Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
280


__ADS_3

Pov Author.


Sudah tiga hari semenjak Dava dan Dinda bertemu dengan bu Anjani dan Lexza, mereka tidak perna kedengar kabar lagi sama sekali dari keduanya, hari ini adalah hari terakhir waktu yang diberikan dari pihak bank untuk bu Anjani keluar dari rumah peningalan Tuan Winata.


Semenjak kejadian hari itu bu Anjani tidak bisa tidur tenang sampai uring-uringan memikirkan semua yang terjadi dalam kehidupannya, hari ini masih pagi-pagi bu Anjani bangun dari tidur panjangnya dan mondar -mandir didalam kamar sudah ketakutan karena sebentar lagi pasti dari pihak bank datang untuk menyitah semua asetnya. Bahkan yang membuat bu Anjani tidak bisa tidur nyenyak Ogen sama sekali tidak ada kabar bahkan karena penasaran bu Anjani sampai datang ke rumah Ogen tapi kata bibi sudah hampir satu minggu lebih bosnya itu tidak pulang kerumah.


Hal itu membuat bu Anjani terkejut karena dia takut terjadi apa-apa dengannya, padahal tujuan bu Anjani datang kesana selain kuatir dengan keadaan Ogen bu Anjani juga mau minta tolong sama ogen untuk menyerahkan sertifikat aset yang sudah perna bu Anjani beli, walaupun di sertifikat atas nama bu Anjani tapi Ogen yang menyimpan semua sertifikat itu di rumahnya, namun semuanya Nihil saat bu Anjani datang dan mendapati kabar kalau Ogen sudah lama tidak pulang.


"Aduh bagaimana ini kalau nanti benaran semua harta di ambil alih oleh bank, kamu kurang aja banget mas bisa-bisanya kamu memiliki hutang sebayak itu di bank kamu tidak perna cerita sama aku, kalau tahu akan ternjadi seperti ini aku tidak perlu membunuhmu dan aku bisa menikmati saja.


Semoga pihak bank tidak jadi datang apa yang harus aku lakukan jika benar aku di usir dari sini jangankan punya tempat tinggal uang untuk makan saja tinggal sedikit simpanan karena semua atmku di bekuk oleh pihak bank, oh ya, bodoh....bodoh kenapa aku tidak minta saja sama Lexza dia kan menyimpan uang bisnis yang lain pasti masih banyak simpanan ya nanti aku minta lebih baik aku minta lebih baik aku mandi saja deh...."


Bu Anjani segerah mandi dan bersiap sekitar setegah delapan bu Anjani turun ke kelantai bawah dan segerah sarapan, bu Anjani rencana selesai sarapan dulu baru meminta uang pada Lexza karena semenjak kejadian pemilihan itu hubungan bu Anjani dan Lexza kembali memburuk.


Setelah bu Anjani selesai sarapan seperti biasa bu Anjani duduk di ruang tengah sambil meneriaki Lexza, padahal bisa juga menyuruh seorang pelayan untuk memanggil Lexza tidak perlu berteriak seperti orang kesetanan.

__ADS_1


"Lexza...! Kenedy..! Turun kalian ini sudah jam berapa ibu mau bicara hal penting dengan kalian" teriak bu Anjani.


Lexza yang baru selesai mandi tuli dengan teriakan bu Anjani membuat Lexza dan Kenedy Kesal, bukan hanya itu Dea dan Tahir juga terkejut dengan teriakan bu Anjani dan jangan lupa bibi Lya dengan paman Gibran mereka kesal di kamar.


"Astaga sih kunti berteriak kayak orang kesetanan, heran deh sama manusia ini sudah kena karma juga tidak ada tobat-tobatnya, mas kalau seandainya rumah ini benaran disitu kita tinggal di rumah peninggalan ayah dan ibu saja dengan Dea dan Tahir kasian mereka berdua, kalau ketiga iblis itu jangan dibawah biarkan saja mereka jadi gembel." ujar bibi Lya.


"Iya sayang mas sudah memikirkan itu dari kemarin tapi mas belum percaya jika mas Evan punya hutang sebanyak itu, mas rasa ada permainan dengan semua ini tapi siapa ya, atau jangan-jangan Dinda sayang" tanya paman Gibran.


"Kalau memang benar seperti yang mas bilang bukankah itu bagus mas, jadi semua harta yang disita oleh Dinda bisa bagi dua dengan Dea. Kan memang harta peninggalan mas Evan sudah di wariskan ke Dinda dan Dea, punya mas kan sudah mas ambil jadi tidak ada hak mas lagi di harta itu, tapi kalau memang benar Dinda yang melakukan itu berarti Dinda pintar juga bisa mengelabui perempuan sundal ini" ujar bibi Lya


"Entahlah sayang kita lihat saja takutnya bukan Dinda yang menyita semua aset ini tapi memang benaran dari pihak bank, kalau itu benar kasian mereka tidak mendapat apa-apa. Makanya mas lagi memikirkan bagaimana caranya untuk mas mengambil kembali beberapa aset untuk mereka berdua." sambung paman Gibran


"Hmmm dasar nenek lampir masih pagi-pagi sudah bikin emosi, tidak ada hari tanpa emosi hidup satu rumah dengan manusia ini. Lebih bagus juga sih rumah ini sengaja disita oleh bank biar ketiga manusia ini keluar dari sini agar kita bisa hidup tenang karena kalau mereka tetap disini hidup kita tisal tenang." ujar Dea.


"Tenang sayang jangan emosi ibu mungkin lagi kerasukan setan dan uring-uringan karena hari ini dari pihak bank datang"

__ADS_1


"Lexza.....turun kamu sudah jam delapan nih kalian semua ngapain di kamar sih, sampai jam segini kalian tidak ada yang keluar dari dalam kamar atau kalia sudah pada meninggal semua."


Mereka semua kembali bersiap tidak ada satu pun yang mengubris teriakan bu Anjani bahkan Lexza sekali pun justru cuek.


"Enak aja muncung mu itu bilang kami semua sudah mati, jangan-jangan kamu yang akan mati makanya bicara begitu ngaur!" ujar bibi Lya keluar dari kamar, bu Anjani hanya menatap tajam ke arah bibi Lya tapi tidak membalas perkataan bibi Lya karena bu Anjani agak sedikit takut dengan bibi Lya.


Tepat pukul delapan tiga puluh sebuah mobil mewah masuk kedalam pekarangan rumah keluarga winata setelah pintu gerbang di buka oleh pengawal.


"Selamat pagi pak ada yang bisa saya bantu"? Tanya seorang pengawal.


"Pagi, kami dari pihak bank ingin bertemu dengan nyonya Winata apakah nyonya Winata ada didalam"? Tanya pak Sammy.


"Oh, ada Pak. Semua keluarga masih didalam belum ada yang pergi mungkin nyonya lagi menunggu kedatang bapak-bapak."


Pengawal itu langsung masuk kedalam rumah mendapati nyonya Winata yang sementara duduk, sedangkan bibi Lya setelah selesi marah kembali masuk kedalam kamar, karena malas melihat wajah bu Anjani yang menurut bibi Lya sangat nyembelin.

__ADS_1


"Maaf nyonya diluar ada tamu katanya dari pihak bank ingin bertemu dengan nyonya" bu Anjani langsung tengang mendengar dari pihak bank datang berarti mereka harus keluar dari rumah dengan tangan kosong tidak ada barang mewah tidak ada mobil untuk pakek kemana-mana.


Bu Anjani belum bicara apa-apa hanya saja bu Anjani menatap wajah pengawal itu dan tersenyum, membuat pengawal itu menunduk kepala tidak tahan melihat sentuman bu Anjani.


__ADS_2