
Aku menuntun Dinda masuk kedalam mobil, setelah kami berdua sudah masuk kedalam mobil asisten Arfan mulai menjalankan mobilnya, dan kami keluar dari gerbang dan masuk kejalan raya, mobil kami membela jalan raya berlombah dengan pengendarah lainnya untuk juga menuju ke tempat tujuan masing-masing, saat kami dalam perjalanan....Tiba-tiba hp Dinda berdering.
Drrrtttt...drrrrrtttt!
"Saat Dinda melihatnya ternyata telpon dari nomor asing, awalnya aku ragu menyuruh Dinda mengangkatnya tapi setelah mati tidak lama kemudian panggil masuk dari nomor yang sama, sepertinya ada hal penting pikirku sehingga aku inisiatif untuk mengangkat telponnya. Karena aku juga penasaran siapa sih yang telpon sampi dua kali mungkin ada sesuatu yang terdesak.
"Hallo siapa ini" ternyata suara perempuan yang telpon bahkan sangat lembut suaranya tapi sepertinya suara itu sangat tidak asing.
"Hallo Tuan muda Dava, apakah ada nona Dinda? Ini saya Sabrina maaf saya pakek nomor baru karena sekarang saya ada di tanah air" ujar Sabrina ternyata yang telpon adalah Sabrina kirain siapa lagi. Karena Dinda sudah menyimpan nomor Sabrina jadi aku pikir siapa.
"Hallo Sabrina, iya Istri saya ada disamping mau bicara dengannya"? Tanyaku
"Iya, kalau diinjikan ada yang mau saya bicarakan hehe" ujar Sabrina sambil terkekeh.
"Sayang ini Sabrina bicaralah dengannya katanya Sabrina ada disini siapa tahu mau minta ketemuan"
Aku kembalikan hp kepada Dinda dan lanjut bicara dengan temannya Sabrina.
"Hay bestie apakabar udah dimana sekarang apakah ada di tanah air"? Tanya Dinda.
"Ya betul sekali saya dan suami ada di tanah air, kata suami ingin bertemu dengan Dava suami kamu bestie, untuk membicarakan bisnis kamu lagi dimana Din kita ketemu yuk kamu bisanya kapan.?" ujar Sabrina.
__ADS_1
"Wah..Mantap itu aku suka kalau hari ini sepertinya belum bisa Sab, karena aku lagi dalam perjalan ada urusan sebentar soalnya takutnya tidak terkejar bagaimana kalau besok jam empat sore saja kita ketemuan di restoran"
"Baiklah kalau begitu, besok juga aku tidak punya kegiatan hanya saja suami ada urusan bisnis mungkin jam tiga sudah pulang biar kita langsung ketemuan. Oh ya, Din. Tasya udah hubungi kamu belum soal aku sudah dapat lacak dia jadi dia minta nomor hp kamu katanya dia mau telpon kamu ucapkan selamat."
"Syukurlah kalau sudah ada kabar dari Tasya aku bahagia mendengarnya, itu artinya cepat atau lambat hubungan kita akan membaik kembali, dia belum telpon sih tapi aku yakin pasti dia akan telpon mungkin saat ini dia masih sibuk Sab," ujar Dinda.
"Semoga ya Din, soalnya Tasya katanya memang sangat sibuk selalu ikut kemana suaminya pergi biasalah seorang pembisnis ini pusing kalau kita tidak mengikuti kemana suami kita pergi bisa-bisa wanita pengodah datang mendekati mereka, kita juga harus menjaga."
"Iya betul sekali Sab ya sudah sampai ketemu besok ya". Ujar Dinda mengakhiri panggilan dengan Sabrina.
Akhirnya Dinda dan Sabrina mengakhiri panggilan mereka. Dinda menatap aku sehingga membuat ku susa menelan salivaku.
"Hehehe mas yang kenapa, memang salah Dinda menatap mas? Dinda mau kasih tahu mas kalau kata Sabrina besok minta ketemuan jadi Dinda menyuruhnya datang ke restoran saja besok jam empat sore sama suaminya, karena suaminya mau bicara dengan mas soal bisnis kenapa mas takut begitu". Ujar Dinda membuat aku terkekeh kirain tadi Sabrina bicara apa dengannya sehingga dia mau marah, ternyata hanya perasaan aku aja.
"Oh baik sayang nanti besok kita ketemu saja di restoran kita, jangan ketemuan di luar saat ini kondisi tidak memungkinkan."
Dari tadi aku selalu jailin Dinda sampai tidak menyadari kalau kami sudah sampai di pengadilan, untung asisten Arfan beritahu.
"Tuan muda, kita sudah sampai" ujar asisten Arfan langsung turun dan membuka pintu untuk aku dan Dinda.
Saat kami turun aku sudah melihat ayah mertua dan tante Riska berdiri di depan gedung sambil ngobrol, Rafa tidak ikut sepertinya lagi sibuk banget.
__ADS_1
Dinda langsung memeluk tante Riska begitu juga tante Riska memeluk Dinda.
"Sayang bagainana kondisi kamu sehat kan?" tanya tante Riska penuh perhatian. Sedangkan aku langsung mencium punggung tangan ayah mertua, ternyata kakak Dea dan mas Tahir belum datang, mungkin sebentar lagi ini juga masih setegah sembilan kurang kami datang lebih awal.
Ruang sidang juga masih tertutup belum datang petugasnya jadi kami berdiri di luar saja menunggu kedatangan mereka dan kedua terdakwa , Dinda dan tante Riska sangat akrab bukan hanya sama Dinda saja tapi sama kakak Dea juga bahkan Rafa juga sudah mulai akrab dengan Dinda dan kakak Dea, semoga jika memang ayah mertua jadi nikah dengan tante Riskan rumah tanggah mereka harmonis jangan sampai hal yang tidak di inginkan terjadi lagi.
"Ayah maaf, tapi ayah Adinata tidak bisa hadir karena ada keperluan lain, oh ya, tante Riska bukannya tante ikur arisan juga? tadi ibu di antar oleh ayah pergi karena sebenarnya Dinda yang ikut hanya saja karena Dinda ikut kesini jadi ibu yang menghadirinya"
"Iya Dav, tante tahu tapi tante tidak bisa jadi tante hanya mengirim uang arisan tante." ujar Tante Riska.
Kami asyik berdiri diluar tidak lama sebuah mobil masuk ke parkiran pengadilan, aku sangat mengenal mobil itu kalau bukan mobil mas Tahir terus siapa lagi, mas Tahir dan kakak Dea baru masuk parkira setelah mobil terparkir dengan sempurna akhirnya mereka keluar dari dalam mobil dan kakak Dea gegas mendekati kami.
Kami saling menyapa satu sama lain, ternyata aku baru tahu kalau pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu, tahu seperti ini aku tidak cepat-cepat datang kemari, jangankan pintu di buka terdakwa saja belum datang terus apa yang mau di lakukan kalau kedua pelaku saja belum muncil.
Tiba-tiba sebuah mobil memasuki parkir pengadilan dan aku ya kini orang dari kantor polisi, ya ini mobil kantor polisi, setelah mobil berhenti dengan sempurna turunlah dua orang petugas dari dalam dan di ikuti seorang perempuan, dengan wajahnya yang masih penih luka pastinya karena dia pakek cadas mendadak jadi ustadza menatap tajam ke arah kami, terutamah ayah dan tante Siska yang dari tadi gengaman tangannya tidak lepas dari ayah mertua.
Melihat itu bu Anjani tersulut emosi dan mendekati tante Riska dan hendak melayangkan satu tamparan untuk tante Riska, namun tante Riska menyadari jadi sengan sigap tante Riskan menepis tangan bu Anjani dengan kasar. Hal itu membuat bu Anjani meringis kesakitan.
"Argh...."
"Oh, hebat kamu ya mas jadi ini alasannya kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini karena kamu ada Simpanan wanita ja**ng ini? pantas aja kamu pergi menghilang dan merekayasa kematian kamu karena kamu lakukan demi perempuan mu**han ini, kamu sangat hebat ya mas sangat lihat saja nanti aku akan mempersulit di persidangan karena kamu sudah berselingku.
__ADS_1