Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
37:37


__ADS_3

Aku melihat binar mata terpancar di wajah istriku ini yang aku suka, semenjak aku menikah dengannya dan tinggal di keluarga Winata aku tidak perna melihat senyum bahagia diwajahnya. Yang selalu aku lihat adalah hanya ada kesedihan dan tekanan yang selalu dia tunjukan.


"Mas, aku tidak butuh semua ini, aku hanya butuh kasih sayang dari kamu dan keluarga mas. Tapi saat ini semuanya itu sudah aku dapatkan jadi tidak perlu mas kasih apa-apa sama aku, ibu dan ayah sangat menyayangiku mas coba ayah Evan masih ada pasti dia bahagia melihat anaknya bahagia, tapi aku yakin mas saat ini ayah sudah bahagia disurga karena melihat aku bahagia disini"


Kenapa setiap kali Dinda mengingat ayah mertua selalu meneteskan air mata, karena memang hanya ayah mertua yang selalu menyayamginya.


"Sayang ini perinta dari ayah dan ibu jadi kamu harus mengambil atm ini, besok kamu pergi ke mall dan disana ada toko emas langanan ibu. Nanti sebelum mas kekantor mas antar kamu kesana kamu beli kalung dan cincin yang kamu suka tidak masalah kalau habis uang yang ada di atm itu, nanti tinggal bilang mas tranfer. Tunjukan pada keluarga Winata jika aku bisa membahagiakan kamu sayang karena nanti kamu akan pergi ke arisan jadi degarkanlah suami kamu sayang"


"Memangnya besok mas sudah masuk kerja Sebagai apa mas"?


"Iya besok mas sudah masuk kerja senentara waktu mas menyamar jadi OB sayang"


"Hahaha...astaga mas, bikin katawa aja deh...nanti mas dihina lagi sama manusia kurang ajar itu"


"Ini tidak lama kok sayang kamu tenang aja, mas hanya mau berikan pelajaran untuk mereka karena mas dengar kabar dari pak Erik, jika Lekza dan Kenedy ngajuin proposal untuk dana kampaye sekitar tiga miliyar. Mereka minta dukungan dari kita sayang jadi ini kesempatan besar untuk menghancurkan mereka dan perusahaan Winata grup akan segerah menjadi milikmu sayang. Karena memang di surat wasiat ada tertulis nama kamu"


Perkataanku berhasil membuat Dinda terkejut dia tidak percaya dengan semua yang aku sampaikan dia pikir aku hanya bercanda.


"Jangan bercanda mas, jelas-jelas disitu tidak tertulis namaku, dari mana ceritanya nama aku ada tidak mungkin pengacara ayah bohongkan."


"Hahaha kenapa tidak mungkin sayang. Ingat sayang segala sesuatu bisa dia lakukan, pengacara ayah itu sudah diancam dan di bayar, sehingga dia memalsukan surat wasiat itu, padahal surat wasiat asli masih ada pokoknya sekarang kamu tenang aja sayang mas dan pak Erik yang mengurus semuanya."

__ADS_1


"Memangnya mas sanggup melakukan semua itu."


"Hahaah jangan kamu meremekan kehebatan suami kamu ini sayang, mas bisa lakukan apapun demi kebahagiaan kamu"


Pada akhirnya Dinda hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya keluar.


Setelah kami berdua selesai ganti pakian dan bersiap mau tidur tiba-tiba pintu di kamarku di ketuk dari luar, aduh...siapa lagi yang usil ini kita mau istirahat mala ada penganggu.


Aku gegas bangkit dari tenpat tidur dan hendak membuka pintu, astaga aku yang dibikin syok hahaha pas pintu terbuka ada empat orang gadis cantik dengan mata berbinar-binar berdiri tepat debelakang pintu.


Yang sialnya aku baru saja buka pintu tanpa aba-aba mereka berempat menerobos masuk kedalam kamar dan langsung naik keatas tempat tidurku.


Dua di sebelah kiri Dinda sedangkan dua lagi di sebelah kanan Dinda mereka ampit Dinda di tengah-tengah aduh apes banget hidupku punya sepupu dan ponakan cewek ini ribet.


"Yuk tidur kita kak jangan pedulikan kak Dava palingan nanti pergi ngadu sama ibu. Maaf ya kak Dava ganteng kami pinjam kak Dinda sebentar ya kalau kak mau tidur kak boleh pinda sementar waktu di kamar sebelah."


Aku yang mendengar perkataan sepupuku hanya gelengkan kepala boca ini memang keterlaluan usilnya. Tapi aku sangat bahagia mereka cepat akrab dengan Dinda karena aku tahu sifat keempat boca ini, mereka tidak semuda itu menerima orang baru dalam hidup mereka.


Tapi kali ini aku melihat kesukaan mereka terhadap Dinda jadi biarlah aku mengalah, aku biarkan mereka berlima istirahat sedangkan aku dengan lemas melangkah keluar dari kamar dan turun kebawah, ternyata semua keluarga besar masih ngumpul di ruang tengah sambil ngobrol. Sedangkan sepupu dan keponakan laki-laki sekitar enam orang mereka asyik main game.


Pas mereka semua melihat aku turun bukannya kasihan tapi justru mereka tertawa termasuk sepupu dan keponakanku. Aku yakin mereka pasti tahu kalau keempat boca itu naik ke atas tidak mungkin mereka tidak tahu.

__ADS_1


"Loh nak bukannya kamu bilang mau istirahat kenapa kamu turun dengan kondisi lemas begini. Apa yang terjadi" tanya ibu pura-pura tidak tahu sedangkan yang lain terkekeh.


" Gama tahu kenapa kak Dava turun pasti sih Ririn dengan rombongannya sudah recokin kamar kak Dava hahah apes banget hidupmu kak"


Sial..nih Gama tebakannya tepat sekali ini justru tertawa lagi sue deh...namun bukan hanya Gama yang tertawa tapi semua yang ada di ruangan itu ikut tertawa melihat penderitaanku, padahal mereka tidak tahu kalau mukamu sudah kutekuk begini.


"Sabar nak itu cobaan, kamukan tahu sendiri usilan adik-adik kamu ya, kamu harus maklum lagian ini juga masih siang loh. Nanti malam baru bagian haaha"


Astaga bibik...bibik makin bikin panas kuping aja hahaha.


"Nak biarkan saja mereka istirahat karena Dinda juga mungkin kecapean waktu dirumah sakit sepertinya kurang istirahat, jadi biarkan saja mereka istirahat kalau kamu mau istirahat masih banyak kamar kosong nak, takutnya Ririn dan adik-adiknya tidur disitu sampai besok pagi gimana haahha"


Ya ampun ayah juga bukannya membelah anaknya yang malang ini, justru membela keempat boca tengil itu mereka merebut hakku.


"Mas jangan gitulah lihat wajah putramu sudah seperti kepiting rebus mera merona, mas kayak tidak perna muda aja haha...paham sedikitlah mas" ujar paman Juna


Memang keluargaku tidak ada yang beres heheh....suka sekali jailin orang, apalagi jika ada yang baru nikah habis di jailin tapi jujur aku suka dan aku bahagia memiliki keluarga yang penuh dengan kebahagiaan.


Dalam keluarga kami, kekeluargaan itu lebih utama dibandingkan harta dan kekayaan, walaupun kami semua keluarga besar terbilang bukan orang sembarangan, tapi para anak cucu semua diajarkan untuk tetap menghargai dan menghormati orang yang lebih tua baik itu orang tidak punya maupun orang yang punya kekayaan.


Kami juga diajarkan untuk tidak sombong apalagi membangakan diri didepan orang lain , itu bukan tipe dan ajaran keluarga besar kami, makanya waktu pertama kali aku ketemu dengan keluarga besar istriku aku kanget dengan semua kelakukan mereka.

__ADS_1


Yang congkak dan suka sekali menghina dan merendahkan orang yang menurut mereka tidak pantas di hargai. Aku banyak belajar dari kehidupan keluargaku, aku selalu belajar menghargai orang walaupun aku tidak perna dihargai karena itu adalah pesan dari ayah.


Jangan pernah berharap untuk orang lain menghormatimu, tunjukan ke orang yang menghina kamu bahwa kamu adalah anak yang memiliki sopan santun yang tidak bisa di miliki oleh orang lain itu suatu nilai yang baik untukmu.


__ADS_2