
Memang tidak ada takutnya perempuan ini padahal masih di tangan Dinda, tapi dia tidak takut sama sekali aku yang berpikir jangan sampai Dinda hajar dia berulang kali. dan benar saja belum selesai aku berucap dalam hati Dinda sudah menamparnya, aku sangat terkejut melihat Dinda menampar bu Anjani begitu juga dengan pak Erik dan asisten Arfan. Aku pikir Dinda sengan jadi tidak akan melakukan itu tapi ternyata aku salah.
Plankkk...!
" Sebenarnya aku masih menghargai anda nyonya, karena nyonya itu sudah tua jadi aku tidak ada niat untuk menampar nyonya walaupun nyonya adalah perempuan yang sangat licik dan jahat. Tapi aku masih mau memberikan kesempatan untuk nyonya tapi justru nyonya tidak mengindahkannya dan punya muka sama sekali.
He aku beritahu nyonya kalau sifat nyonya seperti ini terus dan tidak berubah pada saat nyonya mati mayat nyonya tidak ada yang mau mandikan jadi mungkin di buang ke bina**ng untuk dimakan, karena selain sifat nyonya tamak nyonya juga tidak pantas di sebut sebagai seorang ibu."
" Seharusnya nyonya itu ngaca dan introfeksi diri kenapa menantu kesayangan anda itu bisa kalah karena memang itu sudah karma, bukan karma untuk menantu nyonya saja tapi karma juga untuk orang tua seperti nyonya, memang nyonya adalah manusia yang memiliki kulit muka setebal apa sehingga baru kemarin loh video goyangan nyonya itu viral bahkan sampai sekarang juga masih panas-panasnya.
Menikmati dengan brondong video viral dimana-mana bilang aku yang menghancurkan karir memangnya kalau mereka jadi gembel aku rugi, tidak? Justru aku senang karena karma itu instan semoga anak dan menantu kesayangan anda itu bertobat m, dan jangan berharap suami ku bisa membantumu karena sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan suamiku membatu manusia tamak seperti anda paham itu."
"Kurang ajar kamu Dinda brakkkk" betapa terkejutnya aku melihat bu anjani membanting vas bunga cantik yang ada di atas meja, dia tidak tahu vas bunga itu harga berapa dan guci kecil itu harganya berapa.
"Hey....jangan membuat kekacauan di ruangan saya berani sekali anda membuat kekacauan di ruangan saya" bentak ku. Aku baru mau maju Dinda sudah duluan maju dengan memilih satu pecahan vas bunga yang sangat tanjam, aku membulatkan mata ini dengan sempurna mau apa istriku ini. Ya Tuhan jangan sampai dia membunuhnya mau bagaimana pun itu ibu kandungnya
__ADS_1
Dinda melangkah pelan mendekati bu Anjani seketika bu Anjani beringsut mundur kebelakang karna takut. Bu Anjani menempel badan di tembok karena Dinda makin mendekatinya.
"M....mau apa kamu ha...Dinda...jangan macam-macam kamu, aku ini ibu kandung mu kalau kamu membunuh aku kamu berdosa" bentak bu Anjani terbata-bata
Plak...!
"Kamu takut aku membunuhmu?, tapi kamu tidak takut kamu membunuh ayah, kamu juga tidak takut merencanakan pembunuhan terhadap aku dan kakak Dea yang kamu bilang anak kandung dimana hati nurani mu perempuan iblis dimana?...... mungkin ini saatnya aku mengakhiri semua polimik ini dengan anda nyonya Winata,!!! karena aku muak setiap kali bertemu denganmu banyak sekali draman yang kamu lakukan."
Dari tadi Dinda memanggilnya dengan sebutan nyonya tapi sekarang justru di panggil dengan sebutan kamu, begini kalau istriku sudah marah.
Kamu menyiksa aku dengan tangan kamu sendiri tangan yang dulu perna kamu mengunakan itu untuk mengendongku, tapi ternyata tangan itu juga yang membuat bekas luka di tubuh ini tidak hilang" mengalir air mataku mendengar semua perkataan Dinda dia benar-benar meluapkan emosinya yang selama ini dia pendam didalam hati sampai badannya gemetaran.
Kamu tahu ibu...betapa aku merindukan kasih sayang seorang, aku juga ingin bu seperti anak pada umumnya disayangi oleh seorang ibu dengan penuh perhatian dan kasih sayang punya waktu untuk sekedar bercengkrama dengan anaknya. Tapi ibu tahu aku Dinda Andinita tidak mendapatkan kasih sayang itu. Ibu dari waktu sekaloh sampai kuliah pernah kah kamu datang sekali saja ke sekolahku untuk mengenal siapa guru ku. Dan siapa temanku kamu selalu mengatakan tidak sudih mengantarku dan tidak punya waktu.
Biarpun ayah sibuk tapi ayah selalu menempatkan waktu luang untuk datang mengantar dan kadang menjemput, aku kandang minder dan sedih campur sakit hati karena selalu di tanyain siapa ibuku dan dimana dia kenapa tidak sekalipun dia datang untuk sekedar menjemput bahkan aku di katain tidak punya ibu."
__ADS_1
"Tapi kamu tahu bu, aku tidak perna menyimpan dendam sama sekali sama kamu biarpun aku merasakan sakit karena selalu di hina, aku iri dengan teman-teman karena setiap ada kegiatan mereka selalu di hadiri oleh orang tua lengkap tapi aku tidak merasakan hal itu. Sekarang aku sudah tumbuh dewasa aku pikir aku akan mendapatkan itu tapi ternyata tidak sama sekali, dulunya aku tidak merasa benci dan dendam sekarang semua itu berubah dari kasih sayang berubah menjadi aku sangat membenci kamu dan aku sangat dendam sama kamu.
Dengar ibu hari ini aku memanggil kamu dengan sebutan ibu tapi hatiku bukanya bahagia namun justru sakit, hanya sakit yang aku rasakan saat ini, ibu yang aku pikir dialah yang menjadi sandaran dan menjadi tempat keluh kesah ku pada saat aku terjatuh, ternyata aku salah dia juga yang menorekan luka yang dalam dihatiku. Ibu aku sudah meninggal jadi sekarang anda keluar dari sini atau aku membunuh mu."
Bu Anjani tercengan mendengar penuturan. Dan langsung natap Dinda tidak ada kesedihan sedikitpun aku lihat di wajah bu Anjani memang ibu tidak punya hati.
" Baiklah kalau memang kamu mengiginkan kasih sayang dari aku dan kamu ingin aku menganggap kamu anak, aku bisa melakukan itu tapi ada syaratnya yang harus kamu lakukan adalah kamu harus nurut apa kata ku, dan bujuk suami kamu agar dia mau membayar hutang yang ada di bank, kalau kamu melakukan semua itu aku akan penuhi permintaan kamu aku jadikan kamu putry kesayanganku."
"Hey nyonya anda tidak punya hati nurani sama sekali ya, memang sih anda tidak pantas menjadi ibu nona muda lagian sekarang nona muda juga sudah bahagia." Ujar pak Erik karena geram dengan bu Anjani.
"Diam...jangan ikut campur urusan ku." Bentak bu Anjani.
"Dan kamu putry kesayangan ibu bagaimana setujuh tidak kalau kamu tidak setujuh jangan harap kamu mendapatkan semua itu."
Dinda yang awalnya sedih kita dia menghapus air matanya dengan kasar dan tersenyum mengerikan kepada bu Anjani setelah itu dia justru tertawa. Membuat bulu kuduk ku berdiri. Dalam hitungan menit mood Dinda berubah luar biasa
__ADS_1
"Hahaha....pade banget ya nyonya Winata, dengarkan aku baik-baik ya, yang aku bicarakan tadi aku hanya ingin kamu tahu saja sebelum malaikat maut menjemputmu , biar anda tahu seperti apa dulu seorang anak mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari ibunya, tapi itu dulu! Kalau sekarang aku tidak butuh kasih sayang murahan itu lagi karena aku sudah mendapatkan semuanya, jadi nyonya Winata jangan bermimpi keinginan anda akan aku kabulkan karena sampai kapanpun aku tidak akan lakukan itu.!