
Dinda awalnya mengajakku untuk melihat kedua anakku di kamar, tapi setelah itu justru Dinda menyuruhku untuk pergi menyapah teman bisnis yang datang, sebenarnya aku ingin kami berdua hanya saja aku tidak mau istriku kecapean karena banyak tamu yang datang jadi harus menyambut mereka semua, sebenarnya selain aku dan ayah ada Gama dan juga Rafa bahkan ayah mertua dan mas Tahir juga hadir jadi mereka lagi asyik menyapa para tamu undangan dan teman bisnis.
"Sayang memangnya tidak apa-apa mas keluar untuk menyapah tamu undangan sedangkan sayang sendiri pergi cek sih kembar Grey dan Gretta." Tanyaku.
"Tidak masalah mas lagian Dinda sama Elsa kok, kita hanya cek mereka aja sedangkan banyak tamu undangan yang sudah berdatangan mas, banyak juga teman bisnis ayah dan mas datang tuh jadi mas harus menyapah mereka. Nanti setelah Dinda dari kamar Dinda akan keluar untuk menyapah mereka juga" ujarku
"Tidak perlu sayang lebih baik sayang disini saja tidak perlu keluar nanti kamu kecapean sayang," ujarku melarang Dinda keluar padahal tadi aku juga mengiginkan dia keluar untuk menyapah para tamu tapi sudahlah banyak pria mata keranjang di luaran sana aku tidak mau mereka mengangumi istriku. Kok aku jadi posesif begini sih.
"Kakak Dava keluar aja biar nanti Ririn dan Elsa temani kakak ipar, tidak perlu risau karena tidak akan ada yang menganggu kakak ipar disini apalagi mengodahnya, Ririn bisa membacah pikiran kakak Dava hahaha" ujar Ririn mengundang tawa sedangkan aku kayak maling yang tertangkap basah.
"Ma..mana ada, aku hanya kuatir saja dengan kondisi istriku makanya aku tidak ingin Dinda keluar biar istirahat di kamar saja" ujarku malu karena Ririn anak ini bisa membaca pikiranku.
__ADS_1
Saat kami sedang asyik berbicara, Gama tiba-tiba masuk dan membisikan sesuatu ke telingaku membuat aku terkejut, karena perasaan aku tidak memgundang orang itu. Mau apa dia datang lagi kesini orang tidak punya malu, waktu aku konferensi pers sudah aku katakan jika aku diam lebih baik jangan korek apalagi cari masalah karena aku satu orang tidak lari dari orang jika aku merasa aku tidak melakukan kesalahan.
Mereka sendiri yang ingin mencari masalah jadi biar aku menghadapi mereka, waktu di depan awak media aku rencana ingin memghancurkan mereka hanya saja kalau hancurkan mereka sekarang tidak seru jadi tunggu dulu. Masih punya muka mereka datang juga.
"Kakak Dava om Angga dan putrynya datang, hanya saja sang istri justru tidak datang Gama heran setebal apa muka mereka sehingga mereka kembali datang untuk mengucapkan selamat kepada kakak ipar. Tapi karena paman dan ayah Winata tidak ada satu pun yang datang menghampirinya sehingga dia diam saja dengan putrynya. Tapi putrynya sudah mulai ancang-ancang ingin ketemu dengan kakak ipar, tadi Gama dengar Aisya bertanya salah satu pelayan di luat tapi untung pelayan tidak memberitahukannya" ujar Gama seketika Dinda dan Ririn membulatkan mata mereka dengan sempurna.
Parcuma Gama berbisik di telinga karena kedengaran juga kalau Elsa diam saja dia santai karena Elsa tidak tahu apa-apa.
Jadi kenapa Dinda begitu marah karena hampir sedikit kami kembali kecolongan, karena aku lupa memberitahu pengawal baru kalau Aisya datang jangan biarkan dia masuk, ternyata Aisya licik jadi dia berubah penampilan dia pakek wik dan juga kaca mata jadi tidak seorang pengawal pun yang mengenalnya. Saat Aisya datang ia mengaku temannya Dinda sedangkan aku tidak ada di rumah sakit , ada sedikit masalah di perusahaan jadi aku dengan pak Erik mengurusnya. Saat Aisya masuk ternyata Dinda barj selesai minum obat jadi dia tertidur.
Aisya hendak mengambil bantal dan ingin membekap Dinda suster masuk dan langsung mengusir Aisya keluar. Karena Aisya takut akhirnya Aisya langsung gegas pergi sebelum suster melapor pengawal, hal itu yang membuat Dinda marah besar tapi kali ini aku harus mencengah Dinda takutnya Dinda nekat membunuhnya.
__ADS_1
"Sayang sabar! Ingat anak kita masih kecil Grey dan Gretta, saat ini jangan melakukan pembunuham dulu pokoknya kali ini mas tidak mengijinkan sayang maafkan mas, sekarang masuk lah ke kamar Elsa, Ririn tolong bawah kakak ipar ke kamar, kakak dangan Gama mau keluar dulu. Kalian jangain kakak ipar di kamar ya, yuk Gama kita keluar."
Aku dengan Gama langsung keluar ternyata kedua manusia iblis itu duduk sambil asyik ngobrol dengan beberapa tamu undangan entah apa yang mereka bicarakan sepertinya seru, sampai mereka tertawa terbahak-bahak begitu.
Saat aku melangkah mendekati dan mereka melihat kedatangan aku tawa mereka seketik terhenti, dan om Angga langsung bangun dan salaman dengan ku begitu juga Aisya yang hendak memeluk aku dan mencium aku tapi aku langsung menghindar jadi dia tidak sempat menyentuh aku, hal itu membuat Aisya seketika matanya merah merona karena malu di saksikan banyak orang.
"Nona Aisya sopan ya, jangan sembarang memeluk saya karena kita berdua bukan muhrim, dan kalau istri ku melihat takut salah paham, oh ya om Angga dan nona Aisya makasih atas kehadirannya walaupun kami memang sengaja tidak mengundang om Angga, tapi kok bisa om Angga tahu dari mana ya kalau acara kepulangan Dinda di laksanakan hari ini"?
"Ah Dav..kamu membuat ku malu aja padahal sebentar lagi juga kita akan segerah menikah, ingat Dav aku bisa berikan anak lebih dari yang dua itu, dan soal kami tahu dari mana itu hal yang muda Dav biarpun kamu tidak mengundang kami tidak masalah kan ayah kita kerabat bukan? Dan sebentar lagi mereka akan berbesan"
"Hahaha nona Aisya kepedean sangat tinggi, ingat nona Aisya aku menikah dengan perempuan itu berkelas dan bukan rendahan dari satu pria ke pria lainbiarkan menjamah tubuhnya, sudah bekas banyak pria jadi aku jijik jangankan aku yang jijik ibarat buang ikan busuk ke An***ng belum tentu an**ng memakannya karena dia tahu itu sudah barang rusak, begitu juga kamu nona Aisya! jangan nona pikir aku tidak tahu seluk beluk anda aku tahu semua tapi aku diam saja, tapi jika kamu ingin aku membongkar semua itu lebih baik" ujarku
__ADS_1
Aku bisa melihat amarah di dalam hatinya, sehingga Aisya menatap tajam ke arah aku.