Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
266


__ADS_3

Bibi Lya tidak tanggung-tanggung memberikan satu tamparan keras mengenai tepat di pipi si perempuan ular itu sampai pipinya merah merona. Perempuan itu sambil memengang pipinya menatap tajam ke arwh bibu Lya.


"Kamu ya sudah mengalami kondisi seperti ini saja kamu masih belum sadar juga Anjani keterlaluan kamu, pak ada keperluan apa anda kemari"?tanya bibi Lya karena dari tadi belum mendapatkan penjelesan.


Pak Sammy kembali menjelaskan kalau mereka berempat dari pihak bank datang memberitahukan kalau rumah ini dan semua aset yang lain sudah menjadi milik bank, karena banyak hutang di bank jadi kerena perusahaan lagi dalam krisis jadi tidak sanggup membayar hutang di bank maka dari pihak bank datang untuk menyita rumah itu.


Mendengar penjelasan itu semua penghuni terkejut bukan kepalang, hanya kakak Dea, mas Tahir yang tidak ada reaksi apa-apa karena mereka sudah tahu kalau semua trik ini di lakukan oleh ayah Evan.


"Apa...semua aset di sita?....berarti mobil dan rumah ini juga?" Tanya Lexza.


"Iya betul nona jadi semua aset kamu sita." jawab pak Sammy


"Tidak....jangan lakukan ini pak tolong jangan sita rumah ini kalau rumah ini disita terus kami tinggal di mana pak, hanya ini satu -satunya yang kami punya untuk tinggal pak kalau semua apertemen dan hotel di ambil kami keluarga besar tinggal dimana? lagian siapa yang berhutang sebanyak itu pak dan satu lagi kalau memang benar semua aset ini menjadi jaminan di bank mana buktinya pak, pasti ada bukti seperti sertifikat dan juga surat persetujuan mana tunjukan kepada kami semua " bentak Lexza tidak sopan dengan membentak orang dari bank.

__ADS_1


Dengan senang hati temannya pak Sammy mengeluarkan sebuah map dan didalamnya surat perjanjian tertera atas nama Tuan Winata, membuat Lexza membulatkan matanya dengan sempurna Lexza tidak percaya kalau ternyata yang melakukan itu adalah ayah Evan berarti benar kalau banyak hutang pihak bank.


Bu Anjani, belum percaya jadi dia juga ikut memeriksa berkas itu sama tidak kalah terkejut sedangkan kakak Dea dan mas Tahir saling pandang dan tersenyum, paman dan bibi Lya juga turut periksa berkas itu dan memang benar tanda tangan itu adalah lah tanda tangan kakaknya sampai paman Gibran terkejut tapi sepertinya tidak percaya karena didalam itu tidak tertulis aset milik paman Gibran.


"Aku kok merasa ada yang menganjal ya dengan semua berkas ini kok tanggal dan bulannnya dibuat bulan ini sih sedangkan mas Evan sudah berapa bulan meninggal, kalau pihak bank menyitah semua ini terus Dea dan Dinda dapat apa tidak mungkin kedua anakku mereka tidak dapat apa-apa, kalau Dinda dia sudah bahagia dengan keluarga besarnya dia sudah memiliki segalanya kalau Dea.


Aku sih masih punya beberapa aset jadi bisa aku bagi tapi aku tidak percaya mas Evan bisa lakukan ini pasti ada permainan ini, tapi biarlah aku ikuti permainan mereka saja biar Anjani tahu rasa,,nanti aku ketemu dengan mereka diam-diam kalau memang sebagian aset bisa aku selamatkan untuk Dea tidak masalah." Gumam paman Gibran dalam hati.


"Apapun ceritanya saya tidak akan membiarkan kalian mengambil hak ku, ingat bukan saya yang berhutang di bank jadi jangan nangi sama saya tapi kalau kalian mau nangi sama orang yang sudah membuat perjanjiam dengan kalian, sana gali makamnya biar minta pertanggung jawaban darinya jangan ambil harta saya karena ini adalah harta saya jadi jangan harap saya akan berikan kepada kalian, sudah mati juga masih ngusain aja" ujar Bu Anjani.


Bukkkkk...!


Kali ini paman Gibran tidak menampar tapi justru menendang perut bu Anjani, sampai hampir jatuh kalau bu Anjani tidak memengan meja sudah jatuh.

__ADS_1


"He..wanita miskin tua bangka bicara itu sadar diri, kamu bilang apa tadi harta kamu? Coba kamu ngaca saat kamu menikah dengan mas Evan kamu bawah apa datang kerumah ini, kalau kamu lupa biar aku ingatkan kamu sekali lagi kalau kamu datang dan masuk kerumah ini penuh dengan muslihat kamu menipuh semua orang jadi hanya satu-satunya kamu bawah adalah anak haram ini.


Tidak ada selain dia yang kamu bawah masuk ke keluarga ini dan satu lagi ini harta peninggalan orang tua saya jadi kalau saya jahat saya mengungat kamu di pengadilan soal harta ini, karena kamu juga sudah memalsukan surat wasiat dari mas Evan kamu tidak takut kalau kamu diseret ke penjara karena penipuan yang kamu lakukan.


Enak sekali kamu bicara bilang mas Evan sudah meninggal tapi masih ngusain he...****** jaga ucapan kamu, bukankah selama ini kamu yang habiskan uang untuk bayar brondong agar memuaskan hasrat kamu di ranjang, kamu tidak amnesiakan video kamu sampai sekarang masih viral dimana-mana. Memang muka kamu sangat tebal ya bukan hanya tebal kulit dan putus urat tapi juga tebal foundation. Sekali lagi aku dengar kamu bicara begitu aku akan mengeluarkan lidah panjang kamu itu dari dalam biar tahu rasa bikin kesal saja." Ujar paman Gibran.


"Pak...apakah tidak sebaiknya tidak perlu kasih waktu sampai berhari-hari keenakan dong, hari ini saja kami keluar dari sini karena sama saja pak di berikan waktu juga mana bisa kami bayar hutang sebesar itu, tidak ada uang kami pak jadi lebih baik langsung tutup saja rumah ini" ujar Dea makin bikin panas.


"Dea...diam kamu anak kurang ajar siapa yang menyuruh kamu bicara, lagian kamu kok sok banget kalau kamu di usir dari sini kamu tidur dimana juga jadi jangan balagu."


"Hahaha...bu..jangan pikirkan kehidupan Dea dan mas Tahir tidur dimana, karena kami nemiliki tempat tinggal yang lebih nyaman dari ini jadi dari pada ibu mengurus yang tidak jelas dan marah-marah membuat tensi ibu naik, lebih baik ibu memikirkan nasib ibu dan anak kesayang ibu itu setelah diusir dari sini kalian tinggal di mana."


"Baiklah kalau begitu kami parmisi Tuan , nyonya kami berikan waktu tiga hari kalau tidak melunasi hutang di bank berarti dari pihak bank langsung menyegel rumah ini."

__ADS_1


Setelah bicara demikian keempat pria itu keluar dari kediaman Winata dan gegas pergi. Sekarang tinggal semua kelurga didalam rumah lagi bersitengang. Belum ada yang berani membuka suara karena masih pada emosi kenedy yang dari tadi diam saja sekarang angkat bicara entah apa yang mau dia bicarakan tapi yang jelas dia mempertanyakan mereka akan tinggal dimana nanti.


Heran juga masa selama ini Kenedy tidak punya tabungan sama sekali harus numpang di rumah orang tuannya.


__ADS_2