
Ayah dan ibu tiba-tiba muncul ternyata yang datang bukan hanya ibu tapi juga Ririn sudah pulang dari kantor jadi langsung ke rumah sakit, bahaya kalau Ririn sudah datang kalau menyangkut kakak ipar dan ponakannya Ririn garda terdepan. Ririn sangat sensitif dia paling benci orang yang suka menganggu kehidupan orang lain.
Aisya yang mendengar suara ayah langsung berhenti memberontak dan menoleh ke arah ayah, Aisya terkejut melihat kedatangan ibu, ayah dan Ririn. Kalau Gama dari tadi masih didalam ruangan tidak keluar karena memang aku sengaja menyuruh Gama untuk berjaga didalam supaya Dinda tidak curiga. Saat Dinda keluar dari kamar mandi Gama bisa berikan alasan agar Dinda tidak curiga karena Dinda sakit.
"Om, tante? " ujar Aisya hendak mencium pungung tangan ayah dan ibu hanya saja ibu tidak mau hanya ayah saja ibu benar-benar tidak suka melihat Aisya ada disini. Jangankan salam menyapah Aisya aja ibu tidak sudih mungkin karena ibu sudaj benar-benar muak melihat Aisya.
"Nona Aisya anda ngapain disini? Bukankah ini adalah jam kerja apakah ayah atau ibu kamu ada sakit atau keluarga sakit disini? Sangat kebetulan sekali kita ketemu?" tanya ibu.
"E...eh....ini tante, tidak ada keluarga yang sakit disini tapi Aisya kesini karena datang menemani Dava tante, om. Karena Aisya tahu Dava pasti butuh hiburan tidak masalah kan om Aisya disini, Aisya tahu Dava pasti kesepian maka itu Aisya datang untuk menemaninya tante om. " ujar Aisya sumbringan dia pikir ayah dengan senang hati menyetujui permintaannya.
"Lah...memangnya kamu pikir kakak Dava tidak punya istri jadi membutuhkan teman, he...dengarnya aku tahu alasan murahan mu itu kamu kesini untuk mengodah kakak Dava kan? Lebih baik kamu pulang deh karena tidak ada yang membutuhkan kamu disini, kamu selain tidak punya urat malu kamu juga sangat pede sekali bicara begitu." ujar Ririn.
Ririn tidak pake menunggu lama lagi dia langsung memberikan jawaban menohon kepada Aisya membuat Aisya langsung diam.
__ADS_1
"Nona Aisya, kamu tidak perlu kuatirkan Dava karena Dava tidak membutuhkan hiburan apapun apalagi itu dari kamu nona Aisya! Dava sudah punya hiburan tersendiri jadi pulanglah jangan menganggu Dava dan keluarganya, karena saya tidak mau putry saya Dinda salah paham karena kehadiran nona Aisya disini jadi hilang sukacita kami semua." Ujar ayah seketika wajah Aisya berubah menjadi murung membuat Ririn tersenyum.
"Iya benar nona Aisya saya setujuh dengan suami saya, sekarang saya minta nona Aisya pergi dari sini dan jangan nganggu putra saya. Karena putra saya sekarang sudah bahagia dengan istri dan anaknya jadi jangan mengacaukan kebahagiaan mereka nona Aisya adalah gadis yang berkelas jadi berperilakuhnya sesuai dengan kualitas nona Aisya jangan membuat dirimu seperti gadis rendahan." Sambung ibu.
"Om, tante maaf. Aisya memang wanita berkelas dan memiliki harga diri memangnya salah jika Aisya datang kesini untuk bertemu dengan Dav, om tante. Aisya adalah calon istri Dava Om, tante."
Memang Aisya tidak punya urat malu sudah berulang kali ayah dan ibu jelaskan juga sama saja tidak ada gunanya. Sekarang giliran Ririn yang maju bukannya ayah dan ibu tidak bisa mengusir Aisya tapi mereka masih lihat situasi.
Aku sudah capek dengan semua perdebatan dan aku juga sudah lama diluar jadi pasti Dinda menunggu ku didalam, aku lebih baik mengusir perempuam ini dari sini dari pada masalah makin rumit.
"Pengawal seret dia pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi" ujarku menyuruh pengawal mengusir perempuan itu.
"Om, tante. Aisya tidak mau pulang tolong....Dava kamu tega sekali mengusir aku ingat Dav kamu akan menyesal, jangan kamu pikir setelah kamu mengusirku aku akan diam begitu saja, aku tidak akan diam. Lepaskan tanganku aku bisa jalan sendiri " bentak Aisya dan langsung berlalu pergi.
__ADS_1
Aku langsung masuk kedalam ruangan ternyata Dinda sudah selesai di lap dan sudah rapi sedangkan Gama masih setia dengan kedua kembar, untung ada sofa juga disitu jadi dia asyik foto mereka tapi aku tidak ingin publik melihat wajah kembar kedua anakku.
Entah siapa yang menyebarkan berita tentang kelahiran baby twins sehingga banyak wartawan berdatangan ke rumah sakit, mungkin mereka baru mengetahui sehingga dari kemarin tidak ada yang datang, tapi setelah Aisya pergi barulah semua wartawan berbondong-bondong mendatangi rumah sakit padahal aku baru saja masuk kedalam ruangan sudah datang seorang pengawal melaporkam kalau banyak wartawan mendesak untuk masuk kedalam rumah sakit.
"Tuan besar, Tuan muda maaf jika saya lancang tapi diluar banyak wartawan yang datang, mereka ingin mengetahui apakah benar nona muda sudah melahirkan dan apa jenis kelamin bayinya" ujar pengawal.
Aku langsung menyuruh ayah untuk bertemu dengan wartawan, tapi ayah justru menyuruhku kata ayah yang berhak berbicara dengan wartawan itu aku bukan ayah, karena aku adalah ayah dari kedua anak ku. Tapi ayah pesan jangan perna menunjukan wajah kedua anakku dan jangan memberitahukan nama mereka cukup mereka tahu jenis kelamin mereka saja.
"Ayah...ketemu dengan wartawan dulu biar Dava disini aja menjaga Dinda, tapi siapa ya yang membocorkan berita ini perasaan tidak ada orang lain yang tahu selain pihak rumah sakit kok bisa, atau jangan-jangan om Angga yang membocorkan dasar om Angga mau cari masalah." Ujarku.
"Nak...tidak mungkin ayah yang datang bertemu dengan wartawan sebenarnya bisa aja ayah datang hanya saja lebih tepatnya itu kamu yang bertemu dengan wartawan nak karena kamu adalah ayah dari kedua baby twins. Kalau soal siapa yang membocorkan semua berita ini tidak perlu risaukan karena mungkin ada oknum yang sengaja melakukan itu, karena mereka ingin mengambil ke untungan dari berita ini, mereka ingin memaanfaatkan berita tentang kelahiran kedua bayi kembar untuk mencari nama." Jelas ayah.
Akhirnya aku meminta ijin kepada Dinda dan aku gegas keluar untuk bertemu dengan wartawan, saat aku sampai di loby ya ampun, bukan hanya beberapa orang saja melainkan banyak sekali wartawan yang datang bahkan pengawal sudah kewalahan menahan wartawan.
__ADS_1