
Pada saat aku masuk semua mata tertuju padaku istriku langsung bangkit dari duduknya dan menghampiriku, dan langsung mencuim punggung tanganku.
"Enak ya kalau pulang kerja begini disambut oleh istri cantik rasanya mau terbang planet ke tujuh" celetuk Gama.
Astaga anak ini kadang suka mancing-mancing lah padahal umurnya sudah dua puluh tahu tapi heran deh kenapa tidak punya pacar.
"Makanya Gam cari istri dong sudah cocok tuh, biar kalau nanti kamu pulang kerja disambut hahaa"
"Ah...kak Dava mah suka ngejek deh...tidak ada yang mau kak sama Gama cewek sekarang mah tidak serius dalam hubungan, mereka pada matre semua, mereka mau dengan kita karena memandang harta bukan karena tulus mencinta kita" tutur Gama
"Ya jelas tidak ada lah yang mau sama kak, tanpan sih iya, tapi cuek begitu siapa yang mau, nanti giliran nikah sama anak gadis orang mala di terlantarin gawat, tapi ada benarnya juga sih banyak perempuan sekarang hanya memandang dari harta" sambung Ririn.
Hmmm mulai lagi mereka berdua tidak pernah akur dua anak ini, selalu saja berdebat dalam hal kecil. Tapi benar juga sih yang di katakan oleh Ririn Gama memang anak yang sangat cuek, jadi mungkin karena hal itu juga tidak ada cewek yang mau dekat dengan nya. Dan Gama juga tidak suka dengan cewek agresif apalagi hanya mau hartanya.
Semua keluarga yang ada tertawa mendengar perdebatan kedua anak itu, tapi aku mengajak istriku masuk kamar karena pengen cepat mandi. Seperti biasa istriku siapkan air hangat untuk mandi dan juga sudah sedikan pakian ganti, aku langsung mandi alasan karena keringat salah satunya juga karena memang baru pulang dari rumah sakit juga jadi aku tidak mau menunggu lama karena kita tidak tahu di rumah sakit itu banyak virus apa yang ada disana.
Karena aku rencana setelah selesai mandi aku ingin bicarakan sesuatu dengan istriku, mengenai ayah mertua, kami mau cari rumah sakit yang menagani ayah mertua pada saat ia kecelakaan.
"Mas air hangatnya sudah sial dan ini aku sudah siapkan pakian ganti untuk mas, mandih gih sana mas..mas baru dari rumah sakitkan nanti selesai kita langsung turun sebentar lagi makan."
"Iya sayang mas mandi dulu ya"
Aku gegas kemar mandi dan langsung merendam diri ini didalam bathtub dengan aroma sabun yang sangat wangi, membuat aku terbuai hampir tiga puluh menit aku mandi akhirnya aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan sengar banget.
Saat aku keluar aku melihat istriku lagi berbaring di atas kasur sambil main hp dan senyum-senyum sendiri, aku penasaran kenapa istriku bisa senyum begitu.
__ADS_1
"Sayang ada apa kok senyum sendiri begitu sepertinya istriku bahagia sekali hari ini."
"Hehehe biasa mas lagi lihat grup arisan temanku pada lucu semua."
"Kamu senang sayang bergabung dengan teman arisan kamu itu, mereka tadi tidak melakukan sesuatu terhadap kamukan sayang"
"Senang bangetlah mas, hari ini mas tahu gak aku ketemu dengan siapa?"
"Gak sayang memang kamu ketemu dengan siapa" tanyaku penasaran.
Pas Aku pergi ke Mall aku ketemu dengan Dea, dan setelah aku sampai di restoran tempat arisan ternyata nyonya Winata juga hadir disana"
"Wah....seru dong sayang, tapi Kamu tidak di apa-apainkan sayang. Mas sudah tahu dari kedua pengawal kamu sayang, mereka melaporkan ke mas kalau tadi nyonya Winata juga disana"
"Hahaha kamu ini ya sayang bisa juga."
Aku sangat bahagia melihat Dinda sebahagia sekarang, karena itu janjiku untuk memberikan apapun yang ia inginkan asal itu yang membuatnya bahagia, setelah selesai aku ganti pakian, kami turun kebawah karena saatnya makan bersama keluarga besar.
Setelah selesai makan malam kami semua berkumpul di ruang tenggah membahas tentang resepsi pernikahan kami, jadi kalau menurut aku satu bulan lagi baru resepsi karena aku masih menunggu pemilihan presiden, aku mau berikan kejutan kepada keluarga Winata hari ini mereka hancur besok aku buat resepsi. Dan setelah aku menjatuhkan Kenedy itu artinya keluarga Winata juga perlahan hancur. Saat ini mereka membangakan Kenedy dan Tahir karena katanya mereka orang kaya yang memiliki jabatan yang tinggi.
"Nak ibu dan ayah sudah sepakat untuk melangsungkan acara resepsi kalian secepatnya, dan juga sekalian perkenalkan kamu ke publik sebagai putra tunggal dan pewaris tunggal Adinata" ujar ibu.
"Iya nak ibu kamu benar dan ayah juga sudah bicara dengan paman dan bibi kamu jadi mereka juga sangat setuju, tinggal kalian berdua yang harus kami minta pendapat dan persetujuan biar ayah meminta Erik mengurus semua."
Sebenarnya aku tidak keberatan jika melangsungkan resepsi secepat mungkin, tapi kalau resepsi duluan dari dari pada pemilihan presiden aku takut keluarga besar tahu dan mereka waspada apalagi kalau merka tahu suami Dinda adalah pewaris tunggal bisa saja mereka datang dan sok baik.
__ADS_1
"Ayah, ibu. Sebenarnya kami berdua memang pengen cepat melangsungkan resepsi tapi kami masih punya agenda lain ayah, tidak perlu aku jelaskan ke ayah karena ayah sudah tahu maksud aku"
"Hahah...nak kamu kayak tidak mengenal ayahmu apa yang tidak bisa ayah lakukan hanya saja ayah tidak suka main curang dalam hal apapun, tapi kalau soal ini ayah yang akan turun tangan untuk membalaskan semua perbuatan mereka terhadap kalian jadi sekarang kamu nak dan putry ayah kalian tenang saja."
"Soal menyelidiki kematian ayah mertua kamu, kamu tenang aja sekarang ayah sudah menyelidikinya kita hanya tunggu hasilnya dari orang suruhan ayah, karena ayah kasihan dengan Erik lagi sibuk sekali urusin perusahaan dan yang lain. Jadi kalo ini biar ayah yang turun tangan."
"Jadi maksud ayah Dava tidak perlu risaukan masalah ini karena ayah sendiri yang melakukaknya begitu kah maksud ayah."
"Nah benar sekali nak, soal kerja sama perusahaan Winata grup kamu juga tenang karena ayah sudah mengirim orang masuk ke perusahaan itu, jadi tidak lama lagi perusahaan itu akan jatuh, ayah pastikan semua aset yang mereka miliki akan jatuh ke tangan Dinda"
"Makasih banyak ayah...makasih banyak, ayah dan ibu sudah menerima Dinda disini sebagai putry ayah dan ibu" ujar Dinda.
Aku melihat mata Dinda berkaca-kaca, mungkin karena ia sangat terharu dengan kebaikan ayah dan ibu kepadanya.
"Tidak perlu berterimah kasih nak karena ini sudah menjadi tanggung jawab ayah untuk melindungi kalian, kecuwali ayah sudah tidak ada baru kalian bisa berusaha sendiri"
Awalnya aku sangat ragu untuk melangsungkan acara resepsi aku dan Dinda, namun setelah aku mendengar perkataan Ayah aku setuju jika resepsi di lasungkan secepatnya saja yaitu dua minggu lagi acara resepsi akan berlangsung.
Dan kami juga sepakat untuk tidak mengundang keluarga Winata karena memang mereka bukan siapa-siapanya Dinda lagi, Dinda sudah putus hubungan dengan mereka dan sekarang tidak perlu menghormati mereka untuk apa juga.
Aku setuju saja dengan keputusan ayah dan ibu sedangkan Dinda juga sama sekali tidak keberatan jika kami membuat acara secepatnnya.
"Bagaimana nak, kamu setujuh tidak dengan keputusan ayah dan ibu" tanya ayah pada Dinda.
"Dinda setujuh saja ayah."
__ADS_1