Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
235


__ADS_3

Pov Anjani.


Semenjak Ogen mengalami musiba penembakan kami tidak perna ketemu, aku sudah ketakutan jika terjadi sesuatu pada Ogen, aku perna datang ke rumah sakit tapi justru aku di usir dengan secara tidak hormat dan bahkan ada seorang gadis mengatai aku perempuan tidak benar dan tua bangka.


Karena aku tidak terimah akhirnya aku melawan dan berantem dengan anak gadis itu, semenjak itu aku tidak perna datang ke rumah sakit sampai akhirnya aku dengar Ogen keluar dari rumah sakit. Aku rencana hari ini setelah pulang dari kantor kami ketemuan di luar, sebenarnya aku pengen bercinta dengan Ogen tapi katanya perut yang kenah tembakan itu masih sakit, jadi aku juga kasihan jujur hari ini aku benar-benar menahan emosiku saat pergi ke perusahaan Adinata kalau bukan karena aku ingin mengambil hati kedua anak kurang ajar itu sudah aku tanpar bolak balik mereka berdua.


Dinda sama sekali tidak tahu balas budi, memang aku tidak perna merawatnya dan tidak perna perhatikan dia waktu dia masih di rumah setidaknya ingat kalau aku ibu kandungnya masih hidup.


Sorenya aku sudah janjian ketemu dengan Ogen di restoran terdekat, kami rencana mau makan dan setelah itu baru membahas hal yang penting. Singkat cerita akhirnya kami berdua ketemu dan masuk kedalam restoran biasalah namanya juga sudah lama tidak ketemu, apalagi Ogen kan sayang banget sama aku jadi manjanya itu tidak mau lepas dari diriku ini. Saat kami berdua masuk sudah banyak pengunjung tapi aku orangnya paling tidak suka peehatikan samping kiri kanan kami langsung duduk dan sambil menunggu makan datang.


"Sayang mas pengen secepatnya kita menikah ya, kalau tidak mas nikah dengan orang lain" jelas aku terkejut dong kenapa mas Ogen tiba-tiba bicara begitu mau menikah sebelum mendapatkan semua harta mantan suamiku untuk apa. Sedangkan pengacara masih simpan


Surat wasiat Asli masih di tangan pengacara Dendy dan nama semua aset.


"Mas kenapa buru-buru sih tunggu saja dulu semua harta sudah ada di tangan baru kira menikah."

__ADS_1


Kurang ajar Ogen justru mengancamku kalau aku tidak secepatnya bertindak dia menikah dengan orang lain.


"Sayang bagaimana kalau semua uang yang masih sisa dengan semua sertifikat yang ada biar mas yang simpan di rumah saja, takutnya nanti anak-anak kamu sayang justru mereka datang dan mengambil semua walaupun didalam brangkas."


Aku pikir-pikir ada benarnya juga kenapa aku tidak berikan semua barang-barang itu ke Ogen saja untuk menyimpanya, toh juga nanti kami berdua juga yang pakek setelah menikah . Aku langsung menyetujuinya dan aku lihat Ogen senang banget tapi aku nangkap ada gelagat yang tidak biasa dari ogen tapi aku tidak peduli aku tahu dia sangat mencintaiku.


"Baiklah mas nanti besok aku antarkan semua kerumah ya malam ini aku pulang biar aku cek semua dulu, tapi awas ya mas jangan mempergunakan uang itu dengan sembarangan aku sudah mempercayakan semua sama kamu jangan memgecewakan aku mas jangan membuat kepeecayaanku hilang terhadap mas."


"Iya sayang tenang saja aku akan menjaga semuanya kok, dan aku akan cari notaris untuk mengubah semua nama sertifikatitu."


Kami berdua juga merencanakan untuk melenyapkan kedua anak itu agar aku bisa bebas menguasai semua harta mas Evan. Karena kalau tidak, mereka bisa menjadi ancaman untukku.


Setelah selesai kami makan dan hendak pergi betapa terkejutnya kami berdua saat melihat Dea dan Tahir terus Dinda dan Dava berdiri di belakang aku, sejak kapan mereka disini ya Tuhan mampus aku kalau sampai mereka mendengar apa yang aku dan Ogen rencanakan aku tidak mau masuk penjara, aku mundur kebelakang sangking terkejutnya.


"Dea, Dinda......? Sejak kapan kalian disini kok ibu tidak melihat kalian tadi" tanyaku senyum aku sengaja menetralkan pikiranku dan menenangkan diriku dari keterkejutan agar mereka tidak tahu kalau saat ini aku ketakutan jantung ini sudah mau copot dari tempatnya.

__ADS_1


Sedangkan Ogen yang berdiri disampingku juga tengang, aku melihat wajah mereka biasa saja berarti mereka tidak mendengar apa yang kami rencanakan tadi syukurlah. Tapi wajah mereka tanpa ekspresi setelah berapa lama mereka diam barulah Dea mulai buka percakapan, tapi yang membuat aku terkejut dengan perkataan Dea ada sedikit sakit hati tapi karena ada Dava dan Dinda jadi aku harus jawab baik-baik padahal dalam hati pengen aku cekik sih Dea.


" Ya bagaimana ibu bisa melihat kami sejak kapan disini? Ibu sibuk mesra dengan brondong di muka umum sudah tidak punya malu ya bu, dan Ini brondong kamu ya bu, yang bisa memberikan kehangatan dan memuaskan hasrat ibu di ranjang setelah ayah tidak ada brondong pun jadi, Dea saja malu mengakui ibu sebagai ibu Dea, soalnya sifat seorang ibu bukan seperti kamu ibu yang terlihat kegatalan, dulu waktu ayah masih hidup kehidupan ibu terjamin dan wibawa ibu juga masih terlihat tapi setelah ayah tidak ada ibu sudah tidak memiliki harga diri dan wibawah lagi.


Dulu ibu selalu bilang harga diri dan kekayaan itu nomor satu sejalan dan keluarga nomor kedua, tapi disini justru Dea lihat berbedah ibu selain tidak memiliki harta ternyata harga diri ibu juga tidak ada, atau bagaimana dik Dinda menerut adik gimana" tanya Dea pada Dinda justru Dinda natap aku seperti jijik dan justru tertawa ngejek.


"Hahaha itu bukan urusan Dinda kakak, lagian dia bukan ibu Dinda jadi dia mau jungkir balik juga Dinda tidak peduli. Lagian ayah juga sudah tidak ada jadi orangnya bebas hanya saja Dinda takut kalau sewaktu-waktu ayah yang mereka berdua pikir sudah meninggal hidup lagi dan menghantui mereka berdua. Ingat karma itu ada silahkan lanjutkan kemesraan kalian karena aku tidak ada urusan sana kalian. Bahkan sekedar menatap kalian saja aku jadi mual.


Lagian kakak Dea ngapain juga sibuk ueus manusia tidak berguna ini biarkan saja, namanya juga janda gatel tidak di sentuh oleh pria jadi sekali tersentuh ya gitu. Yok mas pulang kita ngapain kita disini tidak penting juga"


"Nak Dinda jangan salah paham sama ibu ini teman ibu kok bukan siapa-siapa, kalian mau gabung tidak biar kita sekalian ngobrol sudah lama juga tidak ngobrol tadi di kantor juga keburu pergi jadi tidak bisa lanjut ngobrol tadi."


"Oalah mau ngobrol apalagi tidak perlu sok baik seperti itu bu, semua juga sudah tahu sifat jelek ibu jadi sudah tidak perlu bersandiwara seoalah ibu adalah ibu kandung yang laling terbaik di muka bumi ini, padahal ibu adalah ibu yang paling buruk yang Dinda kenal sekarang Dinda sudah bahagia dengan keluarga baru Dinda jadi tolong jangan menganggu Dinda lagi pergi jauhlah dari kehidupan Dinda."


Kedua anak ini membuat hatiku sakit sekali menghadapi mereka berdua tapi mau bagaimana lagi aku harus bersandiwara agar apa yang aku inginkan semuanya bisa aku dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2