Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
418


__ADS_3

Aku juga ikut ketidaran gara-gara istriku tidak respon sama sekali lagian aku juga tidak tega membangunkan Dinda, aku kangen sih tapi aku tidak mau dia terganggu oleh karena ula aku, tadi kata ibu Dinda pusing kepalanya jadi biar saja Dinda istirahat dulu. Takutnya kalau aku bangunkan makin sakit kepalanya.


Setelah aku sadar ternyata Dinda sudah bangun dan lagi duduk di sofa, mungkin lagi nungguin aku bagun kali. Tadinya hanya pengen baring-baring di samping istriku tahunya aku juga ketiduran.


"Sayang, kamu sudah bangun kenapa tidak? membangunkan mas, maaf ya mas sangat lelah jadi ketiduran, padahal tadi mas hanya ingin berbaring disanping kaku saja." ujarku.


"Dinda tidak tega bagunin mas, soalnya mas tidur pules banget kayak kecapean banget, maafin Dinda ya mas Dinda tidak menyambut kepulangan mas, soalnya Dinda ketiduran entah kenapa kepala Dinda pusing banget mas, sampai Dinda tidak sadar mas pulang". Ujar Dinda duduk di sampingku.


"Tidak masalah sayang, maaf ya tadi mas sengaja tidak ngabarin sayang kalau mas pulang hari ini, karena mas ingin membuat kejutan untuk sayang tahunya sayang tidur hehehe" ujarku.


"Iya tidak apa-apa mas, mas sudah makan belum biar Dinda siapin makan untuk mas pasti mas belum makan siang bukan? Karena Dinda tahu mas belum makan makanya Dinda sengaja tidak makan dulu untuk nungguin mas biar makan bersama. Soalnya Dinda rindu makan bareng mas. Tadi mas sudah lihat anak-anak belum? Sepertinya mereka juga rindu sama mas soalnya berapa malam ini mereka rewel makanya Dinda kurang istirahat kasian mereka berdua" ujar Dinda.


Ya ampun ternyata kedua anak ku juga rindu sama aku, pantas aja aku disana saja tidak betah karena mereka sangat merindukan papinya tapi kenapa Dinda tidak memberitahu aku.


"Sayang kenapa tidak memberitahu mas kalau Grey dan Gretta rewel? Pantas aja mas disana tapi pikiran disini terus sama kalian bertiga karena kalian juga merindukan mas" tanyaku.


" Maaf mas Dinda tidak mau mengangu mas, karena Dinda tahu mas lagi sibuk ngurus proyek dan masalah disana, takutnya pikiran mas kesini terus jadi berantakan nantinya. Makanya Dinda tidak memberitahu mas tapi sekarang mas sudah pulang kan jadi yuk kita makan dulu baru lihat kembar. Atau tidak usa mas turun ke bawah biar Dinda yang turun aja ke bawah untuk bawah makanan kesini." ujar Dinda.


"Kamu tidak perlu turun sayang biarkan pelayan saja yang antar makanan ke kamar, mas pengen makan di kamar bersama kamu sayang, oh ya, nanti malam siap-siap ya soalnya mas ingin mengajak kamu ke suatu tempat" ujarku.


"Kemana memangnya mas"? tanya Dinda.


"Nanti juga kamu tahu sayang."


Padahal aku sudah bilang tidak perlu turun kebawah untuk siapkan makanan, biar pelayan saja yang antar kesini tapi istriku tidak mau katanya ingin melayani suaminya dengan sepenuh hati jadi biar dia yang mengurus semuanya.


Dinda turun kebawah untuk mengambil makanan sedangkan aku bangkit dari duduk ku dan gegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajah sambil menunggu istriku.


Setelah aku keluar dari kamar mandi ternyata istriku bersama dua orang pelayan lagi menyiapkan makanan di atas meja. Selepas kedua pelayan itu keluar aku dan Dinda makan Dinda mengambilkan beberapa menu kedalam piringku, dan rencana kami berdua makan satu piring saja.


Aku menyuapi Dinda rasanya kangen banget sama dia, baru seminggu di tinggal tapi rasanya kayak satu tahun.

__ADS_1


"Sayang banyak makan ya, nanti setelah selesai makan bawah Grey dan Gretta kesini aja biar kita bisa bermain dengan mereka berdua, mas kangen sama mereka"


Sehabis makan kedua pelayan itu langsung membereskan meja dan mereka keluar dari kamar, sedangkan aku dan Dinda langsung gegas ke kamar si kembar tenyata mereka berdua sedangk asyik bermain dengan suster, kalau Grey anaknya agak sedikit senyum walaupun tidak banyak justru berbedah dengan Gretta agak dingin orangnya semoga saat dewasa nanti tidak memiliki sifat garang takutnya tidak ada pria yang mendekatinya hahaha.


"Hallo kedua anak papi, hummn papi sangat rindu sama kalian berdua" ujarku


Gretta langsung mengulurkan tangannya ke arah ku begitu juga Grey tapi tak bisa aku gendung dua-duanya sekali gus jadi harus satu-satu. Lama kami bermain akhirnya Grey dan Gretta puas bermain dan tidur, aku dan Dinda kembali ke kamar ternyata tidak terasa sudah jam tiga sebentar lagi sudah malam aku pengem membawah Dinda keluar sekali-kali dinner dengan istri tercinta, Dinda juga bosan jangan karena aku sibuk dengan pekerjaan sehingga lupa dengan kebahagiaan istri.


Aku mengambil hp dan menghubungi seseorang tanpa pengetahuan Dinda aku menyiapkan kejutan untuknya.


"Hallo...sudah siap semua belum"


"Hallo Tuan sudah semua seperti yang Tuan inginkan"


"Ok bagus pastikan semuanya aman jangan sampai ada kekurangan" ujarku.


"Semua lengkap Tuan percayalah"


"Telpon sama siapa mas, kayak sangat penting" tanya Dinda curiga.


"Biasa sayang telpon Arfan tanya soal pekerjaan." ujarku agak berbohong


Aku baru ingat dengan anak yang tadi di bandara, bagaimana dengan operasi ibunya apa langsung di tangani sama pihak rumah sakit atau tidak, aku nanti tanyakan sama sekretaris Dani aja, aku juga harus kembalikan perusahaan ibu dari anak itu sebenarnya itu bukan urusanku tapi aku kasian sama anak ini, mungkin dia ikut ibunya makanya putih dan cantik.


Aki juga inisiatif ceritakan semua kepada Dinda, aku mau minta pendapat istriku karena istriku kalau berikan pendapat selalu yang terbaik.


"Sayang, ada yang ingin mas ceritakan ke kamu, mas ingin meminta pendapat kamu soal masalah ini menurut sayang yang baiknya seperti apa"


"Mau cerita apa mas, cerita aja jika Dinda bisa berikan pendapat atau solusi Dinda akan bantu yang pentung itu bisa membantu apa yang mas perlukan."


" Jadi begini sayang waktu dibandara mas ketemu dengan seorang anak kisaran dua belas sampai tiga belas tahun." Aku mulai ceritakan semua permasalahanya kepada Dinda sehingga Dinda menyimak tapi belum memberikan komentar.

__ADS_1


Setelah aku selesai cerita barulah Dinda mulai menangapi semua yang aku ceritakkan.


"Jadi begitu ceritanya sayang bagaimana menurutmu"?tanyaku.


"Kalau menurut Dinda kalau memang benar seperti yang anak itu ceritakan kasian juga mas, dan Dinda setujuh kalau perusahsan itu di rampas kembali dan kembalikan je istri sahnya, apalag perusahan itu punya istri sah bukan punya suaminya" ujar Dinda.


Berarti aku sudah dapat solusi yang baik dari Dinda dan Dinda juga tidak keberatan jika aku membantu anak dan ibunya itu. Tidak terasa sudah sore jam lima aku menyuruh Dinda mandi, karena jam enam rencana kami mau keluar.


"Sayang, sudah jam lima nih mandi lah biar bersiap mas akan ajak sayang ke suatu tempat, mandi yang bersih ya sayang hehehe" ujarku memang kalau orang mandi yang ingin bersih tidak mungkin mereka mau kotor.


"Mas memangnya mau kemana, bukannya mas baru pulang ya jadi capek kita di rumah saja" ujar Dinda.


"Tidak sayang, memang awalnya mas sangat capek tapi setelah ketemu dengan kamu dan anak-anak lelah mas langsung hilang, kalian obat penawar rindu mas hehehe"


Kami berdua mandi bersama sebenarnya aku ingin menyentuh Dinda tapi aku bilang sama si joni jangan dulu soalnya kami mau keluar sebentar, untung si joni pengertian jadi dia tidal berulah, acara mandi kali ini tidak dengan aktifitas lain hanya mando saja.


Hampir tiga puluh menit kami di dalam kamar mandi akhirnya selesai juga, aku mengendong Dinda dari kamar mandi ala. Bridal style dan mendudukan di atas kursi aku membuka lemari dan mengeluarkan gaun cantik dan sepatu yang sudah aku beli dari luar kota, aku sengaja tidak memberitahu Dinda biar aku berikan kejutan.


"Sayang...setelah selesai dandan pakek gaun dan sepatu ini ya, mas beli dari luar kota untuk mu dan ini untuk Grey dan Gretta saya cantikkan." ujarkun.


Dinda membuka paper bag dan membulatkan matanya dengan sempurna sembari berkata lirih" Wah..mas cantik sekali mas pintar sekali memilih gaunnya, pakian Grey dan Gretta juga bagus dan unik punya Gretta mas, makasih lo mas gaunnya keren walaupun banyak sekali gaun Dinda yang cantik-cantik didalan lemari tapi tetap saja pilihan suamiku yang paling terbaik. Lihat deh sepatunya juga pas banget mas cantik sesuai dengan bajunya untung ada tas Dinda juga sama kayak ini jadi bisa senada."


"Sama-sama sayang dan makasih ya karena kamu suka dengan pilihan mas, ada juga tas di paper bag yang satu lagi jadi untuk apa sayang mau pakek tas yang lama itu mas sudah belikan semuanya" ujarku Dinda langsung memeluk ku dan mrngucapkan terimah kasih.


Aku menyuruh Dinda memakai gaun itu untuk pergi dinnar.


Kami keluar dari pintu kamar dan turun kebawah tapi tidak ada orang sama sekali sehingga Dinda bertanya kemana semua orang, aku juga tidak tahu jawabku.


"Maa tumben tidak ada ayah dan ibu disini biasanya jam segini ibu ada duduk santai disini, keman juga semua orang kok sepih banget mas" tanya Dinda.


"Entahlah sayang mas juga tidak tahu, yuk tidak usa puaing mungkin mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing."

__ADS_1


Aku menuntun Dinda keluar dari rumah ternyata asisten Arfan sudah menunggu di luar, dan langsung membuka pintu dan kami keluar dari gerbang menuju ke jalan raya.


__ADS_2