
Setelah pak Sammy mengusir ketiga orang itu, Dea dan Tahir terus bibi Lya dan paman Gibran keluarkam mobil meraka dan keluar dari halaman rumah, setelah mobil keluar Lexza dan meminta Dea untuk meninggalkan mobilnya biar mereka bertiga bisa mengunakan mobil itu namun Dea sama sekali tidak mengindahkan permintaan mereka.
"Dea, tolong ibu nak tinggalkan mobil kamu untuk ibu dan Lexza biar kalian pakek mobil Tahir saja, kalau tidak mobil Tahir yang tinggal jangan kalian bawah semua tidak mungkin kami pergi cari kontrakan naik taksi malu sama orang Dea. kamu tidak setega itukan sama ibu tolong Dea dengarkan ibu. Tahir tinggalkan mobil kamu untuk ibu" bu Anjani memukul-mukul kaca mobil agar kaca mobil Tahir dan Dea bisa di buka tapi sayangnya Dea dan Tahit justru senyum melihat bu Anjani dan Lexza menderita.
"Maaf ya bu, Dea tidak bisa meninggalkan mobil ini karena mobil pemberian dari ayah jadi sangat berharga bagi Dea, begitu juga mobil mas Tahir itu hasil keringat mas Tahir sendiri, jadi mana mungkin mas Tahir tinggalkan begitu saja dan di pakek oleh kalian, selamat menikmati hidup menjadi gembel di luar sana ya Lexza biar kamu tahu bagaimana hidup menjadi rakyat jelata yang kamu maksud."
"Kamu keterlaluan Dea hanya meminta mobil saja kamu tidak berikan padahal uang yang pakek di beli mobil kamu itu adalah uang mas Evan suamiku kamu jadi orang serakah banget sih."
"Hahaha bu sadar woi!..harta itu juga punya aku dan Dinda tapi ibu saja yang serakah dan tamak, makanya semua harta itu ludes tidak tersisah jadi tidak perlu membicarakan itu dengan Dea karena Dea mau pergi ke rumah baru dan tidur nyenyak disana selamat menikmati penderitaan"
"Dea ibu ikut ya tinggal sama kamu, ibu tidak tahu harus kemana jadi kami ikut ya sama kalian tinggal di tempat kamu saja memangnya kamu tinggal dimana"? Tanya bu Anjani.
"Maaf ya bu Dea tidak mau ada keributan di rumah baru Dea cukup disini saja yang selalu ada keributan baik siang mau pun malam, Dea pusing jadi sekarang Dea tidak mau ada orang tinggal dirumah Dea jadi tolong ibu dan putry kesayangan ibu cari tempat barusaja." Setelah selasai bicara Dea menghidupkan mobil dan berlalu pergi meninggalkan ketiga orang itu bersama dengan pak Sammy dan kedua temannya bahkan para tetangga juga masih ada.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan Dea, anak tidak punya hati nurani kamu memperlakukan ibu seperti ini, kamu kualat nanti karena tidak mau menolong ibu kamu sendiri "
"Bu sekarang kita harus kemana lagi, kita tidak punya tempat tinggal jadi apa yang harus kita lakukan bu sih Dea keterlaluan bu, cobak kalau dia tidak mau membawah kita kerumahnya dia antar kita ke rumah Dinda biar kita tinggal sama Dinda disana, hidup kita pasti terjamin ini justru dengan tidak punya rasa iba sama sekali dia pergi begitu saja"
Bu Anjani hanya diam saja menunduk kepala rasanya sangat berat sekali bu Anjani mengangkat kepalanya hanya sekeder melihat samping kiri kanan. Kali ini bu Anjani benar-benar di permalukan di depan banyak orang dulu seorang bu Anjani berjalan sambil mengangkat wajah dengan keangkuhannya dan tidak tahu menghargai orang lain sama sekali, sekarang hanya menunduk malu tadi bu Anjani masih sempat mengusir para tetangga untuk pergi tapi sekarang hanya diam membisu sambil menunduk kepala.
"Aku harus cari kontrakan untuk nanti malam kami pakek untuk istirahat nanti besok aku harus cari tahu dimana rumah Dinda dan aku datang kesana untuk meminta besan berikan aku rumah. Kareba kebetulan besok hari weekend jadi pasti semuanua dirumah.
Mirip banget kayak mas Evan tapi apa mungkin itu mas Evan? sedangkan dia sudah meninggal?! aku merasa penyitaan semua aset ini ada permainan, atau bosa jadi mas Evan masoh hidup jadi dia sengaja bersembunyi dan menyita semya aset ini.
Ah tidak mungkin aku hanya halusinasi aja karena banyak masalah datang silih berganti jadi aku ingat kembali mas Evan, aku jadi nyesal membunuhnya tiba-tiba aku berharap mas Evan kembali hidup dan datang menolongku, karena selama aku menikah dengan mas Evan dia tidak perna berikan aku beban justru setiap masalah mas Evan yang selalu menyelesaikan dengan baik"
Penyesalan selalu datang terlambat itu yang cocok di katakan buat bu Anjani, saat dalam kehidupan tersempit barulah ingat Tuan Evan tapi saat hidup senang dengan bu Anjani main serong sekarang nasi sudah jadi bubur.
__ADS_1
Karena bu Anjani diam di tempat dan lagi melamun tiba-tiba Lexza mengangetkannya sambil memukul lengan bu Anjani sehingga membuat bu Anjani kanget.
"Ibu ngapain sih melamun terus dari tadi bukannya cari solusi bagaimana caranya supaya kita bisa dapat tempat tinggal justru ibu diam saja disitu bikin kesal aja deh." ujar Lexza
Bu Anjani menatap tajam ke arah Lexza sembari berkata" he Lexza apa gunanya ada suami kamu disini dia kan laki-laki suruh ke dia cari tempat tinggal, dimana biar kita bisa tidur tahan jangan bengong aja disitu kayak orang bodoh, dari tadi bukannya lakukan sesuatu mala diam saja dasar tidak berguna.
"He...bu jangan asal bicara deh aku saja bingung mau cari tempat tinggal dimana, kalau cari sih gampang tapi memangnya ada uang, kalau ada yok kita pergi cari bersama biar kalau dapat ya langsung masuk kedalam dari pada tetap disini jadi tontonan orang, kita tetap disini juga tidak ada untungnya pihak bank juga sudah pergi tidak mungkin aku merusak gerbangnya kan untuk ambil mobil, jadi kita naik tqksi aja biar aku yang pesan."
Karena Kenedy tidak mau berdebat dengan bu Anjani jadi Kenedi bicara setenang mungkin menjawab hinaan bu Anjani.
"Memangnya kita harus cari kemana mas masa kita naik taksi sih ah...ogah tidak perna sejarah Lexza naik taksi jadi Lexza tidak mau pergi lebih baik mas pergi sendiri saja cari taksi dan kontrakan kalau sudah dapat baru dapat jemput kami"
"Sayang kamu bicara apa sih kamu pikir bolak-balik dengan taksi itu tidak makan ongkor jangan ane-ane sayang srkarang kita jatuh setajuh mungkin jadi jangan bertingkah ane sayang kalau sayang tidak mau ikut tidak apa-apa tapi mas tidak akan kembali kesini untuk menjemput.
__ADS_1