelia terbatah-batah pada akhirnya Emelia meninggal di tempat.


Sekarang tinggal mayat Emelia tergeletak di lantai, sedangkan pistol masih di tangan Dinda dengan santai Dinda kembali duduk sembari berkata," sudah berulang kali aku masih berbaik hati dan memberikan kesempatan kepadamu tapi justru kamu tidak takut dengan ancamanku sampai kamu meneror aku dan kamu juga merencanakan kematianku sekarang kamu meninggal dalam kesalahan kamu sendiri bukan aku."


Aku sudah berulang kali menyaksikan Dinda membunuh orang, tapi aku tidak percaya Dinda berani membunuh Emelia, memang disatu sisi aku emosi dengan cara Emelia yang selalu mengusik kehidupan kami berdua bahkan Emelia mengancam Dinda sehingga membuat Dinda emosi, tapi secara hati nurani sebagai seorang manusia aku juga ada rasa kasian.


Masalah ini pasti akan menjadi masalah besar, karena orang Tuan Emelia pasti cari tahu tentang kematian Emelia, apalagi hilangnya Emelian secara tiba-tiba.


"Pengawal sekarang urus Jenasanya dan kuburkan saja di belakang gedung tua ini atau kalau bisa bakar saja dengan gedung ini, jangan meninggalkan jejak sedikitpun. Terus kalian tahu bukan apa yang harus kalian lakukan" ujarku.


"Baik Tuan muda" ujar pengawal.


"Sayang sekarang sayang ikut dengan mas, biar mobil itu di bawah pulang oleh pengawal, sayang masih berhutang penjelasan dengan mas, sekarang sayang mau ikut mas ke kantor atau mas antar pulang ke rumah biar istirahat." tanyaku.


"Dinda ikut mas saja ke kantor, soalnya kalau di rumah Dinda cepat bosan biar kalau mas capek kerja Dinda bisa bantuin ngerjain laporan dan sekalian Dinda jelaskan kepada mas" ujar Dinda.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita langsung ke kantor saja," aku langsung menuntun Dinda kedalam mobil dan kami keluar dari area gedung tua itu karena gedung tua itu jauh dari keramaian.


Saat kami masuk ke jalan raya dan kami sudah mulai mendekati perusahaan, mataku tidak segaja melihat ada seorang berdiri di pinggir jalan menatap tajam ke arah kami, kalau aku lihat dari postur tubuhnya dia seorang wanita tapi dia pakai topi dan masker, baru saja aku mau memberitahu Dinda ternyata Dinda juga melihat dan langsung menyebut nama orang tersebut.


"Lexza!......bukankah itu Lexza ngapain Dia disitu dan menatap tajam ke arah kita jangan-jangan dia ingin mencelakai kita. Dasar perempuan Sinting dia menghilang dan meneror sekarang dia muncul, dia pikir kita tidak melihatnya biarkan saja selagi dia tidak melakukan apa-apa." ujar Dinda.


Tidak lama kemudian kami sampai di depan loby kantor dan kami di sambut hangat oleh semua karyawan, setiap kali aku datang semenjak mereka semua tahu bahwa aku ini adalah pemilik perusahaan, saat mereka mendengar aku datang mereka langsung berbaris didepan loby untuk menyambut aku, dan mungkin para pembaca setia sudah melupakan om botak yang bernama Zaka, dulu merendahkan aku tapi sekarang setiap kali aku bertemu dengannya dia menunduk kepala dan menghormati aku.


Jujur aku tidak suka diperlakukan seperti itu, aku perna bilang sama pak Erik agar tidak melakukan itu tapi pak Erik dan ayah tidak memperbolehkan, kata ayah biar semua karyawan tahu menghormati atasan dan bukan hanya aku yang di perlakukan begitu tapi pak Erik juga.


"Selamat datang Tuan muda dan nona muda" mereka berikam salam hormat, aku dan Dinda berikam senyum terbaik kepada mereka, karena kalau bukan kerja mereka perusahaan ini tidak akan maju mereka sudah kerja sebaik mungkin sehingga perusahaan ini semakin jaya dan berkembang.


"Tuan muda, maaf hari ini ada meeting penting jam dua belas siang di ruang meeting, maaf saya baru beritahu Tuan muda karena saya tidak ingin menganggu Tuan muda." ujar pak Erik.


Astaga aku benar-benar lupa padahal semalam pak Erik sudah memberitahu aku kalau hari ini memang ada meeting penting dengam semua direksi sebenarnya mulai jam sepuluh tapi karena ada tamu dari luar negeri sehingga di tunda jadi jam dua belas.

__ADS_1


"Baik pak Erik siapkan semuanya, kita ikuti meeting nanti saya antarkan dulu nona muda ke ruangan masih lama juga" ujarku.


Lagiam sekarang baru jam sepuluh jadi masih dua jam lagi baru mulai masih lama, tidak terburu-buruh aku bisa mengerjakan pekerjaan yang lain di temani oleh istri tercinta itu menjadi semangat baru bagiku.


__ADS_2