
Setelah semua barang itu di keluarkan, ayah mertua memeriksan kembali apakah barang yang dibawah oleh kakak Dea ada yang kurang namun kata ayah mertua semua sudah lengkap karena yang sisa itu bukan hilang tapi ayah mertua sudah mengambinya.
Memang maaih ada beberapa sertifikat lagi tapi itu atas nama paman Gibral jadi ayah mertua yakin kalaj paman Gibran sudah mengambil sertifikat itu diam-diam, mendengar itu kakak Dea merasa lega sebenarnya aku sudah tahu tapi aku diam saja apalagi kakak Dea dengan Dinda belum mengetahui soal ayah tapi sekarang semua sudah jelas identitas aku juga sudah diketahui oleh kakak Dea dan ayah juga sudah ketemu saat ini aku merasa lega.
Setelah selesai ayah mertua memeriksa semuanya ayah mertua menatap Dinda dan kakak Dea sembari berkata Lirih." Nak semua harta bendah ini ayah bagi dua untuk kalian berdua karena memang kalian yang berhak mendapatkan ini semua. Ayah sudah tua dan ayah juga sudah tidak ada keinginan lagi untuk menikah...namun jika Tuhan berkenan untuk berikan ayah pasangan lagi ayah harus memikirkan semuanya."
"Semua aset ini ayah akan membantu kalian berdua untuk menganti nama jadi ayah putuskan rumah dan perusahaan untuk adik kamu nak apakah kamu keberatan?" tanya ayah mertua kepada kakak Dea.
" Kalau soal itu Dea tidak keberatan sedikitpun ayah karena apa bedahnya aku dengan adik kami berdua satu jadi itu adalah keputusan yang tepat, tapi apakah ayah tidak tahu kalau saat ini perusahaan dalam masalah besar"?
"Hahaha kamu lupa ya nak siapa suami adik kamu dia yang akan mengurus semuanya ayah mertua adik kamu sudah menghubungi ayah, jadi ayah sudah sepakat untuk perusahaan sengaja di akuisisi oleh perusahaan Dava nanti baru dikembalikan ke ayah dan biar kamu tahu nak hilangnya uang lima ratus miliyar itu ayah yang melakukan itu jadi uang itu ada di tabungan adik kamu"
Dinda yang mendengar langsung menatap aku dengan tajam...astaga ayah menjatuhkan aku kedalam lubang singa bisa-bisanya ayah bicara begitu.
" Humm kenapa mas tidak beritahu Dinda soal uang sebayak itu didalam atm aku mas. Pantas saja mas sengaja menyuruh aku memakai atm mas sedangkan atm aku mas tahan ternyata mas sengaja biar aku tidak tahu ada uang di atm" Tanya Dinda membuat aku mengaruk kepala yang tidak gatal.
"Maaf sayang rencana mas mau beritahu kamu tapi mas lupa. Lagian mas binggung mau jelaskan dari mana karena kamu itu sudah cantik kelewatan pintar jadi mas gak mau kamu bertanya dan menyelidiki dari mana uang sebanyak itu"
" Tapi tidak apa-apa juga sih biar perempuan itu kapok nanto setelah perusahaan di akuisisi baru masukan kembalu dana itu ke perusahaan, oh ya, ayah. Maaf jika Dinda lancang tapi memang ini harus Dinda tanyakan apakah ayah masih memiliki rasa cinta dengan perempuan itu"?
"Hahaha....tidak ada lagi cinta di hati ayah untuk perempuan ular itu nak yang ada hanya kejijikan dan kebencian"
"Kalau begitu ayah silahkan urus surat cerai biar saat ayah memperlihatkan diri ayah sudah langsung serahkan surat cerainya"
"Pintar sekalih anak ayah, tapi kamu tidak perlu kuatir soal itu nak semua sudah beres"
__ADS_1
"Baiklah ayah"ujar Dinda
"Heheh aku lupa kalau adik iparku bukan orang biasa, baiklah ayah jadi sekarang apa rencana ayah untuk membalaskan perbuatan perempuan itu..kalau ayah tidak mau biar aku saja yang lakukan"
Ayah tersenyum mendengar perganyaan kakak Dea.
"Nak kamu tidak perlu cape-cape balas semua perbuatannya kalian berdua urus suami kalian saja dan hidup bahagia biar ayah saja yang melakukan itu kalian hanya menikmati...ayah sudah tahu semua kebusukan ibu kalian tapi ayah harap kalian berdua jangan membencinya karena mau bagaimanapun dia ibu kalian jadi jangan sampai tangan kalian berdua menjamanya."
Memang ayah mertua sangat baik biarpun bu Anjani sudah berlaku jahat terhadapnya tapi masih juga baik, ayah tidak mau kedua putrynya terlibat dalam masalah ini, jadi ayah ingatkat mereka berdua agar urus kehidupan rumah tanggah saja.
"Kalau ayah tahu dari awal kenapa ayah tidak bertindak, justru membiarkan perempuan itu bebas melakukan apa yang dia mau" tanya kakak Dea
"Kalian tahu siapa yang membuat dia masuk rumah sakit, itu ayah yang melakukannya tapi ayah masih mau main-main dengan perempuan itu dan selingkuhannya tunggu saja berita selanjutnya apa yang akan ayah lakukan, sekarang ayah minta sama kalian berdua jaga rahasia ini jangan sampai ada yang tahu ayah masih hidup ada waktunya ayah akan muncul. Dan soal kamu bilang kenapa ayah sudah tahu tapi ayah diam saja, memang ayah sengaja membuat rencana mereka berhasil biar mereka bahagia dulu baru dapat balasan."
Saya juga sampaikan kepada kak Dea kalau saya dan Dinda akan melakukan resepsi jadi mereka harus datang.
Setelah selesai semua akhirnya kami bertiga pamit pulang tinggalkan ayah mertua, Dinda dan kakak Dea berjanji akan sering datang mengunjungi ayah mertua.
"Ayah Dea pulang ya, nanti Dea sering datang kesini lihat ayah yang penting ayah jaga kesehatan ya jangan sampai sakit kalau ayah butuh apa-apa ayah hubungi Dea saja nanti Dea datang antar"
"Oh ya nak saat kamu kesini...kamu yakinkan tidak ada yang mengikuti kamu, takutnya pengawal perempuan itu curiga sama kamu jadi diam-diam mereka mengikuti kamu, kalau lain kali kamu mau kesini harus pastikan tidak ada yang tahu"
"Oh kalau soal itu ayah tenang saja tidak ada yang tahu mereka semua dirumah kecuwali perempuan itu keluar baru beberapa orang ikut dengannya, kalau kami yang keluar mana ada yang ikut gak ada ayah mana perna perempuan itu peduli sama kami, oh ya, Dea lupa memberitahu kalian soal mimpi Dea tadi malam"
" Memangnya kakak mimpi apa jadi penasaran ceritakan dong kakak" tanya Dinda.
__ADS_1
"Jadi aku mimpi aku dibawah oleh seseorang ke tengah hutan."
Kakak Dea kembali menceritakan mimpinya tadi malam hanya mendengar saja bulu kudukku berdiri...astaga hanya karena harta bu Anjani bisa melakukan hal jahat itu, tapi hanya mimpi sih semoga tidak kenyataan.
Tidak ada yang tersisah kakak Dea menceritakan semuanya ayah Dinda dan pak Reno masih setia mendengar cerita kakak dengan tenang tanpa komentar.
"jadi begitu cerita mimpiku ayah"
" Nak kamu dan Dinda harus hati-hati karena perempuan iblis itu sepertirnya dia sudah mulai merencanakan kejatan untuk mencelakai kalian berdua karena dia merasa kalian adalah penghalang terbesar untuk menguasai semua harta yang ada...apalagi kamu nak...kamu tinggal disana jadi jangan perna makanan apapun yang disediakan dirumah bisa jadi sudah dikasih racun."
Sepertinya kakak Dea ingat sesuatu sampai wajahnya beruba.
"Bisa jadi ayah tadi pagi Dea dipaksa makan dirumah tapi karena Dea tidak mau akhirnya Dea ditampar oleh perempuan iblis itu ayah, untung Dea dengan mas Tahir gak makan kalau gak bisa mati kami berdua."
"Makanya ayah ingatkan kamu ya nak jangan makan dirumah itu lagi karena sekarang ini dirumah itu tidak ada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya lagi, yang ada saat ini hanya benci dan dendam."
Kasihan kakak Dea pasti tertekan batin di rumah itu tapi kakak Dea juga belum mau keluar dari rumah itu.
"Oh ya nak, bagaimana kabar bibik dan paman kamu sehat merekan kan, mereka sekarang ada di rumah atau ada dimana?"
"Syukur ayah, bibik dan paman sehat mereka sekarang ada dirumah ayah gak tahu setelah aku keluar mereka juga pergi tapi saat aku keluar mereka masih dirumah belum bergerak kemana"
"Baguslah kalau mereka sehat, hati-hati kalau pulang kalian jangan ngebut-ngebut ya nak bawajh mobilnya."
"Iya ayah aku tidak suka ngebut kalau bawah mobil"
__ADS_1